Jumat, 28 Oktober 2022

Belajar Menulis (Lagi)




 

Pada hari ini, Senin tanggal 22 Agustus 2022 saya mencoba kembali belajar menulis. Belajar menulis kembali ini dipicu oleh seorang teman yang aktif di organisasi profesi pusat yang mengajak saya untuk aktif kembali menulis dan menerbitkan buku. Di samping itu sebagai seorang guru ingin terus mengembang profesionalisme dengan menghasilkan karya tulis, dimana karya tulis yang dihasilkan dapat digunakan untuk kenaikan pangkat/golongan sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN).

Sebenarnya, sebelumnya saya memiliki pengalaman dalam menulis walaupun tidak banyak, tetapi karena saya lama vakum kegiatan menulis maka saya kembali mengalami kesulitan dalam memulai menulis. Tahun 2017 dan 2018 saya telah menulis sebuah karya ilmiah untuk seminar nasional guru pendidikan dasar dan diterbitkan pada prosiding Ditjen GTK Kemdikbud. Pada tahun 2018 pula saya telah berhasil menulis cerita untuk anak dan menerbitkannya menjadi sebuah buku ber-ISBN. Oleh karena itu kegiatan menulis bukan sesuatu yang asing bagi saya karena pernah melakukannya.

Menulis merupakan kegiatan yang harus dilakukan secara kontinyu. Menulis setiap hari walaupun satu kalimat tentu jauh lebih baik dari pada lama berhenti menulis kemudian aktif menulis lagi. Berhenti menulis walaupun sebentar bisa menyebabkan “gagap” kembali dalam menulis seperti yang sedang saya alami saat ini.  Kegagapan yang dialami karena bingung mengenai materi apa yang hendak ditulis. Tetapi saya meyakini kegagapan ini akan hilang seiring berjalannya waktu yang saya gunakan untuk kembali menulis.

 “Pada suatu hari” kata inilah yang harus pertama dituliskan ketika kita belajar menulis. Tips ini saya dapatkan dari orang-rang yang pandai atau memiliki pengalaman luas dalam menulis. Terkesan konyol memang tips itu, tetapi saya dapat memahami makna yang tersirat dari tips tersebut. Tips ini menyiratkan bahwa dalam belajar menulis harus dimulai dengan menuliskan hal-hal yang ringan dan dekat dalam kehidupan seperti pengalaman sehari-hari, pekerjaan, keluarga, atau sahabat.

Menulis itu sulit, seperti itulah ungkapan yang sering saya dengar dari kebanyakan orang. Saya setuju dengan ungkapan ini. Menulis itu mudah kata sebagian orang yang lain. Saya pun setuju dengan ungkapan tersebut. Seperti plin-plan memang tapi itulah pendapat saya. Saya memahami mengapa orang-orang mengungkapkan seperti itu. Tulisan itu harus sempurna, yaitu baik dari segi ejaan, struktur kalimat, tanda baca, diksi, sesuai antara judul dan tulisan, kebahasaan, menarik, dan disukai pembaca adalah penyebab orang-orang mengucapkan bahwa menulis itu sulit. Sedangkan orang yang menganggap menulis itu mudah karena memiliki alasan bahwa menulis itu bisa dimulai dari hal-hal yang ringan dan dekat dengan kehidupan seperti menulis cerita harian yang dialami dari bangun tidur sampai tidur kembali.  Soal apakah tulisan itu baik dari kriteria tulisan yang baik seperti yang disebutkan di atas dan disukai pembaca adalah nomor 2. Demikianlah penyebab mengapa sebagian orang menganggap menulis itu mudah atau setidaknya tidak terlalu sulit. Lalu bagaiamana kesimpulannya menulis itu apakah mudah atau sulit? Saya bersikap moderat dalam hal ini.

Menulis itu mudah bagi orang yang terbiasa dan menggeluti dunia menulis. Menulis itu sulit bagi orang yang tidak pernah atau tidak terbiasa menulis. Di samping itu dalam menulis kita tidak bisa asal menulis tanpa memperhatikan kaidah tulisan yang baik. Bagaimana pun bahasa tulisan itu berbeda dengan bahasa lisan sehingga kaidah tulisan yang baik tidak bisa diabaikan sama sekali.

Bagaiamana pun bersikap positif dengan menganggap menulis itu mudah jauh lebih baik daripada menganggap menulis itu sulit. Menganggap menulis itu mudah dapat memicu dan memacu semangat untuk menulis. Ketika seseorang telah mampu menulis dan menghasilkan karya tulis, dan karya tulisnya dibaca oleh orang lain ada kebanggaan tersendiri yang dirasakan oleh dirinya. Apatah lagi bagi para guru, kegiatan menulis ini sangat bermanfaat bagi pengembangan profesinya sehingga berhak untuk naik tingkat atau golongan bagi guru yang berstatus ASN.

“Menulislah setiap hari dan rasakan manfaatnya”, ungkapan ini saya pernah membacanya dalam sebuah tulisan oleh Om Jay (Wijaya Kusumah). Saya setuju dengan ungkapan ini. Dengan menulis setiap hari membuat diri terbiasa menulis sehingga menulis akan terasa lebih mudah dan tidak akan dihinggapi penyakit “gagap” menulis. Menulis setiap hari tentu lebih produktif dari pada lebih jarang menulis seperti seminggu sekali misalnya. Dengan menulis setiap hari kita akan lebih cepat menghasilkan tulisan untuk diterbitkan menjadi buku.

Bagaimanakah caranya agar kita bisa menulis setiap hari? Tentu jawaban dari pertanyaan ini mudah saja dan kita ketahui yaitu dengan memanfaatkan waktu harian kita dengan sebaik-baiknya. Kita bisa memanfaatkan waktu senggang sehari-hari untuk kegiatan menulis. Waktu senggang yang bisa kita manfaatkan untuk menulis adalah sebelum tidur, dalam perjalanan, menunggu antrian, sepulang kerja, dan lain sebagainya. Perangkat yang digunakan pun bisa menggunakan computer/laptop, ipad, tablet, atau handphone. Jadi kegiatan menulis menjadi lebih mudah dengan adanya pilihan perangkat tersebut.

Sudah hampir 800 kata yang saya ketik dalam tulisan ini tetapi jumlah kata dalam tulisan ini tidak sampai 800 kata. Semoga saya mampu menulis setiap hari agar lebih produktif. Semoga tulisan ini menjadi tulisan awal yang akan diikuti oleh tulisan-tulisan berikutnya. sehingga saya menjadi guru penulis yang istiqomah, aamiin.

