Menulis semudah
telor ceplok merupakan materi ke-12 Pelatihan Belajar Menulis PGRI Gelombang
Ke- 27. Bertindak sebagai moderator adalah Bu Widya Setianingsih dan sebagai
moderator adalah Bu Lilis Eka Herpianti Sutikno; seorang kepala sekolah SMP
yang aktif dalam dunia literasi di NTT (Nusa Tenggara Timur).
Bertempat
tinggal di kota Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur, Bu Lilis Sutikno aktif
dalam menggerakan orang-orang di
sekitarnya untuk bergelut dalam dunia literasi. Beliau pun menggagas
pemberantasan buta huruf di lingkungan tempat tinggalnya, sehingga saat ini di
daerah tempat tinggalnya bias dikatakan terbebas dari buta huruf. Dalam dunia
literasi beliau aktif berkecimpung dalam organisasi guru penulis yang disebut
AGUPENA (Asosiasi Guru Pemulis Indonesia), dan sering menjadi Narasumber pada
pelatihan menulis yang diselenggarakan oleh AGUPENA. Selama aktif dalam dunia
literasi beliau telah menghasilkan buku solo sebanyak 4 buah dan buku antologi
sebanyak 10 buah. Beliau pun pernah menjadi penulis di majalah yang diterbitkan
oleh Kemdikbud. Selain aktif dalam dunia literasi secara langsung beliau pun
saat ini aktif di belakang layar yaitu menjadi editor buku. Sampai saat ini
telah puluhan yang telah sukses dieditori oleh beliau.
Pertemuan kali
ini di awali dengan pemberian semangat dari Bu Lilis kepada semua peserta
pelatihan. Bu Lilis menceritakan bahwa dulu ayam tepung goreng (fried chicken)
tidak laku; sangat sedikit yang menyukai, mungkin karena tampilannya dan
rasanya yang aneh tidak seperti masakan olahan ayam lainnya. Ketidaklakuan ayam
tepung goreng ini tidak menyebabkan penjual pertamanya putus asa beliau tetap
berdagang dan mencoba terus mengenalkannya kepada masyarakat. Akhirnya
perjuangan pedagang tersebut berhasil karena ayam tepung gorengnya laku keras
sehingga dia berhasil mendirikan banyak outlet ayam tepung goreng di negaranya.
Saking lakunya ayam tepung goreng banyak yang meniru dan pedagang tersebut
berdagang ayam tepung goreng, dan bahkan
dia berhasil membuat outlet di ratusan negara sampai saat ini. Narasumber
melanjutkan bahwa jika buku yang ditulis oleh peserta saat ini jika belum
banyak yang menyukai janganlah berputus asa tetapi hal tersebut harus menjadi
pemacu agar bagaimana buku yang ditulis disukai oleh pembaca sehingga
orang-orang mau membeli dan membaca buku yang kita tulis. Kejadian dan semangat
yang dimiliki oleh pedagang ayam tepung goreng tersebut harus menjadi contoh
bagi semua peserta pelatihan belajar menulis.
Menulis merupakan
keterampilan berbahasa yang paling tinggi karean untuk bias menulis dengan baik
seseorang harus menguasai dulu keterampilan berbahasa yang lainnya yaitu
mendengarkan berbicara dan membaca. Tidaklah mengherankan kalau saat ini masih
banyak orang yang belum bias menulis dengan baik karena mungkin masih belum
menguasai dengan baik tiga keterampilan bahasa tadi.
Selain itu untuk
bisa menghasilkan tulisan yang baik seorang penulis harus membuat persiapan
yang matang sebelum menulis. Persiapan tersebut diantaranya adalah mengumpulkan
bahan-bahan untuk ditulis sesuai tema tulisan yang telah ditentukan sebelumnya.
Bahan-bahan tulisan bisa diperoleh dengan berbagai cara seperti bisa dengan
cara membaca berbagai literature, melakukan pengamatan, bereksperimen,
melakukan wawancara, dan sebagainya. Oleh karena itu unuk menghasilkan tulisan
yang baik seorang penulis harus melewati proses yang bisa dikatakan tidak
mudah.
Lalu,
bagaimanakah caranya agar menulis itu mudah semudah membuat telur ceplok.
Menurut Bu Lilis cara agar menulis mudah seperti membuat telur ceplok adalah
menuliskan pengalaman diri sendiri. Tentu semua orang memiliki pengalaman dan
pengalamannya tentu berbeda-beda. Mungkin kita berpikir apa istimewanya
pengalaman diri sendiri ditulis? Apakah ada yang mau membaca pengalaman saya?
