Tema pembelajaran pada modul 1.4 adalah budaya positif, dimana materi budaya posistif ini terdiri dari beberapa materi di dalamnya yaitu:
1. disiplin positif dan kebajikan universal
2. teori motivasi, hukuman dan penghargaan, restitusi
3. keyakinan kelas
4. kebutuhan dasar manusia dan dunia berkualitas
5. lima posisi control
6. segitiga restitusi.
Saya mempelajari
modul ini membutuhkan waktu sekitar 2 minggu. Selama belajar saya merasa
bersemangat, tercerahkan, sekaligus tersadarkan tentang bagaimana caranya
menciptakan budaya positif di sekolah. Berikut adalah pencerahan dan kesadaran
yang saya peroleh setelah mempelajari modul 1.4 ini.
1. Definisi disiplin yang sebenarnya
Dulu saya mengira bahwa orang yang disiplin itu adalah
orang yang menaati peraturan apapun motivasinya apakah karena takut hukuman
atau ingin mendapatkan hadiah atau imbalan. Setelah mempelajari modul ini saya
mengetahui bahwa disiplin yang seperti itu bukanlah disiplin yang positif
tetapi displin yang negative. Yang paling baik adalah orang atau murid di
sekolah berdisiplin itu bukan karena takut dihukum atau ingin mendapat hadiah
tetapi karena keyakinan atau nilai-nilai yang dianutnya (motivasi instrinsik),
disipilin seperti inilah yang disebut disiplin positif. Oleh karena itu saya
bertekad untuk menerapkan disiplin positif ini di sekolah.
2. Teori motivasi, hukuman dan penghargaan, dan restitusi
Ternyata setiap perilaku dilakukan karena ada motivasi
di dalamnya walaupun perilaku tersebut tidak disukai. Hukuman dan penghargaan
hanya membuat orang atau murid menaati peraturan hanya sesaat saja seiring
berjalan waktu murid bisa kembali melakukan pelanggaran. Restitusi adala
istilah baru yang saya kenal, ternyata restitusi adalah usaha guru untuk
mengembalikan siswa kepada kelompoknya, menyadari kesalahannya, mengetahui cara
memperbaiki kesalahan, memiliki tekad untuk memperbaiki kesalahan, melaksanakan
perbaikan kesalahan sehingga diterima kembali oleh teman-temannya. Yang akan
saya lakukan ke depan adalah melakukan restitusi agar murid memiliki motivasi
instrinsik dalam menaati peraturan sekolah.
3. Keyakinan kelas
Ini adalah istilah baru yang saya kenal. Ternya ada
hierarki peraturan untuk membuat siswa menaati peraturan yaitu (1) peraturan
sekolah/kelas; (2) kesepakatan sekolah/kelas; dan (3) keyakinan sekolah/kelas.
Keyakinan kelas merupakan level tertinggi dalam penanaman disiplin positif
karena keyakinan kelas berasal dari nilai-nilai kebajikan universal yang
diyakini oleh semua orang dan telah disepakati oleh semua anggota kelas. Setiap
pelanggaran terhadap peraturan sekolah harus dikembalikan kepada keyakinan
kelas ini. Ke depan saya akan membuat keyakinan kelas ini bersama-sama dengan
murid, dan keyakinan yang telah disepakati ditandatangani dan dipajang di
dinding kelas.
4. Kebutuhan dasar manusia
Ternyata semua perilaku manusia diperuntukan agar
kebutuhan dasar mereka bisa terpenuhi. Dunia berkualitas adalah bayangan
keadaan diri dan lingkungan yang sesuai dengan keinginan diri sebagai akibat
berbagai peristiwa yang telah dialami. Sebagai guru saya akan berusaha memenuhi
semua kebutuhan dasar murid agar mereka dapat belajar dengan nyaman sehingga
kodrat dirinya bisa berkembang optimal dan agar dunia berkualitas mereka
terwujud.
5. Lima posisi control guru
Saya baru mengetahui ternyata ada 5 posisi control
guru terhadap murid. Sebelum belajar modul ini saya menyangka bahwa posisi
control guru itu hanya sebagai penghukum dan pemberi penghargaan. Ternyata
posisi kontrol guru terhadap siswa yang melanggar peraturan itu ada 5 yaitu
sebagai penghukum, teman, pembuat rasa bersalah, pemantau, dan manajer. Dan
posisi kontrol guru yang terbaik adalah sebagai manajer, dimana ketika sebagai
manager, guru mengelola perilaku siswa agar mau mengubah perilaku yang
melanggar peraturan menjadi menaati peraturan di sekolah. Selama ini saya
sering berposisi sebagai pemberi hukuman dan teman bagi siswa, setelah
mempelajari modul ini saya akan berubah memosisikan diri sebagai manajer
terhadap murid yang melanggar peraturan agar mereka menaati peraturan atas
kesadaran terhadap keyakinan kelas yang telah disepakati.
