Jumat, 03 Februari 2023


 

Menulis semudah telor ceplok merupakan materi ke-12 Pelatihan Belajar Menulis PGRI Gelombang Ke- 27. Bertindak sebagai moderator adalah Bu Widya Setianingsih dan sebagai moderator adalah Bu Lilis Eka Herpianti Sutikno; seorang kepala sekolah SMP yang aktif dalam dunia literasi di NTT (Nusa Tenggara Timur).

Bertempat tinggal di kota Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur, Bu Lilis Sutikno aktif dalam menggerakan  orang-orang di sekitarnya untuk bergelut dalam dunia literasi. Beliau pun menggagas pemberantasan buta huruf di lingkungan tempat tinggalnya, sehingga saat ini di daerah tempat tinggalnya bias dikatakan terbebas dari buta huruf. Dalam dunia literasi beliau aktif berkecimpung dalam organisasi guru penulis yang disebut AGUPENA (Asosiasi Guru Pemulis Indonesia), dan sering menjadi Narasumber pada pelatihan menulis yang diselenggarakan oleh AGUPENA. Selama aktif dalam dunia literasi beliau telah menghasilkan buku solo sebanyak 4 buah dan buku antologi sebanyak 10 buah. Beliau pun pernah menjadi penulis di majalah yang diterbitkan oleh Kemdikbud. Selain aktif dalam dunia literasi secara langsung beliau pun saat ini aktif di belakang layar yaitu menjadi editor buku. Sampai saat ini telah puluhan yang telah sukses dieditori oleh beliau.

Pertemuan kali ini di awali dengan pemberian semangat dari Bu Lilis kepada semua peserta pelatihan. Bu Lilis menceritakan bahwa dulu ayam tepung goreng (fried chicken) tidak laku; sangat sedikit yang menyukai, mungkin karena tampilannya dan rasanya yang aneh tidak seperti masakan olahan ayam lainnya. Ketidaklakuan ayam tepung goreng ini tidak menyebabkan penjual pertamanya putus asa beliau tetap berdagang dan mencoba terus mengenalkannya kepada masyarakat. Akhirnya perjuangan pedagang tersebut berhasil karena ayam tepung gorengnya laku keras sehingga dia berhasil mendirikan banyak outlet ayam tepung goreng di negaranya. Saking lakunya ayam tepung goreng banyak yang meniru dan pedagang tersebut berdagang ayam tepung goreng, dan  bahkan dia berhasil membuat outlet di ratusan negara sampai saat ini. Narasumber melanjutkan bahwa jika buku yang ditulis oleh peserta saat ini jika belum banyak yang menyukai janganlah berputus asa tetapi hal tersebut harus menjadi pemacu agar bagaimana buku yang ditulis disukai oleh pembaca sehingga orang-orang mau membeli dan membaca buku yang kita tulis. Kejadian dan semangat yang dimiliki oleh pedagang ayam tepung goreng tersebut harus menjadi contoh bagi semua peserta pelatihan belajar menulis.

Menulis merupakan keterampilan berbahasa yang paling tinggi karean untuk bias menulis dengan baik seseorang harus menguasai dulu keterampilan berbahasa yang lainnya yaitu mendengarkan berbicara dan membaca. Tidaklah mengherankan kalau saat ini masih banyak orang yang belum bias menulis dengan baik karena mungkin masih belum menguasai dengan baik tiga keterampilan bahasa tadi.

Selain itu untuk bisa menghasilkan tulisan yang baik seorang penulis harus membuat persiapan yang matang sebelum menulis. Persiapan tersebut diantaranya adalah mengumpulkan bahan-bahan untuk ditulis sesuai tema tulisan yang telah ditentukan sebelumnya. Bahan-bahan tulisan bisa diperoleh dengan berbagai cara seperti bisa dengan cara membaca berbagai literature, melakukan pengamatan, bereksperimen, melakukan wawancara, dan sebagainya. Oleh karena itu unuk menghasilkan tulisan yang baik seorang penulis harus melewati proses yang bisa dikatakan tidak mudah.

