Senin, 28 November 2022

Motivasi Menulis dan Menerbitkan Buku


 

Materi ke-9 pelatihan Belajar menulis PGRI Gelombang Ke-27 adalah “Menulis dan Menerbitkan Buku” yang disampaikan oleh Pak Dail Ma’ruf dan sebagai moderator adalah Pak Muliadi. Sebenarnya materi ke-9 ini akan disampaikan oleh Prof Ngainin Naim dengan materi “Menulis Itu Mudah”, tetapi karena beliau berhalangan hadir karena ada kegiatan yang tidak bisa ditunda, pelatihan dinarasumberi oleh Pak Dail dengan tema materi berbeda yang telah disebutkan tadi.

Menulis memerlukan motivasi sebagai pendorong seseorang untuk mau menulis, tanpa adanya motivasi kegiatan menulis tidak akan bisa dilakukan, bahkan bukan hanya menulis kegiatan apapun memerlukan motivasi sebagai pendorong agar kegiatan apapun bisa dilakukan. Menurut Pak Dail motivasi seseorang sehingga mau menulis ada beberapa macam seperti ingin terkenal, ingin menambah penghasilan, ingin meningkatkan karir/pangkat atau jabatan, ingin menyebarluaskan gagasan atau ilmu, ingin mempengaruhi orang lain, dan ingin kekal dikenal oleh orang banyak walaupun sudah meninggal. Karena sangat penting memiliki motivasi agar mau menulis maka seorang penulis harus tetap memiliki motivasi untuk menulis ini. Berikut adalah cara agar seseorang tetap memiliki motivasi untuk menulis.

1.      Tentukan Tujuan

Tanpa tujuan menulis akan menjadi kegiatan tanpa arah, ngawur, dan pasti berakhir dengan sia-sia. Tujuan ini menjadi titik yang dituju ketika kita menulis. Tujuan membuat kegiatan menulis menjadi terarah, focus menuju tujuan. Jadi tujuan ini sangat penting dimiliki orang yang menulis. Tujuan harus ditetapkan terlebih dahulu sebelum melakukan kegiatan menulis

2.      Selalu Ingat Tujuan

Dalam perjalanan menulis, kadang-kadang tujuan kita menulis sering terlupakan atau terdistorsi oleh berbagai hal seperti oleh kesibukan, pengaruh orang lain, atau pengaruh hal yang sedang trend atau viral. Kita harus bisa mengusahakan agar hal tersebut tidak membuat kita lupa tujuan menulis. Hal yang bisa dilakukan adalah dengan membuat semacam tulisan pengingat di tempat yang sering kita lihat seperti di buku catatan harian, tulisan tersebut bisa juga ditempel ditembok, atau membuat pengingat di handphone yang kita miliki.

3.      Mengetahui Manfaat Menulis dan Membaca

Menulis merupakan keterampilan membaca yang paling tinggi karena untuk bisa menulis seseorang perlu memiliki 3 keterampilan berbahasa yang lain yaitu menyimak, berbicara, dan membaca. Keterampilan berbahasa yang paling erat kaitannya dengan menulis adalah membaca. Untuk bisa menulis yang baik sesorang harus bisa membaca dengan baik pula. Membaca berguna untuk mendapatkan informasi atau pengetahuan sebagai bahan untuk ditulis. Tanpa membaca seseorang akan sulit menulis, kalaupun bisa menulis, tulisannya akan dangkal, tidak menarik, dan kurang bermakna. Menulis sangat besar manfaatnya, dengan menulis seseorang dapat dikenal oleh orang luas, mendapatkan keuntungan finansial, meningkatkan karir, mempengaruhi orang banyak, dan penyembuhan batin (self healing) melalui menulis ekspresif. Dengan mengetahui manfaat menulis ini orang akan tergerak untuk menulis.