Cara Membuat Resume yang Baik


 


Resume adalah ringkasan atau rangkuman dari sebuah tulisan atau tuturan lisan. Sebuah resume terlihat dari kuantitasnya, dimana sebuah resume lebih pendek/singkat daripada tulisan atau tuturan aslinya. Resume hanya berisi hal-hal pokok dan penting dari sebuah tulisan atau tuturan.

Adalah sangat penting untuk membuat resume yang baik agar pembaca resume dapat memahami materi tulisan/tuturan walaupun tanpa membaca tulisan atau mendengarkan tuturan langsung. Resume yang baik dapat membuat pembacanya memiliki pemahaman yang sama atau nyaris sama tentang isi tulisan/tuturan dengan pembaca langsung tulisan atau tuturan.

Resume yang baik adalah resume yang hanya berisi hal pokok dan penting dan berasal dari buah pemikian penulisnya setelah membaca sebuah tulisan atau mendengarkan suatu tuturan. Resume yang baik bukan sekedar menuliskan kembali hal pokok dan penting tanpa menggunakan sudut pandang pribadi penulisnya. Resume yang baik ditulis berdasarkan simpulan pemahaman penulisnya setelah mentrialektikakan antara pengetahuan yang baru diperoleh setelah membaca atau mendengar tuturan dengan pengetahuan sebelumnya, dan pendapat pribadinya.

Untuk bisa menulis resume yang baik terdapat beberapa Langkah yang harus diikuti. Langkah-langkah tersebut adalah:

1.      Mengamati

Untuk resume dari sebuah tulisan tentu saja yang dimaksud mengamati di sini adalah membaca secara intensif tulisan tersebut sampai memahaminya. Jika satu kali membaca belum faham kita bisa mengulanginya. Untuk resume dari sebuah tuturan kita harus mendengarkan tuturan tersebut dengan focus dan penuh konsentrasi, dan jangan lupa mencatat hal-hal pokok dan penting dari tuturan tersebut.

2.      Memodifikasi

Buatlah resume dengan mengubah kata-kata, sistematika, gaya Bahasa dari tulisan aslinya. Untuk resume dari tuturan hal ini lebih mudah karena kita tidak mungkin kita menuliskan resume sama dengan tuturan yang telah didengarkan.

3.      Menghindari copy paste

Mengcopy-paste berarti kita hanya memindahkan tulisan tanpa usaha, kreatifitas, dan pemahaman pribadi penulis resume.

4.      Memparafrasekan bahasa narasumber

Buatlah resume menggunakan Bahasa sendiri tetapi isi tetap sama dengan Bahasa narasumber.

5.      Memberi kesimpulan

Buatlah kesimpulan berdasarkan pemahaman pribadi terhadap suatu tulisan atau tuturan.

6.      Menulis dengan versi sendiri

Tulislah resume dengan memodifikasi, paraphrase, dan simpulan pribadi terhadap tulisan atau tuturan sehingga menjadi resume versi pribadi yang berbeda dengan resume milik orang lain.

 

Cara lain untuk menuliskan resume adalah dengan metode 5W+1H (What, Who, Where, Why, When, dan How) atau dalam Bahasa Indonesia menjadi ADIKSIMBA (Apa, Dimana, Kapan, Siapa, Mengapa, dan Bagaimana). Metode ADIKSIMBA ini merupakan cara yang digunakan untuk menulis resume dimana isi resume bisa menjawab pertanyaan ADIKSIMBA ini.

1.       Apa

Tuliskan informasi penting yang dibahas dalam tulisan/tuturan yang bisa menjawab pertanyaan “apa” tentang tulisan/tuturan tersebut.

2.       Dimana

Tuliskan informasi tentang tempat-tempat dalam tulisan/tuturan dimana hal yang dibahas terjadi. Informasi yang dituliskan harus bisa menjawab pertanyaan “dimana” hal yang dibahas terjadi.

3.       Kapan

Tuliskan informasi tentang waktu, dimana hal yang dibahas terjadi. Informasi ini harus bisa menjawab pertanyaan “kapan” hal yang dibahas terjadi.

4.       Siapa

Informasi yang ditulis harus bisa menjawab pertanyaan “siapa”, sehingga hal yang ditulis adalah orang/pelaku dalam hal yang dibahas tersebut.

5.       Mengapa

Tuliskan informasi tentang penyebab suatu peristiwa terjadi dalam hal yang dibahas di dalam tulisan/tuturan. Informasi ini harus bisa menjawab pertanyaan “mengapa” suatu peristiwa terjadi.

6.       Bagaimana

Informasi yang dituliskan berupa cara atau proses suatu peristiwa dapat terjadi di dalam hal yang dibahas, sehingga bisa menjawab pertanyaan “bagaimana” tentang hal yang dibahas tersebut.

 

Berdasarkan paparan di atas dapat disimpulkan bahwa resume yang baik adalah resume yang ditulis berdasarkan pandangan pribadi penulisnya terhadap tulisan/tuturan dan hanya berisi hal-hal pokok atau penting dari tulisan atau tuturan itu. Adapun membuat resume yang baik di mulai dari membaca tulisan/mendengarkan tuturan, memodifikasi, menghindari copy paste, memparafrasekan, memberi simpulan, dan menuliskan dengan versi sendiri. Cara lain menulis resume adalah dengan menggunakan metode 5W+1H atau ADIKSIMBA.


Menulis Buku dari Karya Ilmiah

 




Karya ilmiah adalah karya tulis yang berisi penjabaran masalah beserta penyelesaiannya, dimana penyelesaian masalah menggunakan kaidah ilmiah. Karya ilmiah merupakan alat penghubung bagi penulis peneliti dengan masyarakat ilmiah untuk mengomunikasikan hasil-hasil penelitian ilmiah. Karya ilmiah dapat berupa makalah, skripsi, tesis, disertasi, artikel ilmiah, dan laporan penelitian lainnya.

Menulis buku dari karya ilmiah bukan berarti mengubah media tulisan dari bentuk karya tulis ilmiah menjadi buku tanpa mengubah apapun isi tulisan. Menulis buku dari karya ilmiah berarti kita mengubah karya tulis ilmiah menjadi buku dengan cara menyesuaikan isi karya tulis ilmiah itu dengan aturan penulisan buku.

Karya tulis ilmiah memiliki sistematika penulisan tertentu yang sudah baku. Hal ini berbeda dengan buku. Sebuah buku tidak memiliki sistematika khusus untuk menyajikan isi tulisan di dalamnya. Sistematika karya tulis ilmiah adalah: pendahuluan, kajian Pustaka/landasan teori, metode penelitian, hasil dan pembahasan, dan kesimpulan. Di dalam buku tidak ada aturan seperti ini, kita bebas saja menulis jenis informasi yang diinginkan dan urutannya sepanjang tidak akan membingungkan pembaca.