Lalu, bagaimanakah caranya agar menulis itu mudah semudah membuat telur ceplok. Menurut Bu Lilis cara agar menulis mudah seperti membuat telur ceplok adalah menuliskan pengalaman diri sendiri. Tentu semua orang memiliki pengalaman dan pengalamannya tentu berbeda-beda. Mungkin kita berpikir apa istimewanya pengalaman diri sendiri ditulis? Apakah ada yang mau membaca pengalaman saya?

Ternyata pengalaman diri sendiri yang menurut penilaian sendiri adalah pengalaman yang biasa saja tetapi bagi orang lain pengalaman kita itu bisa sangat menarik dan bisa dijadikan pembelajaran. Sebagai contoh pengalaman  hidup yang kita sangka biasa saja adalah pengalaman hidup seseorang yang dari kecil hingga dewasa tetap tinggal di kampungnya tidak pernah sekalipun merantau ke kota atau daerah lain. Lalu orang ini menuliskan cerita hidupnya dari masa kanak-kanak hingga dewasa yang dihabiskan di kampong halamannya. Ternyata tulisannya banyak yang mau membacanya karena rasa penasaran pembaca mengapa orang tersebut tetap tinggal di desa tanpa pernah mau merantau ke kota atau ke daerah lainnya. Para pembaca penasaran mengapa orang tersebut tidak pernah tergiur dengan kehidupan kota yang glamor. Sedangkan informasi tentang kehidupan kota pasti sangat sering dijumpai oleh orang tersebut karena saat ini kehidupan di desa tidak seperti dulu, saat ini di desa informasi lebih mudah didapatkan oleh warga desa. Dari sini dapat diketahui bahwa sesuatu yang dialami oleh orang lain dan tidak dialami oleh diri sendiri menarik untuk diketahui jalan ceritanya. Oleh karena itu menuliskan pengalaman sendiri merupakan hal menarik bagi orang lain untuk membacanya. Jadi jangan takut tidak ada yang membaca jika kita menuliskan pengalaman sendiri dan menerbitkan dalam bentuk buku atau jenis terbitan lainnya.

Seperti telah disebutkan di atas bahwa menuliskan pengalaman sendiri adalah kegiatan menulis yang mudah semudah membuat telur ceplok. Hal ini karena menuliskan pengalaman tidak memerlukan proses pendahuluan yang rumit sebelumnya. Menuliskan pengalaman akan mengalir begitu saja karena semuanya sudah ada di dalam otak penulisnya. Jari-jari penulis akan dengan lincah menari-nari di atas keyboard laptop atau computer sampai semua pengalaman tercurah habis berubah menjadi tulisan yang utuh. Berbeda jauh dengan menulis jenis karya non fiksi lain atau fiksi yang memerlukan proses pendahulan seperti studi literature, melakukan observasi, wawancara, melakukan eksperimen dan lain sebagainya, sedangkan menuliskan pengalaman tanpa melalui proses yang telah disebutkan tadi sehingga bisa dikatakan bahwa menulis pengalaman termasuk menulis non fiksi yang paling mudah.

