Jumat, 03 Februari 2023


 

Menulis semudah telor ceplok merupakan materi ke-12 Pelatihan Belajar Menulis PGRI Gelombang Ke- 27. Bertindak sebagai moderator adalah Bu Widya Setianingsih dan sebagai moderator adalah Bu Lilis Eka Herpianti Sutikno; seorang kepala sekolah SMP yang aktif dalam dunia literasi di NTT (Nusa Tenggara Timur).

Bertempat tinggal di kota Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur, Bu Lilis Sutikno aktif dalam menggerakan  orang-orang di sekitarnya untuk bergelut dalam dunia literasi. Beliau pun menggagas pemberantasan buta huruf di lingkungan tempat tinggalnya, sehingga saat ini di daerah tempat tinggalnya bias dikatakan terbebas dari buta huruf. Dalam dunia literasi beliau aktif berkecimpung dalam organisasi guru penulis yang disebut AGUPENA (Asosiasi Guru Pemulis Indonesia), dan sering menjadi Narasumber pada pelatihan menulis yang diselenggarakan oleh AGUPENA. Selama aktif dalam dunia literasi beliau telah menghasilkan buku solo sebanyak 4 buah dan buku antologi sebanyak 10 buah. Beliau pun pernah menjadi penulis di majalah yang diterbitkan oleh Kemdikbud. Selain aktif dalam dunia literasi secara langsung beliau pun saat ini aktif di belakang layar yaitu menjadi editor buku. Sampai saat ini telah puluhan yang telah sukses dieditori oleh beliau.

Pertemuan kali ini di awali dengan pemberian semangat dari Bu Lilis kepada semua peserta pelatihan. Bu Lilis menceritakan bahwa dulu ayam tepung goreng (fried chicken) tidak laku; sangat sedikit yang menyukai, mungkin karena tampilannya dan rasanya yang aneh tidak seperti masakan olahan ayam lainnya. Ketidaklakuan ayam tepung goreng ini tidak menyebabkan penjual pertamanya putus asa beliau tetap berdagang dan mencoba terus mengenalkannya kepada masyarakat. Akhirnya perjuangan pedagang tersebut berhasil karena ayam tepung gorengnya laku keras sehingga dia berhasil mendirikan banyak outlet ayam tepung goreng di negaranya. Saking lakunya ayam tepung goreng banyak yang meniru dan pedagang tersebut berdagang ayam tepung goreng, dan  bahkan dia berhasil membuat outlet di ratusan negara sampai saat ini. Narasumber melanjutkan bahwa jika buku yang ditulis oleh peserta saat ini jika belum banyak yang menyukai janganlah berputus asa tetapi hal tersebut harus menjadi pemacu agar bagaimana buku yang ditulis disukai oleh pembaca sehingga orang-orang mau membeli dan membaca buku yang kita tulis. Kejadian dan semangat yang dimiliki oleh pedagang ayam tepung goreng tersebut harus menjadi contoh bagi semua peserta pelatihan belajar menulis.

Menulis merupakan keterampilan berbahasa yang paling tinggi karean untuk bias menulis dengan baik seseorang harus menguasai dulu keterampilan berbahasa yang lainnya yaitu mendengarkan berbicara dan membaca. Tidaklah mengherankan kalau saat ini masih banyak orang yang belum bias menulis dengan baik karena mungkin masih belum menguasai dengan baik tiga keterampilan bahasa tadi.

Selain itu untuk bisa menghasilkan tulisan yang baik seorang penulis harus membuat persiapan yang matang sebelum menulis. Persiapan tersebut diantaranya adalah mengumpulkan bahan-bahan untuk ditulis sesuai tema tulisan yang telah ditentukan sebelumnya. Bahan-bahan tulisan bisa diperoleh dengan berbagai cara seperti bisa dengan cara membaca berbagai literature, melakukan pengamatan, bereksperimen, melakukan wawancara, dan sebagainya. Oleh karena itu unuk menghasilkan tulisan yang baik seorang penulis harus melewati proses yang bisa dikatakan tidak mudah.

Lalu, bagaimanakah caranya agar menulis itu mudah semudah membuat telur ceplok. Menurut Bu Lilis cara agar menulis mudah seperti membuat telur ceplok adalah menuliskan pengalaman diri sendiri. Tentu semua orang memiliki pengalaman dan pengalamannya tentu berbeda-beda. Mungkin kita berpikir apa istimewanya pengalaman diri sendiri ditulis? Apakah ada yang mau membaca pengalaman saya?

Ternyata pengalaman diri sendiri yang menurut penilaian sendiri adalah pengalaman yang biasa saja tetapi bagi orang lain pengalaman kita itu bisa sangat menarik dan bisa dijadikan pembelajaran. Sebagai contoh pengalaman  hidup yang kita sangka biasa saja adalah pengalaman hidup seseorang yang dari kecil hingga dewasa tetap tinggal di kampungnya tidak pernah sekalipun merantau ke kota atau daerah lain. Lalu orang ini menuliskan cerita hidupnya dari masa kanak-kanak hingga dewasa yang dihabiskan di kampong halamannya. Ternyata tulisannya banyak yang mau membacanya karena rasa penasaran pembaca mengapa orang tersebut tetap tinggal di desa tanpa pernah mau merantau ke kota atau ke daerah lainnya. Para pembaca penasaran mengapa orang tersebut tidak pernah tergiur dengan kehidupan kota yang glamor. Sedangkan informasi tentang kehidupan kota pasti sangat sering dijumpai oleh orang tersebut karena saat ini kehidupan di desa tidak seperti dulu, saat ini di desa informasi lebih mudah didapatkan oleh warga desa. Dari sini dapat diketahui bahwa sesuatu yang dialami oleh orang lain dan tidak dialami oleh diri sendiri menarik untuk diketahui jalan ceritanya. Oleh karena itu menuliskan pengalaman sendiri merupakan hal menarik bagi orang lain untuk membacanya. Jadi jangan takut tidak ada yang membaca jika kita menuliskan pengalaman sendiri dan menerbitkan dalam bentuk buku atau jenis terbitan lainnya.

Seperti telah disebutkan di atas bahwa menuliskan pengalaman sendiri adalah kegiatan menulis yang mudah semudah membuat telur ceplok. Hal ini karena menuliskan pengalaman tidak memerlukan proses pendahuluan yang rumit sebelumnya. Menuliskan pengalaman akan mengalir begitu saja karena semuanya sudah ada di dalam otak penulisnya. Jari-jari penulis akan dengan lincah menari-nari di atas keyboard laptop atau computer sampai semua pengalaman tercurah habis berubah menjadi tulisan yang utuh. Berbeda jauh dengan menulis jenis karya non fiksi lain atau fiksi yang memerlukan proses pendahulan seperti studi literature, melakukan observasi, wawancara, melakukan eksperimen dan lain sebagainya, sedangkan menuliskan pengalaman tanpa melalui proses yang telah disebutkan tadi sehingga bisa dikatakan bahwa menulis pengalaman termasuk menulis non fiksi yang paling mudah.

Pengalaman yang dialami seseorang tentu berbeda-beda dan terus berubah sepanjang hidupnya. Pengalaman hidup seseorang yang dituliskan dari lahir sampai meninggal atau saat dituliskannya pengalaman orang tersebut disebut biografi (jika dituliskan oleh orang lain, jika dituliskan oleh diri sendiri disebut otobiografi). Menuliskan biografi atau otobiografi tentu memerlukan persiapan dan proses yang panjang sehingga menuliskan biografi atau otobiografi tidak semudah membuat telur ceplok. Yang semudah membuat telur ceplok adalah menuliskan pengalaman-pengalaman tertentu dalam kehidupan kita, contohnya menuliskan pengalaman selama bekerja di Korea Selatan bagi yang pernah bekerja di Korea Selatan, berwisata ke Raja Ampat, dan sebagainya. Menuliskan pengalaman tertentu dalam hidup tentu tidak akan terlalu panjang jika dibandingkan dengan menulis biografi/otobiografi. Menuliskan pengalaman tertentu bisa disesuaikan panjngnya sesuai kebutuhan. Tetapi ada yang harus diperhatikan kalau menuliskan pengalaman yaitu tidak mungkin semua yang terjadi diceritakan secara detail karena akan sangat panjang tulisan kita, dan ada hal-hal tertentu yang dialami yang tidak boleh dituliskan karena alasan melanggar norma susila dan lain sebagainya.

Walaupun menuliskan pengalaman lebih mudah jika dibandingkan dengan menulis hal lain, menulis pengalaman tetap memerlukan persiapan sebelumnya tetapi persiapan ini tidaklah rumit. Adapun proses penulisan pengalaman dari persiapan sampai akhir adalah di bawah ini.

1.     menentukan pengalaman apa yang mau ditulis

Seperti telah disebutkan sebelumnya sepanjang hidupnya seseorang memiliki banyak ragam pengalaman. Orang yang mau menuliskan pengalaman harus menentukan satu jenis saja pengalamannya yang akan ditulis. Pengalaman tersebut harus dipilih yang sekiranya paling menarik atau menginspirasi orang lain yang membacanya. Jika sudah menentuka satu jenis pengalaman langkah selanjutnya adalah menentukan waktu dan banyaknya tulisan,

2.     Tentukan bagian-bagian (fase) dari pengalaman

Langkah selanjutnya setelah menentukan suatu pengalaman untuk ditulis adalah membagi pengalaman tersebut ke dalam beberapa fase. Contohnya ketika kita akan menuliskan pengalaman kita dalam menempuh pendidikan, maka penglaman tersebut bisa dibagi menjadi beberapa fase yaitu: fase sekolah PAUD/TK, SD. SMP, SMA, S-1, S-2, dan S-3. Pembagian pengalaman menjadi beberapa fase ini memudahkan penulis dalam memfokuskan tulisan. Penulis akan focus untuk menuliskan cerita dalam setiap fase dengan jelas dan utuh. Sehingga pada akhirnya akan dihasilkan tulisan berupa cerita pengalaman yang jelas dan utuh.

3.     Tentukan waktu dan panjang tulisan

Waktu penulisan pengalaman perlu untuk ditentukan karena menulis merupakan kegiatan yang harus selesai dengan tenggat waktu yang pasti. Jadi tidaklah tepat jika karena hanya menuliskan pengalaman kita menulis tanpa menentukan target penyelesaian. Tetapi tentu saja target ini harus realistis dan tanpa keterpaksaan. Waktu menuliskan pengalaman misalnya satu minggu, dua minggu, satu bulan, dan sebagainya. Selain itu panjang tulisan pun harus ditentukan, dan ini berkaitan dengan ukuran kertas dimana pengalaman kita dituliskan. Pengalaman yang diceritakan lebih detail tentu akan membuat tulisan lebih panjang. Panjang tulisan dan waktu penulisan berkaitan erat. Tulisan yang panjang memerlukan waktu yang lebih lama dalam penulisannya, sehingga ketika kita menentukan waktu penulisan harus disesuaikan dengan rencana panjang tulisan yang akan ditulis.

4.     Menuliskan pengalaman

Menuliskan pengalaman merupakan proses mencurahkan semua hal yang dialami ke dalam bentuk tulisan. Jika biasanya kita menceritakan pengalaman kita kepada orang lain diungkap dengan media lisan maka menuliskan pengalaman adalah bercerita tentang pengalaman kepada orang lain dengan media tulisan. Jika persiapan menuliskan pengalaman yang telah disebutkan di atas dilakukan sebelumnya maka prosen menulis pengalaman menjadi lebih mudah dan terarah.

5.     Tentukan jenis penerbitan tulisan

Tulisan dari pengalaman dapat dicetak dan diterbitkan dalam berbagai media seperti dalam bentuk buku solo, buku antologi, surat kabar, majalah, blog pribadi, blog umum, dan sebagainya. Jika tulisan mau  dibukukan kita harus menghubungi dan bekerja sama dengan perusahaan percetakan buku. Langkah pertama tentukan dulu percetakan buku yang akan diajak bekerjasama dalam mencetak buku, setelah itu menghubungi percetakan tersebut. Langkah selanjutnya memenuhi persyaratan mencetak buku yang diminta oleh percetakan. Setelah semua syarat terpenuhi kita tinggal menunggu buku kita terbit. Dalam masa menunggu ini kita jangan pasif tetapi harus selalu memonitor progref proses penerbitan buku dengan secara berkala bertanya kepada percetakan tersebut.

6.     Publikasi tulisan

Setelah tulisan kita terbit dalam sebuah buku, koran, majalah, blog, atau media terbit lainnya langkah kita selanjutnya adalah mempromosikan tulisan pengalaman kita di media-media tersebut. Saat ini promosi buku dan sebagainya sangat mudah dilakukan. Kita bisa mempromosikannnya di media social dan blog yang kita miliki. Kita bisa mempromosikannya di Facebook, Twitter, Instagram, Youtube, Tiktok, blog pribadi, dan blog umum seperti kompasiana.com. Diharapkan jika kita mempromosikan buku atau jenis terbitan lainnya orang lain akan mengenal dan tertarik dengan buku atau jenis terbitan lainnya yang kita promosikan, sehingga pada akhirnya mereka mau membeli dan/atau membaca tulisan pengalaman kita itu.

Berdasarkan paparan di atas dapat disimpulkan bahwa menulis yang paling mudah adalah menuliskan pengalaman yang kita miliki. Langkah-langkah yang harus dilakukan adalah (1) menentukan pengalaman apa yang mau ditulis; (2) membagi pengalaman yang mau ditulis ke dalam beberapa fase yang sesuai; (3) tentukan lama dan panjang tulisan; (4) menuliskan pengalaman; (5) menentukan jenis penerbitan ( buku, Koran, majalah, dll.); dan (6) publikasi tulisan pengalaman.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ini Takdir

Disclaimer:  Tulisan ini bukan untuk menggurui tetapi hanya sekedar berbagi pengalaman dan pemahaman mengenai esesnsi dari takdir. Saya pun ...