Ternyata
pengalaman diri sendiri yang menurut penilaian sendiri adalah pengalaman yang
biasa saja tetapi bagi orang lain pengalaman kita itu bisa sangat menarik dan bisa
dijadikan pembelajaran. Sebagai contoh pengalaman hidup yang kita sangka biasa saja adalah
pengalaman hidup seseorang yang dari kecil hingga dewasa tetap tinggal di
kampungnya tidak pernah sekalipun merantau ke kota atau daerah lain. Lalu orang
ini menuliskan cerita hidupnya dari masa kanak-kanak hingga dewasa yang
dihabiskan di kampong halamannya. Ternyata tulisannya banyak yang mau
membacanya karena rasa penasaran pembaca mengapa orang tersebut tetap tinggal
di desa tanpa pernah mau merantau ke kota atau ke daerah lainnya. Para pembaca
penasaran mengapa orang tersebut tidak pernah tergiur dengan kehidupan kota
yang glamor. Sedangkan informasi tentang kehidupan kota pasti sangat sering
dijumpai oleh orang tersebut karena saat ini kehidupan di desa tidak seperti
dulu, saat ini di desa informasi lebih mudah didapatkan oleh warga desa. Dari
sini dapat diketahui bahwa sesuatu yang dialami oleh orang lain dan tidak
dialami oleh diri sendiri menarik untuk diketahui jalan ceritanya. Oleh karena
itu menuliskan pengalaman sendiri merupakan hal menarik bagi orang lain untuk
membacanya. Jadi jangan takut tidak ada yang membaca jika kita menuliskan
pengalaman sendiri dan menerbitkan dalam bentuk buku atau jenis terbitan
lainnya.
Seperti telah
disebutkan di atas bahwa menuliskan pengalaman sendiri adalah kegiatan menulis
yang mudah semudah membuat telur ceplok. Hal ini karena menuliskan pengalaman
tidak memerlukan proses pendahuluan yang rumit sebelumnya. Menuliskan
pengalaman akan mengalir begitu saja karena semuanya sudah ada di dalam otak
penulisnya. Jari-jari penulis akan dengan lincah menari-nari di atas keyboard
laptop atau computer sampai semua pengalaman tercurah habis berubah menjadi
tulisan yang utuh. Berbeda jauh dengan menulis jenis karya non fiksi lain atau
fiksi yang memerlukan proses pendahulan seperti studi literature, melakukan
observasi, wawancara, melakukan eksperimen dan lain sebagainya, sedangkan
menuliskan pengalaman tanpa melalui proses yang telah disebutkan tadi sehingga
bisa dikatakan bahwa menulis pengalaman termasuk menulis non fiksi yang paling
mudah.
Pengalaman yang
dialami seseorang tentu berbeda-beda dan terus berubah sepanjang hidupnya.
Pengalaman hidup seseorang yang dituliskan dari lahir sampai meninggal atau
saat dituliskannya pengalaman orang tersebut disebut biografi (jika dituliskan
oleh orang lain, jika dituliskan oleh diri sendiri disebut otobiografi).
Menuliskan biografi atau otobiografi tentu memerlukan persiapan dan proses yang
panjang sehingga menuliskan biografi atau otobiografi tidak semudah membuat
telur ceplok. Yang semudah membuat telur ceplok adalah menuliskan
pengalaman-pengalaman tertentu dalam kehidupan kita, contohnya menuliskan
pengalaman selama bekerja di Korea Selatan bagi yang pernah bekerja di Korea
Selatan, berwisata ke Raja Ampat, dan sebagainya. Menuliskan pengalaman
tertentu dalam hidup tentu tidak akan terlalu panjang jika dibandingkan dengan
menulis biografi/otobiografi. Menuliskan pengalaman tertentu bisa disesuaikan
panjngnya sesuai kebutuhan. Tetapi ada yang harus diperhatikan kalau menuliskan
pengalaman yaitu tidak mungkin semua yang terjadi diceritakan secara detail
karena akan sangat panjang tulisan kita, dan ada hal-hal tertentu yang dialami
yang tidak boleh dituliskan karena alasan melanggar norma susila dan lain
sebagainya.
Walaupun
menuliskan pengalaman lebih mudah jika dibandingkan dengan menulis hal lain,
menulis pengalaman tetap memerlukan persiapan sebelumnya tetapi persiapan ini
tidaklah rumit. Adapun proses penulisan pengalaman dari persiapan sampai akhir adalah
di bawah ini.
1. menentukan
pengalaman apa yang mau ditulis
Seperti telah disebutkan sebelumnya sepanjang hidupnya
seseorang memiliki banyak ragam pengalaman. Orang yang mau menuliskan
pengalaman harus menentukan satu jenis saja pengalamannya yang akan ditulis.