Pengalaman yang dialami seseorang tentu berbeda-beda dan terus berubah sepanjang hidupnya. Pengalaman hidup seseorang yang dituliskan dari lahir sampai meninggal atau saat dituliskannya pengalaman orang tersebut disebut biografi (jika dituliskan oleh orang lain, jika dituliskan oleh diri sendiri disebut otobiografi). Menuliskan biografi atau otobiografi tentu memerlukan persiapan dan proses yang panjang sehingga menuliskan biografi atau otobiografi tidak semudah membuat telur ceplok. Yang semudah membuat telur ceplok adalah menuliskan pengalaman-pengalaman tertentu dalam kehidupan kita, contohnya menuliskan pengalaman selama bekerja di Korea Selatan bagi yang pernah bekerja di Korea Selatan, berwisata ke Raja Ampat, dan sebagainya. Menuliskan pengalaman tertentu dalam hidup tentu tidak akan terlalu panjang jika dibandingkan dengan menulis biografi/otobiografi. Menuliskan pengalaman tertentu bisa disesuaikan panjngnya sesuai kebutuhan. Tetapi ada yang harus diperhatikan kalau menuliskan pengalaman yaitu tidak mungkin semua yang terjadi diceritakan secara detail karena akan sangat panjang tulisan kita, dan ada hal-hal tertentu yang dialami yang tidak boleh dituliskan karena alasan melanggar norma susila dan lain sebagainya.

Walaupun menuliskan pengalaman lebih mudah jika dibandingkan dengan menulis hal lain, menulis pengalaman tetap memerlukan persiapan sebelumnya tetapi persiapan ini tidaklah rumit. Adapun proses penulisan pengalaman dari persiapan sampai akhir adalah di bawah ini.

1.     menentukan pengalaman apa yang mau ditulis

Seperti telah disebutkan sebelumnya sepanjang hidupnya seseorang memiliki banyak ragam pengalaman. Orang yang mau menuliskan pengalaman harus menentukan satu jenis saja pengalamannya yang akan ditulis. Pengalaman tersebut harus dipilih yang sekiranya paling menarik atau menginspirasi orang lain yang membacanya. Jika sudah menentuka satu jenis pengalaman langkah selanjutnya adalah menentukan waktu dan banyaknya tulisan,

2.     Tentukan bagian-bagian (fase) dari pengalaman

Langkah selanjutnya setelah menentukan suatu pengalaman untuk ditulis adalah membagi pengalaman tersebut ke dalam beberapa fase. Contohnya ketika kita akan menuliskan pengalaman kita dalam menempuh pendidikan, maka penglaman tersebut bisa dibagi menjadi beberapa fase yaitu: fase sekolah PAUD/TK, SD. SMP, SMA, S-1, S-2, dan S-3. Pembagian pengalaman menjadi beberapa fase ini memudahkan penulis dalam memfokuskan tulisan. Penulis akan focus untuk menuliskan cerita dalam setiap fase dengan jelas dan utuh. Sehingga pada akhirnya akan dihasilkan tulisan berupa cerita pengalaman yang jelas dan utuh.

3.     Tentukan waktu dan panjang tulisan

Waktu penulisan pengalaman perlu untuk ditentukan karena menulis merupakan kegiatan yang harus selesai dengan tenggat waktu yang pasti. Jadi tidaklah tepat jika karena hanya menuliskan pengalaman kita menulis tanpa menentukan target penyelesaian. Tetapi tentu saja target ini harus realistis dan tanpa keterpaksaan. Waktu menuliskan pengalaman misalnya satu minggu, dua minggu, satu bulan, dan sebagainya. Selain itu panjang tulisan pun harus ditentukan, dan ini berkaitan dengan ukuran kertas dimana pengalaman kita dituliskan. Pengalaman yang diceritakan lebih detail tentu akan membuat tulisan lebih panjang. Panjang tulisan dan waktu penulisan berkaitan erat. Tulisan yang panjang memerlukan waktu yang lebih lama dalam penulisannya, sehingga ketika kita menentukan waktu penulisan harus disesuaikan dengan rencana panjang tulisan yang akan ditulis.

4.     Menuliskan pengalaman

Menuliskan pengalaman merupakan proses mencurahkan semua hal yang dialami ke dalam bentuk tulisan. Jika biasanya kita menceritakan pengalaman kita kepada orang lain diungkap dengan media lisan maka menuliskan pengalaman adalah bercerita tentang pengalaman kepada orang lain dengan media tulisan. Jika persiapan menuliskan pengalaman yang telah disebutkan di atas dilakukan sebelumnya maka prosen menulis pengalaman menjadi lebih mudah dan terarah.