4.      Kelola Waktu dengan Baik

Waktu yang dimiliki setiap orang sebenarnya sama yaitu sehari sama 24 jam; seminggu itu sama 7 hari, hanya bedanya berbeda-beda dalam pemanfaatan waktu. Ada orang yang pandai memanfaatkan waktu dan ada orang yang kurang atau tidak bisa memanfaatkan waktu dengan baik. Orang yang sukses adalah orang yang pandai memanfaatkan waktu dalam hidup untuk berbuat hal yang positif. Seorang penulis harus bisa memanfaatkan waktu dengan baik. Menulis bisa dilakukan setiap hari pada jam-jam tertentu atau kapan saja sesuai keinginan.

5.      Membaca Karya Tulis Orang Lain

Bagi penulis pemula membaca karya orang lain sangat diperlukan. Hal ini untuk dijadikan contoh atau sampel dalam membuat karya tulis. Dengan membaca buku-buku orang lain terutama karya dari penulis profesional kita akan mengetahui bagaimana penulis tersebut mencurahkan gagasannya ke dalam tulisan. Kita akan banyak belajar bagaimana seharusnya karya tulis dibuat, bagaimana penentuan tema dan topik, pemilihan diksi, penulisan kalimat dan paragraph, pemakaian tanda baca yang tepat, dan gaya tulisan penulis tersebut, dan sebagainya. Pengetahuan yang diperoleh setelah membaca banyak karya tulis ini menjadi bekal untuk kita menulis, sehingga ketika kita menulis tidak akan terlalu sulit. Hal ini berbeda jika kita tidak punya pengetahuan dalam menulis, tentu kita akan kesulitan dalam menulis.

6.      Cari Suasana yang Berbeda dalam Menulis

Keadaan yang sama atau monoton dalam suatu kegiatan bisa membuat hati merasa bosan atau jenuh. Hal ini tentu wajar saja; manusiawi, karena manusia pada dasarnya adalah makhluk yang dinamis; terus menginginkan sesuatu hal yang baru. Dalam menulis pun begitu, jika suasana atau tempat menulis tetap atau monoton akan membuat kegiatan menulis menjadi kegiatan yang membosankan. Suasana atau tempat yang monoton akan membuat penulis kehilangan semangat atau tidak bergairah dalam menulis. Oleh karena itu kita perlu segera mengubah suasana atau tempat dalam menulis jika suasana atau tempat tersebut sudah membosankan. Kita harus berpindah ke tempat baru yang diperkirakan bisa membuat kita nyaman dalam menulis. Kita juga bisa mengubah waktu kebiasaan dalam menulis, misalnya kita biasa menulis sebelum tidur, kita bisa mengubahnya ke waktu setelah bangun tidur, atau ke waktu kapan saja yang dirasa membuat nyaman dalam menulis.

7.      Gabung dalam Komunitas Penulis

Teman sangat berpengaruh terhadap perilaku seseorang. Hal ini karena dalam pertemanan terjadi kedekatan secara personal dan emosional. Kedekatan ini menimbulkan empati, simpati, dan bisa berlanjut menjadi duplikasi terhadap perilaku teman. Jika seseorang berteman dengan orang yang memiliki perilaku baik maka akan terbawa mengikuti perilaku baik. Sebaliknya kalau berteman dengan orang yang memiliki perilaku tidak baik atau negative maka akan terbawa mengikuti perilaku yang tidak baik tersebut. Oleh karena itu dengan bergabung dengan komunitas penulis maka seseorang akan menjadi penulis seperti teman-teman di komunitas penulis. Orang tersebut akan terpengaruh untuk menulis, semangat teman penulis akan menular kepada dirinya, ilmu pengetahuan tentang menulis pun akan mudah didapatkan dari teman komunitas, sehingga pada akhirnya dengan bergabung dengan komunitas penulis akan membuat seseorang yang tidak mau atau tidak memiliki hasrat sedikit pun untuk menulis atau tidak memiliki ilmu  dalam menulis akan menjadi penulis handal dan produktif.