6. Segitiga restitusi
Ini merupakan istilah yang baru saya ketahui. Dalam
segitiga restitusi kita melakukan proses restitusi menggunakan 3 langkah yaitu
menstabilkan identitas, validasi kesalahan, menanyakan keyakinan. Selama ini
kalau ada siswa yang melanggar saya biasanya menasehati dengan cara: (1)
menanyakan penyebab melakukan kesalahan; (2) menanyakan kesesuaian perbuatan
siswa dengan peraturan; dan (3) meminta siswa untuk menaati peraturan untuk ke
depannya. Oleh karena itu saya akan menerapkan segitiga restitusi ini kepada
siswa yang melanggar aturan agar mereka menjadi taat peraturan karena kesadaran
diri terhadap nilai-nilai, dalam hal ini keyakinan kelas yang telah disepakati.
Setelah mempelajari materi modul 1.4 ada beberapa
pertanyan yang muncul di benak saya, pertanyaan tersebut yaitu sebagai berikut.
1. Apakah hukuman tidak diperbolehkan sama sekali
walaupun bersifat mendidik siswa.
Sebagai contoh
siswa yang terlambat datang ke sekolah sehingga tidak mengikuti sebagian
pembelajaran dihukum dengan mempelajari secara mandiri materi pelajaran di
rumah dan dibuatkan ringkasan materi pelajarannya dan disetorkan kepada guru.
Ternyata setelah mengikuti sesi Elaborasi Pemahaman bersama instruktur
pertanyaan ini terjawab yaitu hukuman yang bersifat mendidik dan ada
hubungannya dengan kesalahan murid bukan dinamakan hukuman tetapi dinamakan
konsekuensi atas perbuatan salah yang dilakukan murid. Konsekuensi perbuatan
yang salah sebagai akibat melanggar peraturan ini harus dikomunikasikan kepada
murid agar mereka memahami konsekuansi perbuatannya dan ketika konsekuensi
diberikan karena melanggar, mereka tidak merasa dizalimi tetapi akan
memahaminya. Namun pemberian konsekuensi bisa dilakukan jika terlebih dahulu
guru melakukan segitiga restitusi sehingga murid akan merasa dihargai,
kebutuhan dasarnya terpenuhi dan menyadari nilai-nilai atau keyakinan kelas
yang telah dilanggar.
2. Apakah pemberian hadiah tidak boleh dilakukan sama
sekali bagi murid yang paling berprestasi atau menaati peraturan?
Pertanyaan ini
terjawab lagi dalam sesi Elaborasi pemahaman. Pemberian hadiah boleh dilakukan,
hanya sebaiknya hadiah yang akan diberikan tidak diberitahukan sebelumnya
kepada murid. Menurut instruktur yang paling tepat diberikan kepada siswa yang
paling taat peraturan atau berprestasi adalah pemberiaan penghargaan. Pemberian
penghargaan ini pun tidak mesti berupa barang bisa berupa ucapan selamat atau
terima kasih, dan sejenisnya. Pemberian penghargaan pun sebaiknya jangan
diberitahukan sebelumnya kepada murid.
3. Apakah segitiga restitusi harus dilakukan terhadap
semua kasus pelanggaran yang dilakukan murid?
Setelah
berdiskusi dengan teman fasilitator dan mengikuti sesi Elaborasi Pemahaman
dapat di temukan jawaban bahwa tidak semua kasus pelanggaran peraturan
diselesaikan dengan segitiga restitusi. Kita boleh menggunakan sebagian dari 3 langkah
segitiga restitusi jika dirasa cukup untuk menangani suatu pelanggaran. Biasanya
kalau pelanggaran ringan dengan 2 langkah dari segitiga restitusi saja sudah
cukup untuk membuat siswa memiliki kesadaran untuk tidak mengulangi lagi
pelanggarannya. Untuk pelanggaran berat, memang segitiga restitusi perlu
diterapkan dengan lengkap.
4. Bagaimakan menerapkan budaya positif di sekolah saya?
Melalui refleksi
dan penelaahan terhadap berbagai hal yang ada di sekolah, saya dapat menemukan
jawaban yaitu sebagai berikut.