Mengubah karya ilmiah menjadi buku memiliki banyak keuntungan bagi penulisnya. Keuntungan tersebut adalah: (1) buku bisa dibaca oleh semua kalangan; bukan hanya masyarakat ilmiah dan orang-orang di area tertentu saja, (2) buku bisa diperjualbelikan, sehingga akan menambah keuntungan finansial bagi penulisnya, (3) bagi ASN (Aparatur Sipil Negara) buku dapat menambah poin angka kredit untuk kenaikan pangkat/golongan sama dengan karya ilmiah sumbernya, sehingga satu kegiatan memiliki 2 bukti fisik dan keduanya bisa mendapatkan poin angka kredit, (4) nama penulis akan dikenal secara luas sebagai akibat publikasi buku yang lebih luas tadi, (5) hasil penelitian/ilmu pengetahun lebih tersebar luas kepada khalayak ramai.

Melihat keuntungan yang begitu besar yang akan didapatkan oleh orang yang membukukan karya ilmiah, maka bagaimanakah cara untuk mengubah karya ilmiah menjadi buku? Berikut adalah cara yang dapat dilakukan untuk dapat mengubah karya ilmiah menjadi buku dengan baik.

1.      Ubah Judul

Biasanya judul karya ilmiah terdiri dari hal yang dilakukan, untuk suatu tujuan tertentu, bagi subyek tertentu. Hal ini harus diubah ketika dijadikan buku. Judul buku harus menarik khalayak ramai sehingga mereka mau membacanya. Sebagai contoh karya ilmiah yang berjudul: “Pengembangan modul berbasis riset pada materi reaksi redoks untuk meningkatkan keterampilan generik sains siswa kelas X SMA”, dapat diubah menjadi “Kiat Menulis Modul Riset”. Selain kata “kiat” kita juga bisa menggunakan kata lain seperti “tips”, “strategi”, “trik”, “jurus”, dan sebagainya yang bisa menarik orang untuk membaca buku.

2.      Ubah daftar isi

Daftar isi baku sebuah karya tulis ilmiah adalah: Bab 1; pendahuluan, bab 2; landasan teori/kajian Pustaka, bab 3 metode penelitian, bab 4; hasil dan pembahasan, dan bab 5; kesimpulan. Ketika dikonversi ke buku harus mengikuti pedoman 2W+H (Why, What, dan How) menjadi bab 1; menjelaskan pentingnya variable bebas dan terikat (Why), bab 2; menjelaskan tentang pengertian variable bebas dan terikat (What), bab 3, 4, dan 5; menjelaskan bagaimana tahap penentuan/pembuatan variable bebas, penerapan variable bebas, hasil penerapan variable bebas (variable terikat), dan dampak penerapan variable bebas bagi subyek penelitian. Boleh juga menuliskan materi buku dengan mengembangkan bab 2 karya ilmiah berupa landasan teori/kajian Pustaka. Pada buku, bab 2 karya ilmiah diperjelas dengan menambahkan pemaparan masing-masing variable penjelas setiap sub bab.

3.      Ubah sedikit isi karya ilmiah

Dalam mengubah karya ilmiah menjadi buku, penting sekali memperbanyak isi materi variabel bebasnya. Kita dapat menentukan perluasan materi tersebut berdasarkan kata kunci judul buku kita. Dengan kata lain, karya ilmiah yang diubah menjadi buku berarti lebih memperluas isi bacaannya berdasarkan sumber yang relevan. Hilangkan semua "kata Penelitian/ laporan PTK, laporan skripsi" dan lainnya yang biasanya ada di karya ilmiah. Grafik boleh ditampilkan tapi jangan terlalu banyak dan hanya grafik penting saja, grafik yang tidak terlalu penting dapat diubah ke dalam bentuk kalimat/paragraph.

4.      Ubah kebahasaan dan penyajian

Karya ilmiah versi buku haruslah berbeda dengan versi laporan. Susunan dan gaya tulisan bebas terserah penulis, karena setiap penulis memiliki ide dan kreativitas masing-masing sesuai pemahaman dan pengalamannya. Semakin literat penulis maka akan semakin baik buku yang dia tulis. Hal ini karena membaca, berpikir dan menulis adalah satu rangkaian literasi yang tidak dapat dipisahkan. Selain itu, kita harus berupaya agar pembaca memahami isi buku kita secara lengkap, dan mengenali bahwa karya ilmiah kita diubah menjadi buku

5.      Dalam daftar pustaka hanya menggunakan referensi terpercaya secara ilmiah

Referensi terpercaya dapat diperoleh dari e-book, jurnal ilmiah, dan karya ilmiah lainnya. Bisa juga menggunakan blog sebagai referensi, tetapi harus blog resmi dan terpercaya. Blog resmi adalah blog yang dimiliki oleh lembaga terpercaya seperti blog milik pemerintah, contoh kemendikbud.go.id. Hindari menggunakan daftar pustaka berupa blog pribadi dengan domain blogspot, wordpress, dan lain-lain

6.      Jujur tentang isi buku

Berikanlah pembahasan mengenai kelebihan dan kekurangan penelitian yang telah dilakukan agar pembaca yakin bahwa anda benar-benar telah melakukan penelitian tersebut

7.      Minimal 70 halaman

Buku hasil ubahan dari karya ilmiah memiliki sekurang-kurangnya 70 halaman format A5 dengan huruf, jenis huruf, dan margin disesuaikan dengan aturan dari penerbit

Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa membuat  buku dari karya ilmiah bukan berarti hanya mengubah cover dan judul saja sementara isi sama persis dengan karya yang sudah kita miliki. Itu merupakan suatu pelanggaran karena akan menjadi self plagiarisme untuk karya tulis kita. Kita harus mengubahnya sesuai dengan aturan yang ada sehingga karya ilmiah versi buku tidak sama struktur dan isinya dengan karya ilmiah aslinya.

Kamis, 27 Oktober 2022

Menjadikan Menulis Sebagai Passion



“Menulis is my passion” adalah tema dari materi ke-2 pelatihan belajar menulis PGRI gelombang yang ke-27. Materi kedua ini dipaparkan kan oleh Dra. Sri Sugiastuti, M.Pd. pada tanggal 24 Agustus 2022 mulai pukul 19.00-21.00 WIB. Tulisan ini merupakan resume dari materi ke-2 pelatihan belajar menulis tersebut.

Tidak seperti pemateri sebelumnya yaitu Om Jay yang sudah saya kenal, saya belum pernah mengenal Bu Sri Sugiastuti sebelumnya, mungkin mendengar nama beliau pun baru kali ini. Bu Sri Sugiastuti ini ternyata profesinya sama dengan saya yaitu sebagai guru, tetapi bedanya beliau sangat aktif dalam dunia literasi. Selain sebagai guru, profesi Bu Sri Sugiastuti adalah penulis, editor buku, dan blogger. Beliau pun aktif di organisasi PGRI yaitu menjadi Pengurus PGRI Surakarta, Jawa Tengah. Sebagai penulis Bu Sri Sugiastuti telah menghasilkan 21 buah buku. “Bersemangat dengan menggapai ridho Allah dengan berbagi dan silaturahmi” merupakan motto beliau dalam menjalani kehidupan.

Menurut Bu Sri Sugiastuti, passion adalah tindakan atau pekerjaan yang dilakukan seseorang sesuai dengan motivasi dan keinginannya sehingga membuatnya bisa bersemangat. Pekerjaan sebagai passion akan membuat orang menganggap bekerja bukan sebagai beban tetapi sebagai suatu hal yang menyenangkan. Dalam passion orang akan melakukan suatu pekerjaan dengan senang hati tanpa keterpaksaan. Suatu pekerjaan sebagai passion terlihat dari orang yang bekerja di suatu bidang itu, yaitu dalam bekerja dia terlihat selalu semangat, dan raut muka/gestur tubuh yang selalu ceria dan bergairah.

Menulis sebagai passion harus dilakukan oleh orang yang bergelut dalam dunia menulis. Dengan menulis sebagai passion, kegiatan menulis akan menjadi kegiatan yang menyenangkan, bukan sebagai beban, apalagi keterpaksaan. Orang yang menjadikan menulis sebagai passion akan merasakan ada sesuatu yang kurang apabila hari-hari dilalui tanpa menulis. Bagi penulis yang menjadikan menulis sebagai passion, menulis menjadi semacam terapi atau self healing dari “penyakit”, yaitu kegelisahan batin yang dialami dalam kehidupan.

Dalam pemaparannya Bu Sri Sugiastuti menjelaskan bahwa keterampilan menulis merupakan keterampilan berbahasa yang paling tinggi. Seperti yang kita ketahui keterampilan berbahasa ini ada 4 jenis yaitu keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Keterampilan menulis menjadi keterampilan berbahasa yang tertinggi karena untuk dapat menulis dengan baik perlu memiliki dahulu 3 keterampilan berbahasa yang lain yaitu menyimak, berbicara, dan membaca dengan baik. Orang yang memiliki keterampilan menulis yang baik dipandang sebagai orang yang memiliki kematangan berpikir dan intelektualitas yang tinggi. Sehingga tidak mengherankan orang yang memiliki keterampilan menulis yang baik sangat dihormati dan dihargai secara sosial.

Sebagai suatu aktivitas, kegitan menulis tidak lepas dari kendala atau hambatan. Adanya kendala atau hambatan itu tidak akan berarti apapun bagi mereka yang menjadikan menulis sebagai passion. Kendala akan dianggap sebagai suatu tantangan dalam melakukan kegiatan menulis. Adapun kendala atau hambatan dalam menulis adalah: (1) merasa tidak memiliki bakat dalam menulis; (2) tidak memiliki waktu untuk menulis; (3) tidak memiliki gagasan/ide; (3) tidak mau dikritik; (3) tidak suka menulis. Hambatan ini bisa dilalui dengan memiliki tekad yang kuat untuk mengatasi hambatan ini.

Berikut ini adalah solusi untuk mengatasi hambatan menulis yang disebutkan di atas. Dalam menulis ternyata kita tidak perlu memiliki bakat menulis karena menulis bukanlah suatu bakat tetapi keterampilan yang bisa diperoleh dengan belajar dan pembiasaan. Kita akan dapat memiliki keterampilan menulis yang baik jika kita mau belajar dan konsisten menulis secara terus menerus. Menulis bisa dilakukan kapanpun dan dimanapun. Dalam hal ini kita hanya perlu keinginan yang kuat untuk menulis. Ketika seseorang memiliki keinginan yang kuat untuk menulis maka dia akan bisa menyisihkan waktu walaupun sebentar untuk menulis. Sebenarnya semua orang pasti memiliki suatu ide di kepalanya tentang suatu hal. Kebingungan ini lebih dipicu oleh kebingungan bagaimana mencurahkan ide yang dimiliki ke dalam bentuk tulisan. Keberanian untuk mencurahkan ide ke dalam bentuk tulisan merupakan solusi untuk mengatasi masalah tidak memiliki ide ini. Tulisan sebaik apapun pasti ada kekurangan. Penulis yang paling hebat pun pasti memiliki kekurangan dalam tulisannya apatah lagi bagi penulis pemula. Jadi mengapa kita harus takut dengan kritikan? Justru kritikan ini bisa menjadi pembelajaran agar kita menulis dengan lebih baik lagi ke depannya. Ketidaksukaan dalam menulis bisa dipicu oleh ketidaktahuan tentang manfaat menulis. Jika seseorang tahu akan manfaat menulis yang begitu besar maka ia akan menyukai menulis dengan sendirinya.

Menulis itu dimulai dari menentukan alasan mengapa kita menulis, dilanjutkan dengan bagaimana cara kita menulis, kemudian kapan waktunya kita menulis. Alasan kita menulis lebih bersifat filosofis dan berhubungan dengan nilai, dan visi dan misi seseorang dalam menjaalani kehidupan. Bagaimana cara kita menulis lebih bersifat teknis dan jawabannya cenderung mudah dipelajari melalui proses latihan. Kapan kita menulis, secepatnya; kita harus menulis secepatnya tanpa menunda-nunda.

Bagi umat muslim hadits Nabi Muhammad SAW yang berbunyi “sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling bermanfaat bagi orang lain” dapat dijadikan motivasi untuk menulis. Dengan menulis insya Allah tulisan kita akan dibaca oleh orang lain dan bermanfaat bagi mereka. Bagi umat agama lain tentu saja dapat menjadikan ajaran agamanya masing-masing untuk dijadikan motivasi dalam kegiatan menulis.

Adapun langka-langkah menjadi penulis yang baik adalah:

1.      Membaca

Untuk menjadi penulis yang baik kita harus banyak membaca literatur (buku, majalah, koran, dan sebagainya), baik yang bersifat umum maupun spesifik. Buku yang dibaca bisa yang sesuai dengan latar belakang pendidikan maupun yang sesuai dengan minat.