8.      Carilah Wadah untuk Menulis

Wadah untuk menulis bisa dengan mengikuti penulisan buku antologi. Sebagai sebuah buku yang ditulis secara “keroyokan”, menulis buku antologi tidak sesulit menulis buku solo karena setiap penulis hanya perlu menulis beberapa lembar saja dari bagian buku. Jika sudah berhasil menulis buku anatologi kita akan terpicu untuk menulis buku hasil tulisan sendiri atau buku solo. Dengan mengikuti wadah menulis antologi kita akan terpacu untuk meningkatkan kualitas diri sebagai penulis sehingga kualitas dan kuantitas tulisan kita akan semakin baik dan berkembang.

9.      Perbanyak Bahan-Bahan Tulisan

Kegiatan menulis seperti kita melakukan suatu perjalanan. Dalam melakukan perjalanan kita membutuhkan perbekalan yang lengkap dan cukup agar perjalanan kita nyaman dan sampai ke tujuan. Semakin jauh perjalanan maka semakin banyak perbekalan yang harus kita siapkan dan dibawa dalam perjalanan tersebut. Begitu pun dalam aktivitas menulis kita harus menyiapkan bekal atau bahan-bahan tulisan secara lengkap agar aktivitas menulis kita lancar dan hasil tulisan kita berkualitas. Jika aktivitas menulis dilakukan tanpa menyiapkan bahan-bahan tulisan yang cukup maka kegiatan menulis akan banyak tersendat karena terkendala kebuntuan menulis sebagai akibat tidak memiliki ide untuk ditulis, kalaupun aktivitas menulis terus dipaksakan tentu tulisannya akan dangkal dan tidak utuh.

10.  Tantang Diri Sendiri Membuat Tulisan yang Berani

Bagi penulis yang telah memiliki pengalaman dalam menulis bisa menantang diri sendiri untuk meningkatkan kemampuan dalam menulis. Yang dimaksud dengan memiliki pengalaman di sini bukan berarti harus memiliki pengalaman menulis yang lama atau telah menjadi penulis yang handal tetapi pernah memiliki pengalaman menulis sebelumnya termasuk para penulis pemula. Sebagai contoh para penulis yang telah menulis buku antologi dapat menantang dirinya untuk menulis buku solo. Penulis yang telah menerbitkan buku di penerbit indie dapat menantang dirinya untuk menerbitkan buku di penerbit mayor. Tantangan ini berguna untuk meningkatkan kualitas diri agar menjadi penulis yang lebih handal di masa depan.

11.  Jangan Harapkan Pujian

Keikhlasan sangat diperlukan dalam melakukan suatu kegiatan. Ikhlas bukan berarti tanpa mengharapkan imbalan apapun karena tidak ada orang yang melakukan  sesuatu tanpa tujuan atau mengharapkan balasan apapun kecuali orang yang gila. Orang yang ikhlas adalah orang melakukan suatu kegiatan untuk mencapai tujuan dan demi mengharapkan suatu imbalan atau kebaikan yang pasti dan hakiki di masa depan. Bagi orang yang ikhlas ada tidaknya imbalan kebaikan misalnya berupa materi atau pujian dari orang tidak akan mempengaruhi kegiatan yang sedang dilakukan. Begitu pun bagi penulis, seorang penulis harus memiliki hati yang ikhlas dalam menulis. Seorang penulis harus focus pada mencapai tujuannya dalam menulis dan mengejar kebaikan-kebaikan yang bersifat pasti dan hakiki di masa depan sebagai akibat dari kebiasaan menulis. Ada tidak adanya imbalan misalnya berupa materi atau pujian yang diperoleh saat ini jangan mempengaruhi performa seorang penulis. Seorang penulis hanya focus mengejar tujuan dan imbalan kebaikan yang hakiki di masa depan.

12.  Jangan Terburu-Buru Menulis

Menulis merupakan suatu kegiatan yang memerlukan perencanaan dan persiapan yang matang agar kegiatan menulis berjalan lancar sesuai yang diinginkan. Dalam kegiatan menulis pun kita usah tergesa-gesa agar dapat mencurahkan semua ide secara utuh sehingga menghasilkan tulisan yang baik. Setelah menulis pun kita harus menelaah ulang tulisan kita untuk mencari kesalahan atau kekurangan dari tulisan kita untuk diperbaiki atau disempurnakan (proses editing). Oleh karena itu dalam menghasilkan tulisan yang baik perlu proses yang matang dan terukur, sehingga ketergesagesaan dalam menulis hanya akan menghasilkan tulisan yang kurang baik; baik dari segi isi, struktur, kebahasaan, diksi, dan lain sebagainya.

13.  Berpikir Positif tentang Tulisan

Ketika kita menulis hindarilah pikiran-pikiran yang negative seperti merasa pesimis tentang hasil tulisan, tulisan tidak ada yang membaca, tulisan akan ditertawakan oleh pembaca, tulisan tidak sesuai dengan kaidah penulisan yang baik dan benar. Yang harus dilakukan dalam aktivitas menulis apalagi penulis pemula ada menulis saja jangan menghiraukan perasaan-perasaan negative tersebut. Malah sebagai penulis kita harus menumbuhkan sikap optimis terhadap hasil tulisan. Kita harus optimis bahwa kita bisa menghasilkan tulisan yang baik dan menarik sehingga orang mau membaca tulisan kita.

14.  Jangan Maksakan Diri

Kegiatan menulis bukanlah kegiatan yang bersifat paksaan tetapi kegiatan yang harus dilakukan dengan kesadaran dan kerelaan hati. Jika menulis dilakukan karena keterpaksaan tentu hasilnya akan kurang optimal. Beda kalau menulis dilakukan karena kesadaran dan kerelaan hati tentu kegiatan menulis akan menjadi kegiatan yang menyenangkan sehingga hasil tulisan menjadi maksimal. Merasa terpaksa beda dengan memaksakan diri untuk menulis. Merasa terpaksa akan berakibat buruk terhadap hasil tulisan sedangkan memaksakan diri untuk menulis akan berakibat baik karena telah berhasil memerangi kemalasan untuk menulis.

15.  Jangan Bandingkan Diri dengan Orang Lain

Manusia itu unik karena tidak ada manusia yang sama persis dengan manusia lain walaupun saudara kembar. Jadi perbedaan adalah hal yang biasa dan harus ada karena Sang Pencipta Tuhan Yang Maha Esa menginginkannya. Oleh karena itu perbedaan tidak bisa dihindari dalam kehidupan. Dalam menulis kita sering terinspirasi dari tulisan orang lain ketika tulisan tersebut sangat baik ,menarik dan enak dibaca. Adalah wajar ketika setelah membaca tulisan tersebut kita ingin menghasilkan tulisan seperti tulisan tersebut, lalu kita meniru gaya tulisan tersebut dalam membuat karya tulis. Hal yang tidak wajar adalah ketika kita menginginkan hasil tulisan kita sama dengan tulisan orang lain siapapun orangnya, baik yang menginspirasi atau tidak karena walaupun bagaiamanapun hasil tulisan kita akan berbeda dengan hasil tulisan orang lain. Gaya tulisan kita pasti berbeda dengan gaya tulisan orang lain. Kita tidak mungkin bisa menyamai hasil tulisan orang lain bagaimanapun caranya. Jadi kita jangan membandingkan hasil tulisan orang lain dengan tulisan kita sendiri kecuali untuk mengambil pelajaran yaitu mengambil hal-hal baik dari tulisan orang lain untuk diterapkan dalam aktivitas diri sendiri dalam menulis.

16.  Perhatikan Kesehatan

Kesehatan adalah anugerah tuhan yang sangat berharga karena Kesehatan adalah sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan harga berapa pun. Kita mungkin mampu membeli fasilitas Kesehatan seperti dokter, obat-obatan, rumah sakit, tapi kita tidak bisa membeli Kesehatan. Oleh karena itu jangan sampai kegiatan apapun termasuk menulis merugikan atau menurunkan kualitas Kesehatan kita. Apalagi tujuan menulis itu salah satunya untuk meningkatkan kualitas diri penulisnya dimana Kesehatan salah satu bagian dari kualitas diri seseorang. Menulis bisa membuat kesehatan seseorang meningkat seperti pada kegiatan menulis ekspresif karena  penulis mencurahkan semua perasaan atau isi hati kedalam tulisan, dimana hal ini akan membuat perasaan lega karena telah tercurahkan ke dalam bentuk tulisan. Menulis harus dihentikan ketika membuat kesehatan menurun. Yang dimaksud dihentikan di sini adalah berhenti sementara menulis untuk mencari cara agar kegiatan menulis tidak merugikan kesehatan. Jika sudah menemukan cara yang tepat untuk menulis yang tidak merugikan Kesehatan, maka kita harus segera menulis kembali dengan menggunakan cara tersebut. Oleh karena itu marilah kita tetap menulis dengan tetap menjaga kesehatan.

Kamis, 03 November 2022

Digitalisasi Gerakan Literasi Sekolah

 


Materi ke-30 Pelatihan Belajar Menulis dimoderatori oleh Bu Lely Suryani, S.Pd.SD seorang guru dari Banjarnegara Jawa Tengah, dengan Narasumber adalah Pak Bambang Purwanto, S.Pd., Gr., seorang guru SMP dari Kota Bandung Jawa Barat. Pak Bambang Purwanto ini lebih dikenal dengan sebutan Mr. Bams; seorang guru dari sekolah yang telah menerapkan digitalisasi gerakan literasi di sekolahnya. Oleh karena itu pemaparan narasumber lebih didominasi oleh pengalaman beliau dalam menerapkan digitalisasi gerakan literasi di sekolahnya.

Dalam pemaparannya Mr. Bams menjelaskan bahwa Gerakan literasi ini direvitalisasi melalui regulasi yang dikeluarkan oleh Mendikbud berupa Permendikbud No. 23 tentang Penanaman Budi Pekerti di sekolah melalui gerakan literasi di sekolah pada tahun 2015. Dalam Permendikbud tersebut sekolah harus menumbuhkan kemampuan literasi siswa dengan melakukkan kegiatan membaca buku non pelajaran selama 15 menit sebelum pembelajaran dimulai setiap hari. Selain melakukan pembiasaan literasi seperti itu, satuan pendidikan atau sekolah dipersilakan untuk berkreasi/berinovasi dalam peningkatan kemampuan literasi siswa. SMP Taruna Bakti, yaitu sekolah Mr. Bams melakukan inovasi Gerakan literasi ini dengan melakukan kegiatan literasi yang berbeda-beda dalam setiap harinya dan kegiatan literasi siswa yang berupa menulis menggunakan media digital atau internet. Siswa menulis menggunakan platform google form yang tautannya dibagikan oleh guru, kemudian guru merekap hasil tulisan siswa di google form tersebut, hasil rekapannya diunggah  dilaman yang dimiliki oleh sekolah.

Adapun inovasi gerakan literasi yang dilakukan di sekolah Mr. Bams adalah siswa berliterasi selama 25 menit sebelum pembelajaran dimulai dari pukul 07.10-07.35 setiap hari. Berikut adalah rinciannya.