5.     Tentukan jenis penerbitan tulisan

Tulisan dari pengalaman dapat dicetak dan diterbitkan dalam berbagai media seperti dalam bentuk buku solo, buku antologi, surat kabar, majalah, blog pribadi, blog umum, dan sebagainya. Jika tulisan mau  dibukukan kita harus menghubungi dan bekerja sama dengan perusahaan percetakan buku. Langkah pertama tentukan dulu percetakan buku yang akan diajak bekerjasama dalam mencetak buku, setelah itu menghubungi percetakan tersebut. Langkah selanjutnya memenuhi persyaratan mencetak buku yang diminta oleh percetakan. Setelah semua syarat terpenuhi kita tinggal menunggu buku kita terbit. Dalam masa menunggu ini kita jangan pasif tetapi harus selalu memonitor progref proses penerbitan buku dengan secara berkala bertanya kepada percetakan tersebut.

6.     Publikasi tulisan

Setelah tulisan kita terbit dalam sebuah buku, koran, majalah, blog, atau media terbit lainnya langkah kita selanjutnya adalah mempromosikan tulisan pengalaman kita di media-media tersebut. Saat ini promosi buku dan sebagainya sangat mudah dilakukan. Kita bisa mempromosikannnya di media social dan blog yang kita miliki. Kita bisa mempromosikannya di Facebook, Twitter, Instagram, Youtube, Tiktok, blog pribadi, dan blog umum seperti kompasiana.com. Diharapkan jika kita mempromosikan buku atau jenis terbitan lainnya orang lain akan mengenal dan tertarik dengan buku atau jenis terbitan lainnya yang kita promosikan, sehingga pada akhirnya mereka mau membeli dan/atau membaca tulisan pengalaman kita itu.

Berdasarkan paparan di atas dapat disimpulkan bahwa menulis yang paling mudah adalah menuliskan pengalaman yang kita miliki. Langkah-langkah yang harus dilakukan adalah (1) menentukan pengalaman apa yang mau ditulis; (2) membagi pengalaman yang mau ditulis ke dalam beberapa fase yang sesuai; (3) tentukan lama dan panjang tulisan; (4) menuliskan pengalaman; (5) menentukan jenis penerbitan ( buku, Koran, majalah, dll.); dan (6) publikasi tulisan pengalaman.


Mengelola Majalah Sekolah


 

Pelatihan Belajar Menulis PGRI Gelombang 27 memasuki materi yang ke-11. Materi ke-11 adalah mengelola majalah sekolah yang disampaikan oleh guru sekaligus praktisi majalah di sekolahnya yaitu Bu Widya Setianingsih, S.Ag. dan moderator adalah Bu Yandri Novita Sari. Pertemuan ke-11 ini dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 14 September 2022 mulai pukul 07.00-09.00 malam WIB melalui grup WhatsApp.

Pembahasan materi dimulai dengan memaparkan definisi majalah menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Menurut KBBI majalah adalah terbitan berkala yang isinya meliputi berbagai liputan jurnalistik, pandangan tentang topik aktual yang patut diketahui pembaca. Berdasarkan waktu penerbitannya, majalah dibedakan atas: majalah bulanan, tengah bulanan atau dua mingguan, mingguan, dan sebagainya. Berdasarkan isinya majalah dibedakan atas: majalah berita, anak-anak, wanita, remaja, olahraga, sastra, ilmu pengetahuan tertentu, religi dan sebagainya. Berdasarkan ruang lingkupnya majalah dibedakana atas majalah sekolah, , majalah perguruan tinggi, majalah perusahaan, majalah profesi, majalah organisasi, dan lain sebagainya,

Seperti telah disebutkan di atas majalah sekolah adalah majalah yang ruang lingkupnya adalah sekolah dan warga sekolah. Majalah sekolah ini hadir atas prakarsa warga sekolah dan ditujukan konsumennya adalah semua warga sekolah yaitu, kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, siswa, komite sekolah, dan orang tua/wali siswa. Majalah sekolah dimulai dari insiatif dari warga sekolah kemudian diusulkan kepada penanggungjawab sekolah yaitu kepala sekolah, kemudian kepala sekolah bermusyawarah dengan dewan guru dan tenaga kependidikan. Setelah semua setuju barulah majalah sekolah dibentuk atau didirikan. Adapun manfaat dari adanya majalah sekolah di suatu sekolah adalah (1) media informasi dari sekolah kepada semua warga sekolah; (2) media penghubung siswa dan orang tua/wali dengan pihak sekolah; (3) media ekspresi semua warga sekolah; (3) media penyebaran ilmu pengetahun dan teknologi; dan (4) media kebanggaan lembaga sekolah dan warga sekolah.

Secara lengkap langkah-langkah memulai/menerbitkan majalah sekolah adalah berikut di bawah ini.

1.     Menyatukan ide dan gagasan.

Pertama-tama kita harus mencari guru, tenaga kependidikan, dan siswa yang memiliki jiwa literasi dan organisasi. Carilah yang memiliki ide dan gagasan yang sama supaya mudah disatukan. Kemudian bentuklah susunan redaksi majalahnya. Susunan redaksi majalah ini harus diketahui dan disetujui oleh kepala sekolah sebagai penanggung jawab satuan pendidikan. Sebagai catatan, kita harus peka dalam mencari teman yang memiliki jiwa literasi, karena ini modal awal untuk membentuk crew majalah.

2.     Mengajukan Proposal.

Setelah memiliki dewan redaksi langkah selanjutnya adalah membuat proposal pembentukan majalah sekolah yang akan diajukan kepada kepala sekolah, komite sekolah, guru dan tenaga kependidikan lainnya untuk disetujui. Proposal yang dibuat meliputi latar belakang, tujuan, frekuensi terbit, sasaran konsumen, susunan redaksi, anggaran dana, penyandang dana, daftar isi majalah, dan sebagainya. Berdasarkan isi proposal ini akan diketahui berapa harga satu majalah dalam satu kali terbit untuk dijual kepada konsumen yaitu semua warga sekolah, komite dan orang tua/wali siswa. Untuk biaya penerbitan majalah bias menggunakan dana yang dimiliki oleh sekolah atau dari sponsor yang tidak mengikat. Setelah proposal ini disetujui langkah selanjutnya dewan redaksi adalah merancang majalah sekolah.

3.     Membuat rancangan majalah.

Kegiatan yang harus dilakukan oleh dewan redaksi dalam merancang majalah adalah:

a.     menentukan nama majalah

Nama majalah sebaiknya unik dan mudah diingat dan enak terdengar oleh telinga. Nama majalah bias singkatan atau akronim dari nama sekolah,  alamat sekolah, keunikan sekolah, dan lain-lain

b.     Menentukan cara memperoleh artikel dan siapa penulis artikelnya

Setiap artikel yang ditulis di majalah memerlukan orang tertentu yang ditugaskan untuk memperoleh informasi kemudina dituliskan menjadi artikel yang akan diterbitkan. Ketua dewan redaksi harus memberikan tugas yang jelas dan rinci kepada masing-masing anggota untuk memegang rubrik tertentu dari majalah sehingga semua memiliki tugas yang berbeda-beda tetapi dengan tujuan sama yaitu membangun majalah sekolah yang baik.

c.     Menentukan tampilan atau layout majalah sekolah

Seperti apakah tampilan majalah sekolah yang akan diterbitkan tentu tidak terlepas dari kepiawaian dewan redaksi yang akan menyusunnya. Tampilan majalah sekolah dimulai dari cover majalah dan tampilan setiap artikel atau rubrik majalah. Pembuatan tampilan ini harus diakukan oleh ahli yang pandai membuat layout majalah. Jika dewan redaksi tidak memiliki orang yang pandai membuat layout majalah maka dewan redaksi dapat memanfaatkan jasa tenaga ahli di luar dewan redaksi, dimana hasil desain layout majalah ini disetujui oleh semua dewan redaksi.