Pengalaman tersebut harus dipilih yang sekiranya paling menarik atau
menginspirasi orang lain yang membacanya. Jika sudah menentuka satu jenis
pengalaman langkah selanjutnya adalah menentukan waktu dan banyaknya tulisan,
2. Tentukan bagian-bagian
(fase) dari pengalaman
Langkah selanjutnya setelah menentukan suatu
pengalaman untuk ditulis adalah membagi pengalaman tersebut ke dalam beberapa
fase. Contohnya ketika kita akan menuliskan pengalaman kita dalam menempuh
pendidikan, maka penglaman tersebut bisa dibagi menjadi beberapa fase yaitu:
fase sekolah PAUD/TK, SD. SMP, SMA, S-1, S-2, dan S-3. Pembagian pengalaman
menjadi beberapa fase ini memudahkan penulis dalam memfokuskan tulisan. Penulis
akan focus untuk menuliskan cerita dalam setiap fase dengan jelas dan utuh.
Sehingga pada akhirnya akan dihasilkan tulisan berupa cerita pengalaman yang
jelas dan utuh.
3. Tentukan waktu
dan panjang tulisan
Waktu penulisan pengalaman perlu untuk ditentukan
karena menulis merupakan kegiatan yang harus selesai dengan tenggat waktu yang
pasti. Jadi tidaklah tepat jika karena hanya menuliskan pengalaman kita menulis
tanpa menentukan target penyelesaian. Tetapi tentu saja target ini harus realistis
dan tanpa keterpaksaan. Waktu menuliskan pengalaman misalnya satu minggu, dua
minggu, satu bulan, dan sebagainya. Selain itu panjang tulisan pun harus
ditentukan, dan ini berkaitan dengan ukuran kertas dimana pengalaman kita
dituliskan. Pengalaman yang diceritakan lebih detail tentu akan membuat tulisan
lebih panjang. Panjang tulisan dan waktu penulisan berkaitan erat. Tulisan yang
panjang memerlukan waktu yang lebih lama dalam penulisannya, sehingga ketika
kita menentukan waktu penulisan harus disesuaikan dengan rencana panjang
tulisan yang akan ditulis.
4. Menuliskan
pengalaman
Menuliskan pengalaman merupakan proses mencurahkan
semua hal yang dialami ke dalam bentuk tulisan. Jika biasanya kita menceritakan
pengalaman kita kepada orang lain diungkap dengan media lisan maka menuliskan
pengalaman adalah bercerita tentang pengalaman kepada orang lain dengan media
tulisan. Jika persiapan menuliskan pengalaman yang telah disebutkan di atas
dilakukan sebelumnya maka prosen menulis pengalaman menjadi lebih mudah dan
terarah.
5. Tentukan jenis
penerbitan tulisan
Tulisan dari pengalaman dapat dicetak dan diterbitkan
dalam berbagai media seperti dalam bentuk buku solo, buku antologi, surat
kabar, majalah, blog pribadi, blog umum, dan sebagainya. Jika tulisan mau dibukukan kita harus menghubungi dan bekerja
sama dengan perusahaan percetakan buku. Langkah pertama tentukan dulu
percetakan buku yang akan diajak bekerjasama dalam mencetak buku, setelah itu
menghubungi percetakan tersebut. Langkah selanjutnya memenuhi persyaratan
mencetak buku yang diminta oleh percetakan. Setelah semua syarat terpenuhi kita
tinggal menunggu buku kita terbit. Dalam masa menunggu ini kita jangan pasif
tetapi harus selalu memonitor progref proses penerbitan buku dengan secara
berkala bertanya kepada percetakan tersebut.
6. Publikasi
tulisan
Setelah tulisan kita terbit dalam sebuah buku, koran,
majalah, blog, atau media terbit lainnya langkah kita selanjutnya adalah
mempromosikan tulisan pengalaman kita di media-media tersebut. Saat ini promosi
buku dan sebagainya sangat mudah dilakukan. Kita bisa mempromosikannnya di
media social dan blog yang kita miliki. Kita bisa mempromosikannya di Facebook,
Twitter, Instagram, Youtube, Tiktok, blog pribadi, dan blog umum seperti
kompasiana.com. Diharapkan jika kita mempromosikan buku atau jenis terbitan
lainnya orang lain akan mengenal dan tertarik dengan buku atau jenis terbitan
lainnya yang kita promosikan, sehingga pada akhirnya mereka mau membeli
dan/atau membaca tulisan pengalaman kita itu.
Berdasarkan paparan
di atas dapat disimpulkan bahwa menulis yang paling mudah adalah menuliskan
pengalaman yang kita miliki. Langkah-langkah yang harus dilakukan adalah (1)
menentukan pengalaman apa yang mau ditulis; (2) membagi pengalaman yang mau
ditulis ke dalam beberapa fase yang sesuai; (3) tentukan lama dan panjang
tulisan; (4) menuliskan pengalaman; (5) menentukan jenis penerbitan ( buku,
Koran, majalah, dll.); dan (6) publikasi tulisan pengalaman.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar