Senin, 30 Maret 2026

Ini Takdir

Disclaimer:  Tulisan ini bukan untuk menggurui tetapi hanya sekedar berbagi pengalaman dan pemahaman mengenai esesnsi dari takdir. Saya pun bukan ulama ataupun cendekiawan sehingga tidak akan mengutip langsung ayat Al-Quran maupun Al-Hadist.

Konon pembahasan mengenai takdir adalah salah satu pembahasan yang rumit untuk dipahami oleh orang islam karena para muslimin belum menemukan titik temu antara Allah yang Maha Berkehendak, Allah Yang Maha Penyayang, dan Allah Yang Maha Adil. 

Salah satu bukti masalah takdir 

Jumat, 21 Juli 2023

Tugas Koneksi Antar Materi Modul 1.4



Tema pembelajaran pada modul 1.4 adalah budaya positif, dimana materi budaya posistif ini terdiri dari beberapa materi di dalamnya yaitu:

1.    disiplin positif dan kebajikan universal

2.     teori motivasi, hukuman dan penghargaan, restitusi

3.     keyakinan kelas

4.     kebutuhan dasar manusia dan dunia berkualitas

5.     lima posisi control

6.     segitiga restitusi.

 

Saya mempelajari modul ini membutuhkan waktu sekitar 2 minggu. Selama belajar saya merasa bersemangat, tercerahkan, sekaligus tersadarkan tentang bagaimana caranya menciptakan budaya positif di sekolah. Berikut adalah pencerahan dan kesadaran yang saya peroleh setelah mempelajari modul 1.4 ini.

1.     Definisi disiplin yang sebenarnya

Dulu saya mengira bahwa orang yang disiplin itu adalah orang yang menaati peraturan apapun motivasinya apakah karena takut hukuman atau ingin mendapatkan hadiah atau imbalan. Setelah mempelajari modul ini saya mengetahui bahwa disiplin yang seperti itu bukanlah disiplin yang positif tetapi displin yang negative. Yang paling baik adalah orang atau murid di sekolah berdisiplin itu bukan karena takut dihukum atau ingin mendapat hadiah tetapi karena keyakinan atau nilai-nilai yang dianutnya (motivasi instrinsik), disipilin seperti inilah yang disebut disiplin positif. Oleh karena itu saya bertekad untuk menerapkan disiplin positif ini di sekolah.

2.     Teori motivasi, hukuman dan penghargaan, dan restitusi

Ternyata setiap perilaku dilakukan karena ada motivasi di dalamnya walaupun perilaku tersebut tidak disukai. Hukuman dan penghargaan hanya membuat orang atau murid menaati peraturan hanya sesaat saja seiring berjalan waktu murid bisa kembali melakukan pelanggaran. Restitusi adala istilah baru yang saya kenal, ternyata restitusi adalah usaha guru untuk mengembalikan siswa kepada kelompoknya, menyadari kesalahannya, mengetahui cara memperbaiki kesalahan, memiliki tekad untuk memperbaiki kesalahan, melaksanakan perbaikan kesalahan sehingga diterima kembali oleh teman-temannya. Yang akan saya lakukan ke depan adalah melakukan restitusi agar murid memiliki motivasi instrinsik dalam menaati peraturan sekolah.

3.     Keyakinan kelas

Ini adalah istilah baru yang saya kenal. Ternya ada hierarki peraturan untuk membuat siswa menaati peraturan yaitu (1) peraturan sekolah/kelas; (2) kesepakatan sekolah/kelas; dan (3) keyakinan sekolah/kelas. Keyakinan kelas merupakan level tertinggi dalam penanaman disiplin positif karena keyakinan kelas berasal dari nilai-nilai kebajikan universal yang diyakini oleh semua orang dan telah disepakati oleh semua anggota kelas. Setiap pelanggaran terhadap peraturan sekolah harus dikembalikan kepada keyakinan kelas ini. Ke depan saya akan membuat keyakinan kelas ini bersama-sama dengan murid, dan keyakinan yang telah disepakati ditandatangani dan dipajang di dinding kelas.

4.     Kebutuhan dasar manusia

Ternyata semua perilaku manusia diperuntukan agar kebutuhan dasar mereka bisa terpenuhi. Dunia berkualitas adalah bayangan keadaan diri dan lingkungan yang sesuai dengan keinginan diri sebagai akibat berbagai peristiwa yang telah dialami. Sebagai guru saya akan berusaha memenuhi semua kebutuhan dasar murid agar mereka dapat belajar dengan nyaman sehingga kodrat dirinya bisa berkembang optimal dan agar dunia berkualitas mereka terwujud.

5.     Lima posisi control guru

Saya baru mengetahui ternyata ada 5 posisi control guru terhadap murid. Sebelum belajar modul ini saya menyangka bahwa posisi control guru itu hanya sebagai penghukum dan pemberi penghargaan. Ternyata posisi kontrol guru terhadap siswa yang melanggar peraturan itu ada 5 yaitu sebagai penghukum, teman, pembuat rasa bersalah, pemantau, dan manajer. Dan posisi kontrol guru yang terbaik adalah sebagai manajer, dimana ketika sebagai manager, guru mengelola perilaku siswa agar mau mengubah perilaku yang melanggar peraturan menjadi menaati peraturan di sekolah. Selama ini saya sering berposisi sebagai pemberi hukuman dan teman bagi siswa, setelah mempelajari modul ini saya akan berubah memosisikan diri sebagai manajer terhadap murid yang melanggar peraturan agar mereka menaati peraturan atas kesadaran terhadap keyakinan kelas yang telah disepakati.

6.     Segitiga restitusi

Ini merupakan istilah yang baru saya ketahui. Dalam segitiga restitusi kita melakukan proses restitusi menggunakan 3 langkah yaitu menstabilkan identitas, validasi kesalahan, menanyakan keyakinan. Selama ini kalau ada siswa yang melanggar saya biasanya menasehati dengan cara: (1) menanyakan penyebab melakukan kesalahan; (2) menanyakan kesesuaian perbuatan siswa dengan peraturan; dan (3) meminta siswa untuk menaati peraturan untuk ke depannya. Oleh karena itu saya akan menerapkan segitiga restitusi ini kepada siswa yang melanggar aturan agar mereka menjadi taat peraturan karena kesadaran diri terhadap nilai-nilai, dalam hal ini keyakinan kelas yang telah disepakati.