2.      Mendiskusikan

Pengetahuan atau informasi yang diperoleh melalui membaca literatur sebaiknya didiskusikan dengan teman atau orang yang lebih ahli mengenai pengetahuan atau informasi yang kita peroleh tadi. Jika perlu informasi yang kita peroleh kita bandingkan atau konfrontasikan dengan informasi yang lain untuk menambah wawasan dan untuk mengasah daya kritis kita dalam menyerap informasi.

3.      Lihat dan rasakan

Lakukan pengamatan terhadap lingkungan sekitar, baik lingkungan alam maupun sosial. Pengamatan ini untuk menangkap fenomena yang ada di lingkungan. Ketika kita sudah bisa menangkap fenomena kita akan berusaha untuk mengenal fenomena tersebut lebih mendalam dengan melakukan investigasi. Melalui investigasi yang dilakukan kita akan memiliki pengetahuan yang lengkap tentang suatu hal sebagai bahan untuk membuat tulisan.

4.      Bersosialisasi

Bersosialisasi secara positif dengan orang lain memiliki banyak sekali manfaat. Dengan bersosialisasi kita akan mengetahui berbagai informasi terutama informasi yang berhubungan dengan kemanusiaan yang sangat kompleks. Dengan bersosialisasi kita akan memiliki sikap simpati dan empati terhadap kesulitan yang dihadapi orang lain. Informasi yang diperoleh dalam bersosialisasi ini sangat dibutuhkan ketika kita akan menulis.

Menulis memerlukan berbagai persiapan agar kegiatan menulis bisa berjalan dengan lancar sesuai yang diinginkan. Adapun kegiatan yang dilakukan sebagai persiapan menulis adalah sebagai berikut.

1.      Menggali dan menemukan gagasan/ide

Gagasan/ide yang baik adalah gagasan yang paling kita minati, kuasai, dan logis baik dari segi waktu, pengerjaan dan biaya. Jadi, ketika kita memiliki ide untuk ditulis, kita harus mempertimbangkan kelayakan ide itu berdasarkan kriteria tersebut di atas.

2.      Menentukan tujuan, genre, dan segmen pembaca

Sebelum menulis, tujuan kita menulis penting ditentukan terlebih dahulu karena tujuan ini mengarahkan kita selama menulis. Kegiatan menulis yang dilakukan akan berorientasi pada pencapaian tujuan yang telah ditentukan. Terdapat berbagai genre tulisan, kita tidak mungkin mencampurkan berbagai genre tersebut dalam sebuah tulisan. Yang perlu kita lakukan hanyalah memilih salah satu genre yang kita minati dan kuasai agar kita dapat menyelesaikan tulisan kita. Kita pun harus menentukan untuk siapa tulisan kita dibuat atau siapa pembaca tulisan yang kita inginkan. Dengan menentukan sasaran pembaca tulisan (segmen pembaca), kita akan menulis dengan berorientasi kepada pemenuhan kebutuhan informasi dari segmen pembaca sasaran.

3.      Menentukan topik

Dalam sebuah tulisan, topik adalah suatu hal yang menjadi pokok pembahasan. Topik inilah yang membuat tulisan fokus dalam pembahasannya. Tanpa ada topik tulisan akan ngawur, tanpa arah sehingga membingungkan pembaca.

4.      Membuat outline/kerangka tulisan

Topik yang sudah ditentukan perlu diuraikan lagi menjadi kerangka tulisan. Kerangka yang dibuat terdiri dari garis besar materi tulisan untuk kemudian diperjelas lebih lanjut dalam tulisan yang utuh.

5.      Mengumpulkan bahan materi

Materi bisa dikumpulkan melalui membaca berbagai literatur referensi sesuai topik tulisan. Selain itu materi pun bisa dikumpulkan melalui pengamatan dan wawancara. Saat ini mencari bahan untuk menulis sangat mudah karena adanya intenet. Jika bahan materi tulisan sudah cukup kita harus segera menulis tanpa menunda-nunda lagi.

 Langkah selanjutnya setelah melakukan persiapan menulis adalah menulis naskah tulisan kemudian menerbitkan naskah tersebut menjadi buku atau jenis produk lain seperti e-book, majalah, koran, tabloid, jurnal, dan sebagainya. Tahapan yang harus dilalui dari menulis sampai menerbitkan naskah tulisan adalah:

1.      Editing

Ketika kita selesai menulis, maka tulisan kita tentu masih berupa naskah mentah (draft) sehingga perlu penyempurnaan. Pada tahap ini kegiatan yang perlu dilakukan adalah membaca ulang naskah dan ketika menemukan kekurangan maka langsung diperbaiki. Pada tahap ini yang bisa diperbaiki seperti tanda baca, kesalahan ketik, pemilihan kata, menghapus atau menambahkan kata.

2.      Revising

Berbeda dengan editing tahap revising merupakan perbaikan naskah dalam skala yang lebih besar. Pada tahap ini hal yang perlu dilakukan adalah mengubah beberapa bagian tulisan (bisa berupa penghapusan beberapa paragraf), melengkapi tulisan (bisa berupa penambahan beberapa paragraf), dan mengevaluasi kembali tulisan untuk menihilkan kesalahan tulis.

3.      Publishing

Tahapan yang harus dilalui dalam menerbitkan naskah tulisan (publishing) adalah (1) mengiriman naskah tulisan kepada penerbit yang diinginkan, (2) setelah naskah diterima penerbit maka penerbit akan membuat perwajahan produk terbitan (buku, majalah, jurnal, dan sebagainya), tata letak (lay out) produk terbitan, dilanjutkan dengan mengusulkan ISBN kepada Perpustakaan Nasional (Perpusnas), (3) mencetak produk terbitan, dan (4) mempromosikan dan mendistribusikan produk terbitan.

 Bu Sri Sugiastuti berpesan bahwa bagi penulis pemula yang paling penting adalah kesabaran dalam menulis. Hal ini karena dalam menulis pertama kali banyak kesulitan yang dialami sebagai akibat belum memiliki pengalaman menulis sebelumnya, sehingga ketahanan dalam menghadapi kesulitan menjadi kunci kesuksesan bagi penulis pemula. Bagi penulis pemula yang paling penting adalah membiasakan diri menulis, adapun kuantitas dan kualitas tulisan bisa diabaikan terlebih dahulu. Nanti, ketika sudah terbiasa  dan memiliki pengalaman dalam menulis, barulah memperhatikan kuantitas dan kualitas tulisan. Semoga saya dan semua penulis pemula mendapatkan kesabaran ketika proses menulis, sehingga menjadi penulis yang handal dan tulisan kita bermanfaat bagi orang lain., aamiin.


Rahasia Mudah Menulis dan Menerbitkan Buku untuk Berprestasi

 


Materi ke-6 pelatihan Belajar Menulis PGRI gelombang ke-27 disampaikan oleh Bu Rita Wati, S. Kom., seorang guru SMP sekaligus blogger, penulis, moderator, dan youtuber dari Provinsi Bali. Materi ke-6 ini bertema “Rahasia Menulis dan Menerbitkan Buku untuk Berprestasi”. Diharapkan setelah mempelajari materi ini peserta dapat mengetahui rahasia menulis dan menerbitkannya menjadi buku, kemudian mau mempraktikannya bukan hanya sekedar pengetahuan belaka.

Keterampilan menulis merupakan keterampilan yang bisa diperoleh dengan rajin berlatih atau membiasakan diri menulis. Dengan rajin berlatih menulis, maka penulis pemula akan menjadi penulis yang handal. Memang tidak mudah bagi penulis pemula untuk rajin menulis. Banyak hambatan yang dialami oleh para penulis pemula dalam menulis. Hambatan yang dialami penulis pemula ketika menulis adalah (1) merasa tidak memiliki ide; (2) miskin kosa kata; (3) suka menunda-nunda menulis; (4) mengalami kebingungan harus mulai dari mana; (5) bingung mau menulis apa; (6) merasa tidak percaya diri; (7) merasa tulisannya tidak layak baca.

Semua hambatan tersebut dapat diatasi dengan rajin membaca dan menulis. Membaca di sini bukan hanya membaca literatur tetapi juga membaca lingkungan sekitar (lingkungan alam dan lingkungan sosial). Tentu saja yang dimaksud dengan membaca lingkungan alam dan sosial di sini adalah melakukan pengamatan secara mendalam terhadap lingkungan alam dan sosial untuk memperoleh informasi yang lengkap tentang lingkungan alam dan sosial tersebut. Dengan memiliki informasi yang lengkap yang diperoleh sebagai akibat membaca literatur dan melakukan pengamatan terhadap lingkungan alam dan sosial maka kita akan memiliki banyak bahan untuk menulis. Ketika sudah memiliki banyak bahan untuk menulis, hal yang harus dilakukan adalah langsung menuliskannya jangan sekali-kali menunda-nunda.

Untuk dapat menulis sehingga berhasil menerbitkan buku, hal yang harus dilakukan adalah sebagai berikut:

1.      Memiliki motivasi dan tujuan

seseorang harus memiliki motivasi dan tujuan dalam menulis. Motivasi merupakan dorongan yang membuat sesorang mau menulis. Motivasi bisa berasal dari dalam diri (motivasi instrinsik), bisa berasal dari luar diri (motivasi ekstrinsik). Sedangkan tujuan adalah hal yang ingin dicapai dalam kegiatan menulis. Semua usaha yang diakukan dalam menulis dilakukan untuk meraih tujuan ini.  Tujuan seseorang dalam menulis bisa berbeda-beda. Tujuan menulis bisa digolongkan ke dalam 4 jenis, yaitu:

a.      Profit

Profit/keuntungan menjadi tujuan dalam menulis buku. Keuntungan yang bisa diperoleh adalah keuntungan finansial, sehingga menulis menjadi jalan untuk memperoleh uang untuk memenuhi hajat hidup.

b.      Tuntutan profesi

Ada beberapa profesi yang mengharuskan orang yang berprofesi tersebut mahir menulis. Dengan menulis seseorang mendapatkan pengakuan sebagai profesional, dan dapat meningkatkan karir dengan mudah. Contoh profesi yang mengharuskan orang yang bekerja di situ mahir menulis adalah guru dan dosen.

c.       Pengakuan

Beberapa orang menulis karena ingin diakui oleh orang lain atau komunitasnya sebagai orang yang piawai dalam menulis sehingga menerbitkan banyak buku, artikel, dan jenis literatur lainnya.

d.      Hobi

Sebagian orang menulis itu karena memang dia memiliki hobi menulis. Bagi orang tersebut hobi adalah kegiatan yang menyenangkan dan menghibur hati. Dengan menulis mereka melepaskan kegundahan hati sehingga hati menjadi tenang dan Bahagia.

2.      Mulai menulis hal yang ringan dan diminati

Langkah selanjutnya setelah memiliki motivas dan tujuan menulis adalah menuliskan apa saja yang ada dalam pikiran. Tulislah hal yang ringan, mudah, dan dekat dalam kehidupan, seperti tentang sahabat, keluarga, pekerjaan, kegiatan sehari-hari dan sebagainya. Hal ini sangat disarankan bagi penulis pemula, Bagi penulis pemula tidak disarankan menulis dari hal-hal yang berat, serius, dan belum dikuasai.

3.      Tunda mengedit tulisan

Tuangkan dulu semua ide yang ada di kepala ke dalam bentuk tulisan. Usahakan untuk tidak melakukan pengeditan sebelum semua ide tertuang. Barulah, ketika semua ide telah tertuang ke dalam tulisan maka langkah selanjutnya adalah melakukan editing atau perbaikan tulisan seperti kesalahan ketik, tanda baca, struktur kalimat, pemilihan kata, dan lain sebagainya.

4.      Berlatih menulis setiap hari

Sangat penting bagi penulis pemula untuk berlatih menulis setiap hari atau minimal 3 kali seminggu. Hal ini agar terbiasa melakukan curahan ide ke dalam bentuk tulisan. Untuk awal-awal menulis bisa menulis 100 kata perhari, jika sudah terbiasa naik menjadi 150 kata, dilanjutkan menulis pentigraf (3 paragraf) per hari, dan terus bertambang jumlah katanya sampai mampu menulis 1000 kata per hari.

5.      Membuat peta konsep sebelum menulis

Jika sudah terbiasa menulis maka Langkah selanjutnya adalah membuat kerangka /peta konsep sebelum menulis. Hal ini berguna apabila ingin menerbitkan tulisan menjadi buku. Peta konsep ini dikembangkan dari ide yang akan ditulis. Setelah konsep dibuat, kita mengembangkan konsep menjadi tulisan yang utuh dan lengkap.

6.      Mengikuti menulis buku antologi

Menulis buku antologi penting dilakukan oleh pemula. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan diri dalam menulis. Berbeda dengan buku solo yang proses penulisannya cukup berat, menulis buku antologi lebih ringan karena tulisan yang diketik lebih sedikit karena dikerjakan secara “keroyokan”.

7.      Mengikuti lomba/tantangan menulis

Jika sudah terbiasa menulis kemudian pernah membuat buku antologi maka proses selanjutnya untuk menjadi penulis yang lebih mahir adalah mengikuti berbagai lomba atau tantangan menulis. Contoh lomba yang dapat diikuti adalah lomba penulisan puisi, cerpen, novel, artikel/karya ilmiah, dan sebagainya. Contoh tantangan yang bisa diikuti adalah tantangan menulis buku solo di penerbit mayor, tantangan menulis di blog setiap hari, dan lain-lain.

Selanjutnya agar tulisan lebih berkualitas dan enak dibaca kita harus memperhatikan kaidah dasar penulisan. Kita harus mengupayakan agar tulisan sesuai kaidah yang berlaku. Ada banyak kaidah dalam penulisan namun untuk menyederhanakan masalah kita harus memperhatikan agar tidak terjadi kesalahan yang umum terjadi dalam penulisan. Kesalahan umum yang sering terjadi dalam penulisan adalah: (1) penggunaan huruf kapital yang tidak tepat; (2) paragraph terlalu Panjang, sebaiknya paragraph maksimal sekitar 10 kalimat saja; (3) kesalahan penggunaan tanda baca; (4) kesalahan penggunaan kata baku; (5) pemborosan kata/kalimat tidak efektif; (6) penggunaan istilah dari Bahasa asing yang salah;  dan (7) penggunaan kata “di” sering tertukar antara sebagai kata depan dan imbuhan.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa banyak hambatan yang dialami oleh penulis pemula ketika membiasakan diri menulis. Hambatan tersebut bisa diatasi dengan banyak membaca, dan setelah mendapatkan pengetahun/informasi yang cukup, kita harus terus mencurahkannya dalam bentuk tulisan jangan menunda-nunda. Untuk dapat menulis dan menerbitkan buku hal yang harus dilakukan oleh penulis pemula adalah: (1) tentukan motivas dan tujuan menulis; (2) mulai menulis hal yang ringan dan diminati; (3) tuangkan dulu semua ide, setelah itu baru mengedit tulisan; (4) berlatih menulis setiap hari secara bertahap; (5) menulis dengan membuat peta konsep/kerangka terlebih dahulu; (6) bergabung untuk menulis buku antologi; dan (7) mengikuti berbagai lomba/tantangan menulis.

Komitmen Menulis di Blog





Penyampaian materi ke-8 pelatihan Belajar Menulis PGRI Gelombang ke-27 dilaksanakan pada tanggal 7 September 2022, seperti biasa dimulai pukul 19.00-21.00 WIB. Materi ke-8 ini bertema “Komitmen Menulis di Blog” dimoderatori oleh Pak Lim Ching Shien dan disampaikan oleh Drs Dedi Dwitagama, M.Si., seorang narasumber yang luar biasa hebat karena memiliki segudang prestasi, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Beliau juga seorang trainer hebat yang telah melakukan ribuan kali training semenjak tahun 1990.

Pak Dedi Dwitagama adalah seorang guru yang sebelumnya pernah menjadi guru dan kepala sekolah. Jadi, beliau pernah bekerja sebagai guru selama 17 tahun kemudian diangkat menjadi kepala sekolah selama 16 tahun. Karena masa jabatan kepala sekolah maksimal 16 maka Pak Dedi Dwitagama kembali menjadi guru saat ini.

Ketika menjadi guru, beliau pernah beberapa kali menjadi peringkat pertama guru berprestasi tingkat provinsi DKI Jakarta. Ketika menjadi kepala sekolah pun beliau beberapa kali menjadi peringkat pertama kepala sekolah berprestasi tingkat provinsi DKI Jakarta. Prestasi Pak Dedi Dwitagama tidak hanya dalam bidang pendidikan tetapi juga dalam bidang-bidang di luar Pendidikan. Beliau juga sering melakukan kolaborasi dengan organisasi-organisasi luar negeri seperti ILO, UNICEF, Dan pretasi yang paling menonjol dari Pak Dedi Dwitagama adalah menjadi trainer sukses yang telah melakukan ribuan kali training terhadap ratusan ribu peserta pelatihan semenjak tahun 1990.

Menurut Pak Dedi Dwitagama Blog adalah bentuk aplikasi web yang berbentuk tulisan-tulisan yang diposting pada sebuah halaman web. Saat ini blog tidak hanya dapat memuat tulisan tapi juga bisa memuat foto/gambar, video, atau tautan, tetapi memang tulisan menjadi muatan yang utama. Tulisan-tulisan ini sering kali dimuat dalam urutan isi terbaru dahulu sebelum diikuti isi yang lebih lama, meskipun tidak selamanya demikian. Situs web seperti ini biasanya dapat diakses oleh semua pengguna Internet sesuai dengan topik dan tujuan dari si pengguna blog tersebut. Sedangkan komitmen adalah tindakan untuk melakukan sesuatu yang didahului oleh tekad yang kuat untuk melaksanakan Tindakan tersebut. Dengan kata lain, komitmen merupakan bentuk pelaksanaan kewajiban yang mengikat kepada orang lain, hal tertentu, atau tindakan tertentu.

Penyampaian materi pelatihan selanjutnya dilakukan dengan metode tanya-jawab. Berikut rangkuman beberapa tanya-jawab tersebut.

Pertanyaan

Bagaimana caranya agar kita semua memiliki komitmen menulis di blog?

Jawaban

Niat dan tekad yang kuat untuk komitmen adalah kunci untuk bisa berkomitmen. Setiap orang berbeda beda dalam suatu hal, ada yang komitmen ada yang tidak komitmen. Kita tidak usah terlalu memikirkan orang lain yang penting diri sendiri memiliki komitmen menulis di blog.

Pertanyaan

Bagaimana kiat kita menulis di blog supaya apa yang kita publish banyak yang baca.

Jawaban

Promo intensif di berbagai media sosial yang dimiliki seperti WA, Facebook, Twitter, Instagram. Untuk WA coba promosikan di grup-grup yang diikuti dan post link blog di status.

Pertanyaan

Bagaimana cara kita melawan rasa malas menulis? Karena bagi pemula seperti saya, hal tersebut sangat sering terjadi. Apalagi kalau ada banyak kesibukan lainnya.

Jawaban

Motivasi harus kuat dan bergabunglah dengan para penulis di grup-grup media sosial. Motivasi yang kuat dapat mengalahkan rasa malas, memiliki teman-teman sesama penulis menularkan semangat dalam menulis.

Pertanyaan

Banyak hal kita utk berkomitment. Komitment pd diri sendiri berbeda dg komitment dlm rumah tangga. Nah klo komitment menulis di blog seperti apa pak?

Jawaban

Komitmen di blog, adalah komitmen menerbitkan kontent di blog anda dalam jangka waktu yang panjang dan secara rutin; bisa tiap hari, tiap minggu, tiap bulan, dsb

Pertanyaan

Apakah ada wadah dalam memposting blog? Ataukah lewat share caranya pak?

Jawaban

banyak pilihan wadahnya; bisa wordpress, blogger, kompasiana, retizen, guraru, blog yang gratis atau membuat wadah sendiri yang berbayar, kemudian nikmati keputusan wadah pilihan anda sendiri itu. Untuk sharenya bisa lewat instagram story, twitter, group WA, facebook, dsb.

Pertanyaan :

Bagaimana cara menulis di blog menggunakan simbol matematika seperti pecahan, sigma, dll?

Jawaban

Kita bisa tulis di Ms. Word dulu lalu di capture or screenshoot dan pasang di blog sebagai gambar atau lampirkan file tulisan yang ada simbolnya dalam bentuk .coc di postingan anda

Pertanyaan

Bagaimana membuat tulisan kita selalu di tunggu-tunggu oleh para pembaca, baik di blog pribadi maupun blog rame-rame? 

Jawaban

Usahakan kita membuat tulisan yang bermanfaat buat orang banyak, maka orang akan menunggu tulisan kita untuk diambil manfaatnya, misal resep, bahan ajar, lagu, puisi, cerpen, tips dan trik, atau apa saja yang menarik orang lain. Selain itu bisa juga menggunakan teknik MIRRORING; yaitu membayangkan apa yang ingin anda lihat atau baca di blog orang lain, setelah itu tuliskan saja tentang yang Bapak inginkan/baca tersebut di blog Bapak sendiri.

Pertanyaan

Apakah kita dalam menulis di blog harus mengkhususkan diri dalam satu bidang tertentu atau boleh dicampur dengan bidang lain?

Jawaban

Bebas, bisa satu bidang, bisa dicampur beberapa bidang dalam satu blog karena itu blog sendiri. Yang menentukan adalah Bapak sendiri, Bapak nyaman yang mana satu blog satu bidang atau satu blog beberapa bidang semua diserahkan kepada Bapak pemiliknya.

Pertanyaan

Apakah kita perlu banyak wadah, tulisan kita bisa dibaca banyak orang? Bagaimana awal bapak bisa menjadi seluar biasa ini. Apakah merintis sendiri dari bawah atau punya bacground orang tua yg memiliki skill di bidang itu, Pak?

Jawaban

Wadah tidak perlu banyak boleh Cuma satu misalnya blog di blogger.com yang harus banyak itu promosi tulisan kita di blog yang kita miliki. Coba maksimalkan semua media sosial yang ada miliki (WhatsApp, Facebook, Twitter, Instagram, dll) untuk mempromosikan tulisan di blog yang kita miliki.

Pertanyaan

Bagaimana cara menulis di blog itu selalu ada ide-ide yang bisa langsung ditulis dan enak di baca?

Jawaban

Banyak membaca buku atau literatur lain, banyak membaca informasi terkini, banyak berkunjung ke blog-blog milik orang lain. Agar tulisan enak dibaca banyak-banyak berlatih menulis dan menelaah tulisan kita lalu bandingkan dengan yang diri sendiri inginkan, lalu perbaiki tulisan tersebut agar sesuai dengan yang diinginkan, intinya banyak berlatih dan mengevaluasi dan memperbaiki tulisan.

Pertanyaan

Bagaimana  cara mengelola  The Power of Kepepet dalam keseharian menulis blog? mohon pencerahannya Pak! Karena kalau udah kepepet atau deadline ide datang  terima kasih sebelumnya, Pak.

Jawaban

Kalau bisa menulis hanya ketika kepepet maka lakukanlah dan nikmatilah, tetapi sebaiknya mencoba menulis di awal waktu jangan menunggu deadline. Kalau tetap tidak bisa ya menulislah ketika kepepet dan nikmati itu.

Pertanyaan

Blog bapak banyak sekali, apakah ada kendala selama menulis di blog, Pak? Sya blogger baru Pak, belum bisa meramu spaya blog saya kelihatan menarik? Adakah cara supaya blog kita enak dilihat dan tulisannya bagus?

Jawaban

Kendaa bisa macam-macam ... yg paling dominan malas dan kering ide. 2. spy blog kita menarik, lihat blog teman" yang menurut anda bagus, ikuti polanya, pakai template yg sama, rubah warna sesuai selera, tambahkan foto dan video yg mendukung posting anda ... bayangkan apakah org bakal tertarik lihat blog anda .... or tanya kpd org trdekat, sahabat or kerabat, atau murid anda ttg blog anda, revisi stiap anda merasa perlu direvisi

Pertanyaan

Berbicara tentang Copy paste, bagaimana cara kita memodifikasi tulisan yang kita ambil dari tulisan orang lain supaya tidak terlihat copy paste, karena terkadang merasa bagian tersebut penting, sehingga kita salin tempel sebagian besar tulisannya?

Jawaban

Begini caranya … ibu copy tulisan yang bagus itu, lalu di bawahnya ibu ketik tulisan sesuai cara bertutur ibu dengan kalimat gaya ibu untuk mengungkapkan konten yang penting tersebut. Jika sudah selesai hapus tulisan orang lain tersebut, kemudian terbitkan tulisan ibu tadi.

Itulah beberapa cuplikan tanya jawab yang dilakukan. Sebenarnya masih banyak tanya jawab yang terjadi, di sini hanya bisa disajikan beberapa saja.

Dari penyajian materi dapat disimpulkan bahwa komitmen menulis di blog adalah kegiatan secara terus menerus menulis di blog sebagai perwujudan dari niat dan tekad yang dimiliki sebelumnya. Kegiatan menulis di blog bisa dilakukan kapan saja dan frekuensi menulis bisa berapa kali saja dalam rentang waktu tertentu, tapi rentang waktu ini jangan terlalu lama. Intinya kita harus terus membiasakan diri menulis di blog, tidak membiarkan hari-hari berlalu begitu saja tanpa menulis di blog.

 

 


Ini Takdir

Disclaimer:  Tulisan ini bukan untuk menggurui tetapi hanya sekedar berbagi pengalaman dan pemahaman mengenai esesnsi dari takdir. Saya pun ...