· Lakukan dulu penciptaan budaya positif di kelas yang
saya ampu dulu sampai terlihat hasilnya membudaya pada diri murid.
· Lakukan penciptaan budaya positif kepada semua murid
yang ada di sekolah dengan langkah pertama menghubungi kepala sekolah untuk
memberitahukan, meminta izin dan dukungan terhadap rencana penciptaan budaya
positif di sekolah. Langkah kedua adalah berbagi pengetahuan, pemahaman
mengenai budaya positif sekaligus mengajak mereka menciptakan budaya positif
kepada murid-murid di kelas yang mereka ampu. Dan langkah terakhir adalah melakukan
gerakan penciptaan budaya positif bagi semua murid dengan melibatkan semua guru
dan kepala sekolah.
Mempelajari
materi budaya positif di modul 1.4 ini membuat saya kembali mengingat
perjalanan saya selama menjadi guru. Harus saya akui bahwa selama ini saya
kurang dalam penciptaan budaya positif di sekolah. Saya masih sering berposisi
sebagai penghukum bagi murid yang melanggar peraturan sekolah. Posisi kontrol lain
yang sering dilakukan adalah sebagi teman, pembuat rasa bersalah, dan pemantau.
Untuk peran sebagai manajer hampir tidak pernah dilakukan karena memang belum ada
keyakinan kelas.
Setelah
mempelajari modul ini saya berjanji akan menerapkan pengetahuan yang diperoleh
dari modul ini dengan menciptakan budaya positif di sekolah, dimana budaya
positif memerlukan penerapan disiplin positif secara berkelanjutan di sekolah.
Saya akan mengubah peran kontrol saya menjadi sebagai manajer, memenuhi kebutuhan
dasar hidup peserta didik, membuat keyakinan kelas pada tahun ajaran baru, dan
melakukan segitiga restitusi terhadap murid yang melanggar peraturan.
Penciptaan budaya positif yang akan saya lakukan berdasarkan pada materi
modul-modul sebelumnya yaitu: materi pada filosfi pendidikan Indonesia-Ki Hajar
Dewantara, diawali dengan menentukan visi penciptaan budaya positif, dan dalam
pelaksanaaanya mengoptimalkan nilai-nilai dan peran saya sebagai guru penggerak.
Materi modul 1.4
ini masih terkait dengan materi pada modul-modul sebelumnya yaitu filosofi
pendidikan Ki Hajar Dewantara, nilai dan peran guru penggerak, dan visi guru
penggerak. Keterkaitan materi modul 1.4 dengan materi modul-modul sebelumnya
adalah sebagai berikut.
1. Filosofi Pendidikan Indonesia-Ki Hajar dewantara
menjadi pondasi bagi terciptanya budaya positif di sekolah. Penciptaan budaya
positif di sekolah memerlukan guru yang memiliki nilai-nilai dan berperan
sebagai guru penggerak. Untuk mewujudkan budaya positif perlu dibuatkan dulu
visi terciptanya budaya positif di sekolah sebagai gambaran kondisi masa depan
siswa, dimana visi ini akan berusaha diwujudkan dengan gerakan perubahan berupa
penciptaan budaya positif di sekolah
2.
Keterkaitan materi 1,4 dengan materi pada modul sebelumnya dapat
digambarkan sebagai berikut.
Seorang CGP (Calon Guru
Penggerak) harus menerapkan semua ilmu yang diperoleh selama Pendidikan Guru
Penggerak (PGP) kepada murid dan rekan sejawat di sekolahnya. Oleh karena itu
saya bertekad untuk menerapkan pengetahuan budaya positif ini kepada murid dan
rekan sejawat di sekolah. Penciptaan budaya positif pasti akan menemukan
berbagai kesulitan, tetapi berdasarkan pengalaman teman-teman CGP
angkatan-angkatan sebelumnya yang telah menerapkan budaya positif, mereka
berpesan agar dalam penerapan budaya positif seorang guru penggerak harus tetap
optimis, bersemangat, ulet, konsisten, kerja keras, dan pantang menyerah.
Dengan memiliki karakter tersebut semua kesulitan akan dapat diatasi. Semoga
saja ketika saya melakukan aksi nyata di sekolah yaitu penciptaan budaya
positif di sekolah saya dapat melaksanakannya dengan baik, memiliki karakter
yang disebutkan di atas sehingga semua kesulitan dapat diatasi, aamiin.
.jpg)