 

Setelah mempelajari materi modul 1.4 ada beberapa pertanyan yang muncul di benak saya, pertanyaan tersebut yaitu sebagai berikut.

1.     Apakah hukuman tidak diperbolehkan sama sekali walaupun bersifat mendidik siswa.

Sebagai contoh siswa yang terlambat datang ke sekolah sehingga tidak mengikuti sebagian pembelajaran dihukum dengan mempelajari secara mandiri materi pelajaran di rumah dan dibuatkan ringkasan materi pelajarannya dan disetorkan kepada guru. Ternyata setelah mengikuti sesi Elaborasi Pemahaman bersama instruktur pertanyaan ini terjawab yaitu hukuman yang bersifat mendidik dan ada hubungannya dengan kesalahan murid bukan dinamakan hukuman tetapi dinamakan konsekuensi atas perbuatan salah yang dilakukan murid. Konsekuensi perbuatan yang salah sebagai akibat melanggar peraturan ini harus dikomunikasikan kepada murid agar mereka memahami konsekuansi perbuatannya dan ketika konsekuensi diberikan karena melanggar, mereka tidak merasa dizalimi tetapi akan memahaminya. Namun pemberian konsekuensi bisa dilakukan jika terlebih dahulu guru melakukan segitiga restitusi sehingga murid akan merasa dihargai, kebutuhan dasarnya terpenuhi dan menyadari nilai-nilai atau keyakinan kelas yang telah dilanggar.

2.     Apakah pemberian hadiah tidak boleh dilakukan sama sekali bagi murid yang paling berprestasi atau menaati peraturan?

Pertanyaan ini terjawab lagi dalam sesi Elaborasi pemahaman. Pemberian hadiah boleh dilakukan, hanya sebaiknya hadiah yang akan diberikan tidak diberitahukan sebelumnya kepada murid. Menurut instruktur yang paling tepat diberikan kepada siswa yang paling taat peraturan atau berprestasi adalah pemberiaan penghargaan. Pemberian penghargaan ini pun tidak mesti berupa barang bisa berupa ucapan selamat atau terima kasih, dan sejenisnya. Pemberian penghargaan pun sebaiknya jangan diberitahukan sebelumnya kepada murid.

3.     Apakah segitiga restitusi harus dilakukan terhadap semua kasus pelanggaran yang dilakukan murid?

Setelah berdiskusi dengan teman fasilitator dan mengikuti sesi Elaborasi Pemahaman dapat di temukan jawaban bahwa tidak semua kasus pelanggaran peraturan diselesaikan dengan segitiga restitusi. Kita boleh menggunakan sebagian dari 3 langkah segitiga restitusi jika dirasa cukup untuk menangani suatu pelanggaran. Biasanya kalau pelanggaran ringan dengan 2 langkah dari segitiga restitusi saja sudah cukup untuk membuat siswa memiliki kesadaran untuk tidak mengulangi lagi pelanggarannya. Untuk pelanggaran berat, memang segitiga restitusi perlu diterapkan dengan lengkap.

4.     Bagaimakan menerapkan budaya positif di sekolah saya?

Melalui refleksi dan penelaahan terhadap berbagai hal yang ada di sekolah, saya dapat menemukan jawaban yaitu sebagai berikut.

·    Lakukan dulu penciptaan budaya positif di kelas yang saya ampu dulu sampai terlihat hasilnya membudaya pada diri murid.

·    Lakukan penciptaan budaya positif kepada semua murid yang ada di sekolah dengan langkah pertama menghubungi kepala sekolah untuk memberitahukan, meminta izin dan dukungan terhadap rencana penciptaan budaya positif di sekolah. Langkah kedua adalah berbagi pengetahuan, pemahaman mengenai budaya positif sekaligus mengajak mereka menciptakan budaya positif kepada murid-murid di kelas yang mereka ampu. Dan langkah terakhir adalah melakukan gerakan penciptaan budaya positif bagi semua murid dengan melibatkan semua guru dan kepala sekolah.

 

Mempelajari materi budaya positif di modul 1.4 ini membuat saya kembali mengingat perjalanan saya selama menjadi guru. Harus saya akui bahwa selama ini saya kurang dalam penciptaan budaya positif di sekolah. Saya masih sering berposisi sebagai penghukum bagi murid yang melanggar peraturan sekolah. Posisi kontrol lain yang sering dilakukan adalah sebagi teman, pembuat rasa bersalah, dan pemantau. Untuk peran sebagai manajer hampir tidak pernah dilakukan karena memang belum ada keyakinan kelas.

 

Setelah mempelajari modul ini saya berjanji akan menerapkan pengetahuan yang diperoleh dari modul ini dengan menciptakan budaya positif di sekolah, dimana budaya positif memerlukan penerapan disiplin positif secara berkelanjutan di sekolah. Saya akan mengubah peran kontrol saya menjadi sebagai manajer, memenuhi kebutuhan dasar hidup peserta didik, membuat keyakinan kelas pada tahun ajaran baru, dan melakukan segitiga restitusi terhadap murid yang melanggar peraturan. Penciptaan budaya positif yang akan saya lakukan berdasarkan pada materi modul-modul sebelumnya yaitu: materi pada filosfi pendidikan Indonesia-Ki Hajar Dewantara, diawali dengan menentukan visi penciptaan budaya positif, dan dalam pelaksanaaanya mengoptimalkan nilai-nilai dan peran saya sebagai guru penggerak.

 

Materi modul 1.4 ini masih terkait dengan materi pada modul-modul sebelumnya yaitu filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara, nilai dan peran guru penggerak, dan visi guru penggerak. Keterkaitan materi modul 1.4 dengan materi modul-modul sebelumnya adalah sebagai berikut.

1.     Filosofi Pendidikan Indonesia-Ki Hajar dewantara menjadi pondasi bagi terciptanya budaya positif di sekolah. Penciptaan budaya positif di sekolah memerlukan guru yang memiliki nilai-nilai dan berperan sebagai guru penggerak. Untuk mewujudkan budaya positif perlu dibuatkan dulu visi terciptanya budaya positif di sekolah sebagai gambaran kondisi masa depan siswa, dimana visi ini akan berusaha diwujudkan dengan gerakan perubahan berupa penciptaan budaya positif di sekolah

2.     Keterkaitan materi 1,4 dengan materi pada modul sebelumnya dapat digambarkan sebagai berikut.



Seorang CGP (Calon Guru Penggerak) harus menerapkan semua ilmu yang diperoleh selama Pendidikan Guru Penggerak (PGP) kepada murid dan rekan sejawat di sekolahnya. Oleh karena itu saya bertekad untuk menerapkan pengetahuan budaya positif ini kepada murid dan rekan sejawat di sekolah. Penciptaan budaya positif pasti akan menemukan berbagai kesulitan, tetapi berdasarkan pengalaman teman-teman CGP angkatan-angkatan sebelumnya yang telah menerapkan budaya positif, mereka berpesan agar dalam penerapan budaya positif seorang guru penggerak harus tetap optimis, bersemangat, ulet, konsisten, kerja keras, dan pantang menyerah. Dengan memiliki karakter tersebut semua kesulitan akan dapat diatasi. Semoga saja ketika saya melakukan aksi nyata di sekolah yaitu penciptaan budaya positif di sekolah saya dapat melaksanakannya dengan baik, memiliki karakter yang disebutkan di atas sehingga semua kesulitan dapat diatasi, aamiin.


Minggu, 23 April 2023

Idul Fitri Antara Sedih dan Gembira

 Hari Raya Idul Fitri hari ini memasuki hari yang kedua, sejatinya hari raya idul fitri hanya satu hari saja yaitu hari sabtu kemarin. Tetapi memang idul fitri itu istimewa

Jumat, 03 Februari 2023


 

Menulis semudah telor ceplok merupakan materi ke-12 Pelatihan Belajar Menulis PGRI Gelombang Ke- 27. Bertindak sebagai moderator adalah Bu Widya Setianingsih dan sebagai moderator adalah Bu Lilis Eka Herpianti Sutikno; seorang kepala sekolah SMP yang aktif dalam dunia literasi di NTT (Nusa Tenggara Timur).

Bertempat tinggal di kota Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur, Bu Lilis Sutikno aktif dalam menggerakan  orang-orang di sekitarnya untuk bergelut dalam dunia literasi. Beliau pun menggagas pemberantasan buta huruf di lingkungan tempat tinggalnya, sehingga saat ini di daerah tempat tinggalnya bias dikatakan terbebas dari buta huruf. Dalam dunia literasi beliau aktif berkecimpung dalam organisasi guru penulis yang disebut AGUPENA (Asosiasi Guru Pemulis Indonesia), dan sering menjadi Narasumber pada pelatihan menulis yang diselenggarakan oleh AGUPENA. Selama aktif dalam dunia literasi beliau telah menghasilkan buku solo sebanyak 4 buah dan buku antologi sebanyak 10 buah. Beliau pun pernah menjadi penulis di majalah yang diterbitkan oleh Kemdikbud. Selain aktif dalam dunia literasi secara langsung beliau pun saat ini aktif di belakang layar yaitu menjadi editor buku. Sampai saat ini telah puluhan yang telah sukses dieditori oleh beliau.

Pertemuan kali ini di awali dengan pemberian semangat dari Bu Lilis kepada semua peserta pelatihan. Bu Lilis menceritakan bahwa dulu ayam tepung goreng (fried chicken) tidak laku; sangat sedikit yang menyukai, mungkin karena tampilannya dan rasanya yang aneh tidak seperti masakan olahan ayam lainnya. Ketidaklakuan ayam tepung goreng ini tidak menyebabkan penjual pertamanya putus asa beliau tetap berdagang dan mencoba terus mengenalkannya kepada masyarakat. Akhirnya perjuangan pedagang tersebut berhasil karena ayam tepung gorengnya laku keras sehingga dia berhasil mendirikan banyak outlet ayam tepung goreng di negaranya. Saking lakunya ayam tepung goreng banyak yang meniru dan pedagang tersebut berdagang ayam tepung goreng, dan  bahkan dia berhasil membuat outlet di ratusan negara sampai saat ini. Narasumber melanjutkan bahwa jika buku yang ditulis oleh peserta saat ini jika belum banyak yang menyukai janganlah berputus asa tetapi hal tersebut harus menjadi pemacu agar bagaimana buku yang ditulis disukai oleh pembaca sehingga orang-orang mau membeli dan membaca buku yang kita tulis. Kejadian dan semangat yang dimiliki oleh pedagang ayam tepung goreng tersebut harus menjadi contoh bagi semua peserta pelatihan belajar menulis.

Menulis merupakan keterampilan berbahasa yang paling tinggi karean untuk bias menulis dengan baik seseorang harus menguasai dulu keterampilan berbahasa yang lainnya yaitu mendengarkan berbicara dan membaca. Tidaklah mengherankan kalau saat ini masih banyak orang yang belum bias menulis dengan baik karena mungkin masih belum menguasai dengan baik tiga keterampilan bahasa tadi.

Selain itu untuk bisa menghasilkan tulisan yang baik seorang penulis harus membuat persiapan yang matang sebelum menulis. Persiapan tersebut diantaranya adalah mengumpulkan bahan-bahan untuk ditulis sesuai tema tulisan yang telah ditentukan sebelumnya. Bahan-bahan tulisan bisa diperoleh dengan berbagai cara seperti bisa dengan cara membaca berbagai literature, melakukan pengamatan, bereksperimen, melakukan wawancara, dan sebagainya. Oleh karena itu unuk menghasilkan tulisan yang baik seorang penulis harus melewati proses yang bisa dikatakan tidak mudah.

Lalu, bagaimanakah caranya agar menulis itu mudah semudah membuat telur ceplok. Menurut Bu Lilis cara agar menulis mudah seperti membuat telur ceplok adalah menuliskan pengalaman diri sendiri. Tentu semua orang memiliki pengalaman dan pengalamannya tentu berbeda-beda. Mungkin kita berpikir apa istimewanya pengalaman diri sendiri ditulis? Apakah ada yang mau membaca pengalaman saya?

Ternyata pengalaman diri sendiri yang menurut penilaian sendiri adalah pengalaman yang biasa saja tetapi bagi orang lain pengalaman kita itu bisa sangat menarik dan bisa dijadikan pembelajaran. Sebagai contoh pengalaman  hidup yang kita sangka biasa saja adalah pengalaman hidup seseorang yang dari kecil hingga dewasa tetap tinggal di kampungnya tidak pernah sekalipun merantau ke kota atau daerah lain. Lalu orang ini menuliskan cerita hidupnya dari masa kanak-kanak hingga dewasa yang dihabiskan di kampong halamannya. Ternyata tulisannya banyak yang mau membacanya karena rasa penasaran pembaca mengapa orang tersebut tetap tinggal di desa tanpa pernah mau merantau ke kota atau ke daerah lainnya. Para pembaca penasaran mengapa orang tersebut tidak pernah tergiur dengan kehidupan kota yang glamor. Sedangkan informasi tentang kehidupan kota pasti sangat sering dijumpai oleh orang tersebut karena saat ini kehidupan di desa tidak seperti dulu, saat ini di desa informasi lebih mudah didapatkan oleh warga desa. Dari sini dapat diketahui bahwa sesuatu yang dialami oleh orang lain dan tidak dialami oleh diri sendiri menarik untuk diketahui jalan ceritanya. Oleh karena itu menuliskan pengalaman sendiri merupakan hal menarik bagi orang lain untuk membacanya. Jadi jangan takut tidak ada yang membaca jika kita menuliskan pengalaman sendiri dan menerbitkan dalam bentuk buku atau jenis terbitan lainnya.

Seperti telah disebutkan di atas bahwa menuliskan pengalaman sendiri adalah kegiatan menulis yang mudah semudah membuat telur ceplok. Hal ini karena menuliskan pengalaman tidak memerlukan proses pendahuluan yang rumit sebelumnya. Menuliskan pengalaman akan mengalir begitu saja karena semuanya sudah ada di dalam otak penulisnya. Jari-jari penulis akan dengan lincah menari-nari di atas keyboard laptop atau computer sampai semua pengalaman tercurah habis berubah menjadi tulisan yang utuh. Berbeda jauh dengan menulis jenis karya non fiksi lain atau fiksi yang memerlukan proses pendahulan seperti studi literature, melakukan observasi, wawancara, melakukan eksperimen dan lain sebagainya, sedangkan menuliskan pengalaman tanpa melalui proses yang telah disebutkan tadi sehingga bisa dikatakan bahwa menulis pengalaman termasuk menulis non fiksi yang paling mudah.

Pengalaman yang dialami seseorang tentu berbeda-beda dan terus berubah sepanjang hidupnya. Pengalaman hidup seseorang yang dituliskan dari lahir sampai meninggal atau saat dituliskannya pengalaman orang tersebut disebut biografi (jika dituliskan oleh orang lain, jika dituliskan oleh diri sendiri disebut otobiografi). Menuliskan biografi atau otobiografi tentu memerlukan persiapan dan proses yang panjang sehingga menuliskan biografi atau otobiografi tidak semudah membuat telur ceplok. Yang semudah membuat telur ceplok adalah menuliskan pengalaman-pengalaman tertentu dalam kehidupan kita, contohnya menuliskan pengalaman selama bekerja di Korea Selatan bagi yang pernah bekerja di Korea Selatan, berwisata ke Raja Ampat, dan sebagainya. Menuliskan pengalaman tertentu dalam hidup tentu tidak akan terlalu panjang jika dibandingkan dengan menulis biografi/otobiografi. Menuliskan pengalaman tertentu bisa disesuaikan panjngnya sesuai kebutuhan. Tetapi ada yang harus diperhatikan kalau menuliskan pengalaman yaitu tidak mungkin semua yang terjadi diceritakan secara detail karena akan sangat panjang tulisan kita, dan ada hal-hal tertentu yang dialami yang tidak boleh dituliskan karena alasan melanggar norma susila dan lain sebagainya.

Walaupun menuliskan pengalaman lebih mudah jika dibandingkan dengan menulis hal lain, menulis pengalaman tetap memerlukan persiapan sebelumnya tetapi persiapan ini tidaklah rumit. Adapun proses penulisan pengalaman dari persiapan sampai akhir adalah di bawah ini.

1.     menentukan pengalaman apa yang mau ditulis

Seperti telah disebutkan sebelumnya sepanjang hidupnya seseorang memiliki banyak ragam pengalaman. Orang yang mau menuliskan pengalaman harus menentukan satu jenis saja pengalamannya yang akan ditulis. Pengalaman tersebut harus dipilih yang sekiranya paling menarik atau menginspirasi orang lain yang membacanya. Jika sudah menentuka satu jenis pengalaman langkah selanjutnya adalah menentukan waktu dan banyaknya tulisan,

2.     Tentukan bagian-bagian (fase) dari pengalaman

Langkah selanjutnya setelah menentukan suatu pengalaman untuk ditulis adalah membagi pengalaman tersebut ke dalam beberapa fase. Contohnya ketika kita akan menuliskan pengalaman kita dalam menempuh pendidikan, maka penglaman tersebut bisa dibagi menjadi beberapa fase yaitu: fase sekolah PAUD/TK, SD. SMP, SMA, S-1, S-2, dan S-3. Pembagian pengalaman menjadi beberapa fase ini memudahkan penulis dalam memfokuskan tulisan. Penulis akan focus untuk menuliskan cerita dalam setiap fase dengan jelas dan utuh. Sehingga pada akhirnya akan dihasilkan tulisan berupa cerita pengalaman yang jelas dan utuh.

3.     Tentukan waktu dan panjang tulisan

Waktu penulisan pengalaman perlu untuk ditentukan karena menulis merupakan kegiatan yang harus selesai dengan tenggat waktu yang pasti. Jadi tidaklah tepat jika karena hanya menuliskan pengalaman kita menulis tanpa menentukan target penyelesaian. Tetapi tentu saja target ini harus realistis dan tanpa keterpaksaan. Waktu menuliskan pengalaman misalnya satu minggu, dua minggu, satu bulan, dan sebagainya. Selain itu panjang tulisan pun harus ditentukan, dan ini berkaitan dengan ukuran kertas dimana pengalaman kita dituliskan. Pengalaman yang diceritakan lebih detail tentu akan membuat tulisan lebih panjang. Panjang tulisan dan waktu penulisan berkaitan erat. Tulisan yang panjang memerlukan waktu yang lebih lama dalam penulisannya, sehingga ketika kita menentukan waktu penulisan harus disesuaikan dengan rencana panjang tulisan yang akan ditulis.

4.     Menuliskan pengalaman

Menuliskan pengalaman merupakan proses mencurahkan semua hal yang dialami ke dalam bentuk tulisan. Jika biasanya kita menceritakan pengalaman kita kepada orang lain diungkap dengan media lisan maka menuliskan pengalaman adalah bercerita tentang pengalaman kepada orang lain dengan media tulisan. Jika persiapan menuliskan pengalaman yang telah disebutkan di atas dilakukan sebelumnya maka prosen menulis pengalaman menjadi lebih mudah dan terarah.

5.     Tentukan jenis penerbitan tulisan

Tulisan dari pengalaman dapat dicetak dan diterbitkan dalam berbagai media seperti dalam bentuk buku solo, buku antologi, surat kabar, majalah, blog pribadi, blog umum, dan sebagainya. Jika tulisan mau  dibukukan kita harus menghubungi dan bekerja sama dengan perusahaan percetakan buku. Langkah pertama tentukan dulu percetakan buku yang akan diajak bekerjasama dalam mencetak buku, setelah itu menghubungi percetakan tersebut. Langkah selanjutnya memenuhi persyaratan mencetak buku yang diminta oleh percetakan. Setelah semua syarat terpenuhi kita tinggal menunggu buku kita terbit. Dalam masa menunggu ini kita jangan pasif tetapi harus selalu memonitor progref proses penerbitan buku dengan secara berkala bertanya kepada percetakan tersebut.

6.     Publikasi tulisan

Setelah tulisan kita terbit dalam sebuah buku, koran, majalah, blog, atau media terbit lainnya langkah kita selanjutnya adalah mempromosikan tulisan pengalaman kita di media-media tersebut. Saat ini promosi buku dan sebagainya sangat mudah dilakukan. Kita bisa mempromosikannnya di media social dan blog yang kita miliki. Kita bisa mempromosikannya di Facebook, Twitter, Instagram, Youtube, Tiktok, blog pribadi, dan blog umum seperti kompasiana.com. Diharapkan jika kita mempromosikan buku atau jenis terbitan lainnya orang lain akan mengenal dan tertarik dengan buku atau jenis terbitan lainnya yang kita promosikan, sehingga pada akhirnya mereka mau membeli dan/atau membaca tulisan pengalaman kita itu.

Berdasarkan paparan di atas dapat disimpulkan bahwa menulis yang paling mudah adalah menuliskan pengalaman yang kita miliki. Langkah-langkah yang harus dilakukan adalah (1) menentukan pengalaman apa yang mau ditulis; (2) membagi pengalaman yang mau ditulis ke dalam beberapa fase yang sesuai; (3) tentukan lama dan panjang tulisan; (4) menuliskan pengalaman; (5) menentukan jenis penerbitan ( buku, Koran, majalah, dll.); dan (6) publikasi tulisan pengalaman.


Mengelola Majalah Sekolah


 

Pelatihan Belajar Menulis PGRI Gelombang 27 memasuki materi yang ke-11. Materi ke-11 adalah mengelola majalah sekolah yang disampaikan oleh guru sekaligus praktisi majalah di sekolahnya yaitu Bu Widya Setianingsih, S.Ag. dan moderator adalah Bu Yandri Novita Sari. Pertemuan ke-11 ini dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 14 September 2022 mulai pukul 07.00-09.00 malam WIB melalui grup WhatsApp.

Pembahasan materi dimulai dengan memaparkan definisi majalah menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Menurut KBBI majalah adalah terbitan berkala yang isinya meliputi berbagai liputan jurnalistik, pandangan tentang topik aktual yang patut diketahui pembaca. Berdasarkan waktu penerbitannya, majalah dibedakan atas: majalah bulanan, tengah bulanan atau dua mingguan, mingguan, dan sebagainya. Berdasarkan isinya majalah dibedakan atas: majalah berita, anak-anak, wanita, remaja, olahraga, sastra, ilmu pengetahuan tertentu, religi dan sebagainya. Berdasarkan ruang lingkupnya majalah dibedakana atas majalah sekolah, , majalah perguruan tinggi, majalah perusahaan, majalah profesi, majalah organisasi, dan lain sebagainya,

Seperti telah disebutkan di atas majalah sekolah adalah majalah yang ruang lingkupnya adalah sekolah dan warga sekolah. Majalah sekolah ini hadir atas prakarsa warga sekolah dan ditujukan konsumennya adalah semua warga sekolah yaitu, kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, siswa, komite sekolah, dan orang tua/wali siswa. Majalah sekolah dimulai dari insiatif dari warga sekolah kemudian diusulkan kepada penanggungjawab sekolah yaitu kepala sekolah, kemudian kepala sekolah bermusyawarah dengan dewan guru dan tenaga kependidikan. Setelah semua setuju barulah majalah sekolah dibentuk atau didirikan. Adapun manfaat dari adanya majalah sekolah di suatu sekolah adalah (1) media informasi dari sekolah kepada semua warga sekolah; (2) media penghubung siswa dan orang tua/wali dengan pihak sekolah; (3) media ekspresi semua warga sekolah; (3) media penyebaran ilmu pengetahun dan teknologi; dan (4) media kebanggaan lembaga sekolah dan warga sekolah.

Secara lengkap langkah-langkah memulai/menerbitkan majalah sekolah adalah berikut di bawah ini.

1.     Menyatukan ide dan gagasan.

Pertama-tama kita harus mencari guru, tenaga kependidikan, dan siswa yang memiliki jiwa literasi dan organisasi. Carilah yang memiliki ide dan gagasan yang sama supaya mudah disatukan. Kemudian bentuklah susunan redaksi majalahnya. Susunan redaksi majalah ini harus diketahui dan disetujui oleh kepala sekolah sebagai penanggung jawab satuan pendidikan. Sebagai catatan, kita harus peka dalam mencari teman yang memiliki jiwa literasi, karena ini modal awal untuk membentuk crew majalah.

2.     Mengajukan Proposal.

Setelah memiliki dewan redaksi langkah selanjutnya adalah membuat proposal pembentukan majalah sekolah yang akan diajukan kepada kepala sekolah, komite sekolah, guru dan tenaga kependidikan lainnya untuk disetujui. Proposal yang dibuat meliputi latar belakang, tujuan, frekuensi terbit, sasaran konsumen, susunan redaksi, anggaran dana, penyandang dana, daftar isi majalah, dan sebagainya. Berdasarkan isi proposal ini akan diketahui berapa harga satu majalah dalam satu kali terbit untuk dijual kepada konsumen yaitu semua warga sekolah, komite dan orang tua/wali siswa. Untuk biaya penerbitan majalah bias menggunakan dana yang dimiliki oleh sekolah atau dari sponsor yang tidak mengikat. Setelah proposal ini disetujui langkah selanjutnya dewan redaksi adalah merancang majalah sekolah.

3.     Membuat rancangan majalah.

Kegiatan yang harus dilakukan oleh dewan redaksi dalam merancang majalah adalah:

a.     menentukan nama majalah

Nama majalah sebaiknya unik dan mudah diingat dan enak terdengar oleh telinga. Nama majalah bias singkatan atau akronim dari nama sekolah,  alamat sekolah, keunikan sekolah, dan lain-lain

b.     Menentukan cara memperoleh artikel dan siapa penulis artikelnya

Setiap artikel yang ditulis di majalah memerlukan orang tertentu yang ditugaskan untuk memperoleh informasi kemudina dituliskan menjadi artikel yang akan diterbitkan. Ketua dewan redaksi harus memberikan tugas yang jelas dan rinci kepada masing-masing anggota untuk memegang rubrik tertentu dari majalah sehingga semua memiliki tugas yang berbeda-beda tetapi dengan tujuan sama yaitu membangun majalah sekolah yang baik.

c.     Menentukan tampilan atau layout majalah sekolah

Seperti apakah tampilan majalah sekolah yang akan diterbitkan tentu tidak terlepas dari kepiawaian dewan redaksi yang akan menyusunnya. Tampilan majalah sekolah dimulai dari cover majalah dan tampilan setiap artikel atau rubrik majalah. Pembuatan tampilan ini harus diakukan oleh ahli yang pandai membuat layout majalah. Jika dewan redaksi tidak memiliki orang yang pandai membuat layout majalah maka dewan redaksi dapat memanfaatkan jasa tenaga ahli di luar dewan redaksi, dimana hasil desain layout majalah ini disetujui oleh semua dewan redaksi.

4.     Mencari rekanan pendukung/sponsor.

Menerbitkan majalah yang oplahnya sedikit mungkin masih bias didanai dari dana yang dimiliki oleh sekolah, tetapi kalau oplahnya banyak seperti ratusan majalah maka menerbitkan majalah memerlukan dana yang besar yang biasanya sulit kalau didanai oleh sekolah. Oleh karena itu perlu mencari dana dari sponsor yang tidak mengikat sekolah dan warga sekolah. Organisasi/sponsor yang mau membantu pendanaan biasanya adalah perusahaan atau sekolah swasta lanjutan sekolah dengan imbalan mereka bias beriklan di majalah sekolah atau di dalam sekolah. Hal ini tidak menjadi masalah selama iklan di majalah tidak mengganggu tampilan atau tujuan majalah, dan jika beriklan di dalam sekolah tidak mengganggu keindahan sekolah, dan  yang paling penting adalah adanya sponsor ini tidak mengikat sekolah dan warga sekolah. Jangan sampai adanya sponsor membuat sekolah dan warga sekolah tidak bebas melakukan sesuatu atau memilih sesuatu yang diinginkan.

5.     Mengajukan ISSN

ISSN adalah singkatan dari International Standard Serial Number, merupakan suatu nomor unik yang diberikan oleh lembaga yang berwenang yaitu kalau di Indonesia lembaga yang diberikan kewenangan memberikan ISSN adalah LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) atau sekarang namanya menjadi BRIN (Badan Riset dan Inovasi Indonesia). Fungsi ISSN adalah sebagai nomor identitas dari suatu terbitan berkala seperti majalah, tabloid, jurnal, dan surat kabar. Fungsi lain dari ISSN adalah pengakuan dari lembaga resmi sebagai terbitan berkala yang beredar sehingga ketika majalah sekolah telah memiliki ISSN membuat majalah tersebut telah diakui keberadaannya oleh lembaga internasional dan dalam negeri sehingga majalah tersebut dapat menjadi nilai tambah dalam pemialaian sekolah ketika akreditasi. Warga sekolah tentu sangat bangga ketika majalah sekolahnya telah ber-ISSN.

Saat ini ISSN diajukan bias secara daring melalui situs web yang dimiliki oleh BRIN. Adapun syarat pengajuan ISSN adalah: (1) surat pengajuan resmi; (2) halaman sampul majalah; (3) halaman daftar isi majalah; (4) halaman dewan redaksi majalah; (bukti pembayaran pengajuan; dan (5) dokumen lain yang diminta. Proses pengajuan ISSN memang memerlukan biaya tetapi tidak terlalu besar dan prosesnya tidak lama dari mengajukan sampai memperoleh ISSN biasanya kurang dari satu minggu saja.

6.     Menetukan ragam bahasa yang dipakai dalam majalah

Bahasa dalam majalah sekolah bisa disesuaikan dengan artikel atau rubric yang ada di majalah, tetapi secara umum bahasa dalam majalah sekolah sebaiknya tidak terlalu formal, kata-kata yang sedang tren pada saat ini bias dimasukkan sepanjang tidak kontra produktif dengan pendidikan. Apa tah lagi jika majalah sekolah di SLTA (SMA/SMK/MA) bahasa anak muda saat ini bisa dipakai pada bagian-bagian tertentu yang sesuai dan yang paling penting tidak kontra produktif dengan tujuan didirikannya majalah sekolah dan usaha pendidikan di sekolah.

7.     Selalu mencari tema yang sedang tren di masyarakat

Tema yang sedang trending dimasyarakat menjadi hal yang sangat baik untuk diangkat di majalah sekolah, karena hal ini tentu akan menjadi daya tarik konsumen untuk membaca. Dewan redaksi majalah sekolah harus selalu mengikuti perkembangan tren yang ada di masyarkat atau di para pembacanya, dimana sesuatu yang sedang tren akan diangkat dalam majalah sekolah. Majalah sekolah yang selalu mengikuti perkembangan tren di masyarakat atau di para pembacanya akan selalu ditunggu-tunggu oleh para pembacanya sehingga majalah sekolah yang kehilangan pembacanya bias dihindari.

8.     Menentukan percetakan

Majalah sekolah sebaiknya memang dicetak oleh mesin cetak yang miliki oleh sekolah tetapi karena harga mesin cetak sekolah cukup mahal sehingga sekolah tidak mampu membeli mesin cetak. Solusinya adalah sekolah bekerja sama dengan perusahaan percetakan untuk mencetak majalah. Biaya pencetakan tentu disepakati oleh kedua belah pihak. Biaya pencetakan ini menjadi contributor utama dalam penentuan harga majalah yang akan dijual kepada konsumen majalah sekolah. Harga majalah sekolah kepada konsumen bias dikurangi dengan subsidi dari dana yang dimiliki sekolah dan bantuan dari para sponsor.

9.     Selalu memupuk kekompakan tim

Tim di sini yang paling utama harus selalu kompak adalah dewan redaksi majalah sekolah yang berperan sebagai “produsen” majalah. Keberadaan dan kontinuitas majalah sekolah sangat tergantung dari keberadaan dan kekompakan dewan redaksi. Dewan redaksi yang selalu kompak akan menghasilkan majalah sekolah yang baik secara kualitas  tampilan dan konten majalah, dan juga majalah sekolah akan terus ada setiap waktu terbitnya tanpa tersendat sekali pun.

Narasumber memberikan contoh daftar isi dari majalah ada di sekolah nya. Daftar isi tersebut adalah di bawah ini.

1)Visi & Misi Sekolah : Visi dan misi sekolah masing-masing dituliskan di halaman ke-2 setelah cover majalah.

2) Salam Redaksi : Kata sapaan dari pemimpin dewan redaksi kepada pembaca, menyampaikan isi majalah secara singkat, tema majalah, kondisi teraktual saat itu.

3) Berita Sekolah : Kegiatan-kegiatan sekolah, misalnya peringatan PHBI-PHBN, KSN, KOSN, FLS2N, Class Meeting, Pramuka, Paskibra, PMR, dan sebagainya.

4) Profil Guru : Dimuat secara bergiliran mulai dari kasek, wakasek, guru, tenaga kependidikan (TU, Satpam, Laboran, Petugas Perpustakaan, Penjaga Sekolah).

5) Profil Siswa Berprestasi: Menampilkan siswa paling berprestasi pada saat itu dalam rentang penerbitan majalah

6) Karya Siswa : Menampilkan karya atau produk terbaik yang dihasilkan oleh siswa seperti,novel, puisi, cerpen, prakarya, foto hasil karya siswa, gambar dan sebagainya

7) Kegiatan Siswa: Kegiatan out class, ataupun inclass. Misalnya outbound, perkemahan pramuka, praktek di kelas, unjuk kerja, wide game, karya wisata dan sebagainya.

8) Kuiz berhadiah: Disesuaikan dengan jenjang kelas. Untuk SD TTS, tebak gambar, dan sebagainya dan sebaiknya kuiz ini berhadiah walaupun hadiahnya alakadarnya.

9) Prestasi Sekolah : menampilkan prestasi terbaru dari guru, siswa, dan sekolah.

10) Info dan pengumuman: Info ujian, libur dan sebagainya


Selasa, 10 Januari 2023

Kiat Menulis Cerita Fiksi


 

Materi ke-10 Pelatihan Belajar Menulis PGRI Gelombang Ke-27 adalah kiat-kiat menulis cerita fiksi. Materi ini disampaikan oleh Narasumber yaitu Pak Sudomo, S.Pd. dan sebagai Moderator adalah Pak Sigid Purwo Nugroho pada hari Senin, 12 September 2022 pukul 19.30 WIB.

Menurut Narasumber untuk dapat menulis cerita fiksi dengan baik seorang penulis harus memiliki bekal yang memadai. Bekal tersebut berupa motivasi, pengetahuan, dan kiat-kiat menulis cerita fiksi. Berikut adalah penjelasan bekal tersebut menurut Narasumber.

1.    Alasan mengapa harus menulis cerita fiksi

2.    Syarat-syarat menulis cerita fiksi

3.    Bentuk-bentuk cerita fiksi

4.    Unsur-unsur pembangun cerita fiksi

5.    Kiat menulis cerita fiksi

Sebuah kalimat motivasi dari Maya Angelou mengatakan bahwa "Tak ada penderitaan lebih berat daripada memendam cerita di dalam hati". Kalimat tersebut seperti memberikan pesan, supaya terhindar dari penderitaan, kita harus mengungkapkan cerita terpendam. Cerita itu bisa disampaikan melalui menulis. 

Berikut ini Alasan harus belajar menulis cerita fiksi

a.    Menjadi salah satu aspek yang dinilai dalam Asesmen Kompetensi Minimum (AKM). 

Menulis cerita fiksi ini menjadi bagian dari literasi teks fiksi. Hal ini bertujuan untuk mengetahui kompetensi yang dimiliki oleh siswa di bidang literasinya. 

b.    Salah satu cara menemukan passion dalam bidang kepenulisan. 

Melalui menulis fiksi, seseorang dapat mengetahui alternatif/bahan untuk tulisannya. Begitu pun dengan gayanya dalam menulis. 

c.     Salah satu upaya menyembunyikan dan menyembuhkan diri. 

Menulis fiksi juga bisa digunakan sebagai media dalam menyembunyikan dirinya dalam sebuah karya tulis berupa rekaan yang diambil dari kisah hidupnya. Kegiatan menulis fiksi ini dapat menjadi proses penyembuhan diri dari masalah yang sedang dialami. 

d.    Salah satu jalan mengeksplorasi kemampuan menulis. 

Kita dapat mengekspresikan diri kita melalui menulis fiksi. Melalui kegiatan ini pula, kita dapat mencoba segala hal terutama dalam meningkatkan kemampuan menulis. 

Adapun syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam menulis cerita fiksi yaitu:

a.    Komitmen dan Niat yang kuat

Dalam menulis cerita fiksi harus berusaha untuk mempelajari dan menyelesaikan sesuatu yang sudah dimulai. 

b.    Kemauan dan kemampuan riset

Riset/penelitian ini diperlukan dalam cerita fiksi, yaitu untuk mendukung alur cerita yang telah dibuat. Penelitian ini tidak harus serius, cukup mencari informasi yang terjadi di lapangan (literatur). 

c.     Banyak membaca cerita fiksi

Sebelum menulis cerita fiksi, melalui kegiatan membaca, kita dapat memperoleh gambaran teknik penulisan, gaya bahasa bahkan menambah kosakata. 

d.    Mempelajari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI)

Kegiatan ini dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan diri ketika swasunting setelah selesai menulis cerita fiksi. 

e.    Memahami dasar-dasar menulis cerita fiksi

Apabila kalian sudah memiliki dasar menulis yang kuat, akan memudahkan dalam membiasakan diri menulis cerita fiksi. 

f.      Menjaga konsistensi menulis

 Konsistensi yang dijaga akan membuat kalian menemukan gaya penulisan sendiri. 

Narasumber, Sudomo, S.Pt. menyampaikan dalam pemaparannya. Ada beberapa bentuk cerita fiksi yang bisa menjadi alternatif bentuk cerita fiksi yang kita buat yaitu sebagai berikut: 

a.    Fiksimini

Cerita fiksi yang terdiri dari beberapa kata yang menggambarkan satu cerita utuh. 

b.    Flash fiction

Dalam cerita fiksi ini jumlah kata ditentukan secara khusus,  misalnya 50 kata, 100 kata, dll. 

c.     Pentigraf

Cerita fiksi yang terdiri dari tiga paragraf

d.    Cerpen

Cerita fiksi yang terdiri dari <7500 kata

e.    Novelet

Jumlah kata dalam cerita fiksi ini mulai dari 7500 s.d. 17.500 kata

f.      Novela

Jumlah kata dalam cerita fiksi ini antara 17.500 s.d. 40.000 kata

g.    Novel

Cerita fiksi ini jumlah katanya lebih dari 40.000 kata

Setelah mengetahui bentuk cerita fiksi, kita dihadapkan pada cara menulis sebuah cerita fiksi. Namun sebelum menulis, kalian harus mengetahui unsur-unsur pembangun cerita fiksi berikut ini. 

a.    Tema (Ide Pokok Cerita)

Dalam menentukan tema, kalian harus menyesuaikan minat, kehidupan bahkan perasaan yang dialami penulis. 

b.    Premis

Ringkasan cerita dalam satu kalimat. Unsur-unsur premis yaitu: karakter, tujuan tokoh, rintangan/halangan dan resolusi. Ketika membuat premis, kalian bisa menuliskan masing-masing unsur premis, kemudian rangkailah menjadi sebuah kalimat utuh. 

c.     Alur/Plot

Rangkaian kejadian dalam cerita. Alur itu bisa maju, mundur, campuran, flashback dan atau kronologis. Unsur-unsur alur yaitu pengenalanpengenalan cerita, awak konflik, menuju konflik, konflik memuncak atau klimaks,  penyelesaian atau ending.

d.    Penokohan

Penjelasan tentang karakter dalam cerita. Macam-macam tokoh itu ada protagonis, antagonis dan tritagonis. 

e.    Latar/Setting

Penggambaran waktu, tempat dan suasana dalam cerita. 

f.      Sudut Pandang

Cara penulis menempatkan dirinya terhadap cerita yang dituliskan. 

Kalimat motivasi dari Neil Gaiman yang dikutip narasumber dalam pemaparannya berikut ini. 

"Kamu mendapatkan ide dari mengkhayal. Kamu mendapatkan ide dari rasa bosan. Kamu mendapatkan ide setiap saat. Perbedaan penulis dengan orang biasa sadar saat kita melakukannya."

Pak Sudomo pun menyampaikan salah satu alasan asyiknya menulis fiksi yaitu tidak menghambat imajinasi. Imajinasi tidak terbatas. (Sependapat dengan sang moderator, Pak Sigid) 

Di sesi Ruang Kolaborasi, saya dan teman-teman peserta pelatihan menulis diminta oleh narasumber untuk melanjutkan kalimat pembuka berikut ini. 

---

"Aku tidak mau!"

Terdengar suara memecah gelapnya malam. Sesaat setelahnya menghilang. Hanya angin memenuhi pekat malam. Sepertinya aku mengenali suara itu. Itu adalah suara kakakku yang terlihat pergi meninggalkan Ayah dan Ibu di ruang keluarga. Ternyata kakak menolak untuk dijodohkan. Dia tidak ingin menikah dengan orang yang tidak dia sukai. Dia telah memiliki laki-laki pilihannya tanpa diketahui oleh orangtua kami. Tapi dia takut untuk mengungkapkan jati diri orang yang disukainya itu. Karena laki-laki itu berasal dari keluarga terpandang. 

 ---

Wah, mantap sekali memikirkan kelanjutannya. Tulisan diatas yang digarisbawahi adalah kelanjutan cerita yang saya buat. Tentu saja kita bebas melanjutkan cerita yang dibuat oleh narasumber (tulisan di atas yang dicetak tebal dan miring) sesuai dengan imajinasi kita masing-masing, seperti yang telah diungkapkan diatas bahwa menulis fiksi adalah menuliskan apa saja keinginan kita sesuai imajinasi yang kita miliki.

Narasumber hebat malam ini, merangkum proses kreatif menulis berikut ini. 

1. Niat

2. Baca

3. Ide dan Genre

4. Outline

5. Menulis

6. Swasunting

7. Publikasi

Idealnya semua proses itu harus dialami. Tapi tergantung kenyamanan setiap penulis. Kalau sudah ada ide, langsung saja tuliskan. Apabila kesulitan meneruskan, cari referensi tambahan. 

Semua materi yang disampaikan saling terhubung satu sama lain. Dimulai dari alasan pentingnya menulis cerita fiksi, syarat, bentuk cerita fiksi, unsur pembangun sampai proses kreatif menulis. Jika kita dapat memahami materi tersebut. Insya Allah segala kendala pun bisa terlalui. Narasumber pun menegaskan pentingnya membuat outline atau kerangka agar tulisan lebih terarah. Begitu juga komitmen diri untuk menyelesaikan tulisan yang sedang ditulis. 

 

Ini Takdir

Disclaimer:  Tulisan ini bukan untuk menggurui tetapi hanya sekedar berbagi pengalaman dan pemahaman mengenai esesnsi dari takdir. Saya pun ...