1.      Hari Senin

Siswa membaca kitab suci dan terjemahannya sesuai dengan agama yang dianutnya. Kegiatan membaca ini dilakukan di ruang kelas masing masing siswa. Bagi yang beragama islam sebelum membaca kitab suci (Al-Quran) dipersilahkan untuk wudlu dulu di tempat yang telah disediakan. Kitab suci dan terjemahannya di sediakan oleh sekolah sehingga siswa tidak perlu membawanya dari rumah masing-masing. Kegiatan membaca kitab suci dan terjemahannya ini disamping meningkatkan kemampuan literasi juga dapat meningkatkan sikap relijius pada diri siswa. Setelah 15 menit kegiatan membaca kitab suci dan terjemahannya selesai, dan siswa menuliskan laporan tentang apa yang dibaca dan kesan terhadap apa yang dibaca pada kitab suci dan terjemahannya di Google Form melalui gawai yang dimiliki oleh setiap siswa. Tautan Google Form ini telah diberikan sebelumnya di grup WhatsApp kelas masing-masing. Siswa diberikan waktu untuk menuliskan laporan ini selama 10 menit.

2.      Hari Selasa

Pada hari Selasa kegiatan literasi yang dilakukan adalah siswa Bersama-sama menonton video cerita dari Youtube. Video yang ditonton adalah video yang berkonten cerita fiksi atau nonfiksi yang dapat menambah khazanah pengetahuan siswa. Kegiatan menonton video di Youtube ini dilakukan bukan dengan menggunakan gawai yang dimiliki siswa tetapi menggunakan layar televisi besar yang disediakan di setiap kelas. Jadi dalam menonton video di Youtube ini siswa tidak bisa memilih video sesuka hati tetapi telah ditetapkan dan ditayangkan oleh sekolah melalui layar televisi besar tersebut. Setelah menonton video siswa dipersilahkan untuk menuliskan laporannya berupa ringkasan konten video ditonton, kesan terhadap konten video, pesan atau amanat yang ditemukan dalam video. Laporan ini ditulis sama seperti pada hari Senin yaitu pada Google Form yang tautannya telah dibagikan sebelumnya.

3.      Hari Rabu

Pada hari Rabu ini siswa dipersilahkan membaca buku sesuai keinginan mereka sendiri. Siswa bisa memperoleh buku yang diinginkan dengan meminjam ke perpustakaan atau membawa sendiri buku. Karena waktu membaca hanya 15 menit maka satu buku bisa dibaca untuk berhari-hari. Oleh karena itu jika setelah membaca buku selama 15 menit belum tamat maka bisa dilanjutkan membacanya untuk hari rabu depan. Untuk yang mau membaca buku dari perpustakan maka siswa tersebut harus meminjam buku minimal sehari sebelumnya karena tidak akan cukup waktu 15 menit untuk mencari-cari buku yang diinginkan kemudian membacanya. Setelah 15 menit membaca siswa dipersilahkan untuk menulis ringkasan konten yang baca, kesan terhadap konten bacaan, dan pesan atau kesan setelah membaca buku melalui Google Form.

4.      Hari Kamis

Siswa diajak oleh guru untuk menyimak cerita dalam Bahasa Sunda atau Bahasa Inggris di kelas masing-masing yang dibacakan oleh guru. Cerita dalam Bahasa Sunda dan Inggris diberikan secara selang-seling. Jika Kamis ini cerita dalam Bahasa Sunda maka kamis depan dalam Bahasa Inggris. Kegiatan ini selain untuk meningkatan kemapuan literasi siswa juga bertujuan untuk menanamkan kecintaan kepada budaya local dan untuk meningkatkan keterampilan berbahasa Sunda dan Bahasa Inggris. Setelah menyimak cerita siswa dipersilahkan menuliskan laporan kegiatan menyimaknya.

5.      Hari Jumat

SMP Taruna Bakti merupakan sekolah yang menerapkan sistem waktu pembelajaran selama 5 hari dalam satu pekan; mulai dari hari senin sampai Jumat. Pada hari jumat kegiatan literasi yang dilakukan adalah siswa mencurahkan semua perasaannya setelah mengalami bersekolah selama 4 hari dari Senin sampai kamis. Siswa dipersilahkan untuk menceritakan pengalamannya baik di rumah, di perjalan pulang atau pergi ke sekolah, dan selama belajar di sekolah. Siswa bukan hanya menceritakan pengalaman tetapi juga menceritakan perasaannya tentang hal-hal yang dialami tadi secara jujur. Menceritakan pengalaman dan perasaan tentang hal yang dialami ini tulis dalam Google Form melalui gawai masing masing siswa. Semua laporan kegiatan literasi siswa dari hari senin sampai Jumat ditulis dalam Google Form di gawai masing-masing siswa untuk kemudian direkap dan hasil rekapnya diunggah di laman sekolah oleh guru yang ditugaskan mengelola laman sekolah tersebut.

Selain melakukan aktivitas literasi harian seperti disebutkan di atas, siswa pun melakukan kegiatan literasi secara khusus dengan guru wali kelas atau mata pelajarannya. Mr. Bams sebagai guru di sekolah tersebut pun tak ketinggalan untuk melakukan inovasi Gerakan literasi kepada para anak didiknya.  

Inovasi yang dilakukan oleh Mr. Bams adalah meminta siswa melakukan refleksi setelah pembelajaran Bersama dengan Mr. Bams. Refleksi ini untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan diri siswa dan guru sendiri yaitu Mr. Bams. Dimana setelah siswa mengetahui kelebihan dirinya dalam belajar akan berusaha mempertahankan kelebihan yang telah dimiliki bahkan berusaha untuk meningkatkannya. Jika siswa mengetahui kekurangan diri dalam belajar, siswa akan berusaha untuk meningkatkannya dalam pembelajaran berikutnya.

Begitu juga dengan guru, jika menurut siswa guru memiliki kelebihan dalam mengajar maka guru akan berusaha untuk mempertahankan bahkan meningkatkannya. Jika dalam mengajar guru memiliki kekurangan maka guru akan berusaha maksimal untuk meningkatkan kualitas pengajarannya.

Refleksi siswa ditulis setiap selesai pembelajaran Bersama Mr. Bams pada google form menggunakan gawai yang dimiliki siswa. Waktu menulis refleksi adalah di luar jam pembelajaran; bisa waktu sebelum masuk sekolah, waktu istirahan, atau waktu setelah jam sekolah yaitu di rumah masing-masing. Refleksi siswa yang sudah terkumpul kemudian oleh Mr. Bams direkap dan rekapannya diunggah di blog pribadi yang dimiliki oleh Mr. Bams. Siswa bisa berkunjung kapan pun ke blog Mr. Bams untuk melihat hasil refleksi yang telah ditulis.

Mr. Bams memberikan poin 10 bagi siswa yang telah menulis satu refleksi. Banyaknya poin yang diperoleh siswa menjadi salah satu pertimbangan keberhasilan diri siswa dalam peningkatan kemampuan literasi dan keberhasilan guru dalam meningkatkan kemampuan literasi siswa.

Gerakan literasi di sekolah Mr. Bams ini perlu kita tiru agar siswa memiliki kemampuan literasi yang tinggi sebagai salah satu syarat pencapaian sumber daya manusia yang unggul. Tentu saja kita jangan meniru secara utuh tapi dimodifikasi atau diadaptasi agar sesuai dengan kondisi sekolah kita masing-masing. Kunci dari keberhasilan suatu program adalah bagaimana menyinergikan antara semua sumber daya yang dimiliki untuk mencapai tujuan program melalui kepemimpinan yang baik. Gerakan literasi akan berhasil jika kepala sekolah mampu menyinergikan semua sumber daya yang dimiliki sekolah untuk mencapai tujuan Gerakan literasi yang telah ditetapkan.

Ini Takdir

Disclaimer:  Tulisan ini bukan untuk menggurui tetapi hanya sekedar berbagi pengalaman dan pemahaman mengenai esesnsi dari takdir. Saya pun ...