4.     Mencari rekanan pendukung/sponsor.

Menerbitkan majalah yang oplahnya sedikit mungkin masih bias didanai dari dana yang dimiliki oleh sekolah, tetapi kalau oplahnya banyak seperti ratusan majalah maka menerbitkan majalah memerlukan dana yang besar yang biasanya sulit kalau didanai oleh sekolah. Oleh karena itu perlu mencari dana dari sponsor yang tidak mengikat sekolah dan warga sekolah. Organisasi/sponsor yang mau membantu pendanaan biasanya adalah perusahaan atau sekolah swasta lanjutan sekolah dengan imbalan mereka bias beriklan di majalah sekolah atau di dalam sekolah. Hal ini tidak menjadi masalah selama iklan di majalah tidak mengganggu tampilan atau tujuan majalah, dan jika beriklan di dalam sekolah tidak mengganggu keindahan sekolah, dan  yang paling penting adalah adanya sponsor ini tidak mengikat sekolah dan warga sekolah. Jangan sampai adanya sponsor membuat sekolah dan warga sekolah tidak bebas melakukan sesuatu atau memilih sesuatu yang diinginkan.

5.     Mengajukan ISSN

ISSN adalah singkatan dari International Standard Serial Number, merupakan suatu nomor unik yang diberikan oleh lembaga yang berwenang yaitu kalau di Indonesia lembaga yang diberikan kewenangan memberikan ISSN adalah LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) atau sekarang namanya menjadi BRIN (Badan Riset dan Inovasi Indonesia). Fungsi ISSN adalah sebagai nomor identitas dari suatu terbitan berkala seperti majalah, tabloid, jurnal, dan surat kabar. Fungsi lain dari ISSN adalah pengakuan dari lembaga resmi sebagai terbitan berkala yang beredar sehingga ketika majalah sekolah telah memiliki ISSN membuat majalah tersebut telah diakui keberadaannya oleh lembaga internasional dan dalam negeri sehingga majalah tersebut dapat menjadi nilai tambah dalam pemialaian sekolah ketika akreditasi. Warga sekolah tentu sangat bangga ketika majalah sekolahnya telah ber-ISSN.

Saat ini ISSN diajukan bias secara daring melalui situs web yang dimiliki oleh BRIN. Adapun syarat pengajuan ISSN adalah: (1) surat pengajuan resmi; (2) halaman sampul majalah; (3) halaman daftar isi majalah; (4) halaman dewan redaksi majalah; (bukti pembayaran pengajuan; dan (5) dokumen lain yang diminta. Proses pengajuan ISSN memang memerlukan biaya tetapi tidak terlalu besar dan prosesnya tidak lama dari mengajukan sampai memperoleh ISSN biasanya kurang dari satu minggu saja.

6.     Menetukan ragam bahasa yang dipakai dalam majalah

Bahasa dalam majalah sekolah bisa disesuaikan dengan artikel atau rubric yang ada di majalah, tetapi secara umum bahasa dalam majalah sekolah sebaiknya tidak terlalu formal, kata-kata yang sedang tren pada saat ini bias dimasukkan sepanjang tidak kontra produktif dengan pendidikan. Apa tah lagi jika majalah sekolah di SLTA (SMA/SMK/MA) bahasa anak muda saat ini bisa dipakai pada bagian-bagian tertentu yang sesuai dan yang paling penting tidak kontra produktif dengan tujuan didirikannya majalah sekolah dan usaha pendidikan di sekolah.

7.     Selalu mencari tema yang sedang tren di masyarakat

Tema yang sedang trending dimasyarakat menjadi hal yang sangat baik untuk diangkat di majalah sekolah, karena hal ini tentu akan menjadi daya tarik konsumen untuk membaca. Dewan redaksi majalah sekolah harus selalu mengikuti perkembangan tren yang ada di masyarkat atau di para pembacanya, dimana sesuatu yang sedang tren akan diangkat dalam majalah sekolah. Majalah sekolah yang selalu mengikuti perkembangan tren di masyarakat atau di para pembacanya akan selalu ditunggu-tunggu oleh para pembacanya sehingga majalah sekolah yang kehilangan pembacanya bias dihindari.

8.     Menentukan percetakan

Majalah sekolah sebaiknya memang dicetak oleh mesin cetak yang miliki oleh sekolah tetapi karena harga mesin cetak sekolah cukup mahal sehingga sekolah tidak mampu membeli mesin cetak. Solusinya adalah sekolah bekerja sama dengan perusahaan percetakan untuk mencetak majalah. Biaya pencetakan tentu disepakati oleh kedua belah pihak. Biaya pencetakan ini menjadi contributor utama dalam penentuan harga majalah yang akan dijual kepada konsumen majalah sekolah. Harga majalah sekolah kepada konsumen bias dikurangi dengan subsidi dari dana yang dimiliki sekolah dan bantuan dari para sponsor.

9.     Selalu memupuk kekompakan tim

Tim di sini yang paling utama harus selalu kompak adalah dewan redaksi majalah sekolah yang berperan sebagai “produsen” majalah. Keberadaan dan kontinuitas majalah sekolah sangat tergantung dari keberadaan dan kekompakan dewan redaksi. Dewan redaksi yang selalu kompak akan menghasilkan majalah sekolah yang baik secara kualitas  tampilan dan konten majalah, dan juga majalah sekolah akan terus ada setiap waktu terbitnya tanpa tersendat sekali pun.

Narasumber memberikan contoh daftar isi dari majalah ada di sekolah nya. Daftar isi tersebut adalah di bawah ini.

1)Visi & Misi Sekolah : Visi dan misi sekolah masing-masing dituliskan di halaman ke-2 setelah cover majalah.

2) Salam Redaksi : Kata sapaan dari pemimpin dewan redaksi kepada pembaca, menyampaikan isi majalah secara singkat, tema majalah, kondisi teraktual saat itu.

3) Berita Sekolah : Kegiatan-kegiatan sekolah, misalnya peringatan PHBI-PHBN, KSN, KOSN, FLS2N, Class Meeting, Pramuka, Paskibra, PMR, dan sebagainya.

4) Profil Guru : Dimuat secara bergiliran mulai dari kasek, wakasek, guru, tenaga kependidikan (TU, Satpam, Laboran, Petugas Perpustakaan, Penjaga Sekolah).

5) Profil Siswa Berprestasi: Menampilkan siswa paling berprestasi pada saat itu dalam rentang penerbitan majalah

6) Karya Siswa : Menampilkan karya atau produk terbaik yang dihasilkan oleh siswa seperti,novel, puisi, cerpen, prakarya, foto hasil karya siswa, gambar dan sebagainya

7) Kegiatan Siswa: Kegiatan out class, ataupun inclass. Misalnya outbound, perkemahan pramuka, praktek di kelas, unjuk kerja, wide game, karya wisata dan sebagainya.

8) Kuiz berhadiah: Disesuaikan dengan jenjang kelas. Untuk SD TTS, tebak gambar, dan sebagainya dan sebaiknya kuiz ini berhadiah walaupun hadiahnya alakadarnya.

9) Prestasi Sekolah : menampilkan prestasi terbaru dari guru, siswa, dan sekolah.

10) Info dan pengumuman: Info ujian, libur dan sebagainya


Ini Takdir

Disclaimer:  Tulisan ini bukan untuk menggurui tetapi hanya sekedar berbagi pengalaman dan pemahaman mengenai esesnsi dari takdir. Saya pun ...