Jumat, 21 Juli 2023

Tugas Koneksi Antar Materi Modul 1.4



Tema pembelajaran pada modul 1.4 adalah budaya positif, dimana materi budaya posistif ini terdiri dari beberapa materi di dalamnya yaitu:

1.    disiplin positif dan kebajikan universal

2.     teori motivasi, hukuman dan penghargaan, restitusi

3.     keyakinan kelas

4.     kebutuhan dasar manusia dan dunia berkualitas

5.     lima posisi control

6.     segitiga restitusi.

 

Saya mempelajari modul ini membutuhkan waktu sekitar 2 minggu. Selama belajar saya merasa bersemangat, tercerahkan, sekaligus tersadarkan tentang bagaimana caranya menciptakan budaya positif di sekolah. Berikut adalah pencerahan dan kesadaran yang saya peroleh setelah mempelajari modul 1.4 ini.

1.     Definisi disiplin yang sebenarnya

Dulu saya mengira bahwa orang yang disiplin itu adalah orang yang menaati peraturan apapun motivasinya apakah karena takut hukuman atau ingin mendapatkan hadiah atau imbalan. Setelah mempelajari modul ini saya mengetahui bahwa disiplin yang seperti itu bukanlah disiplin yang positif tetapi displin yang negative. Yang paling baik adalah orang atau murid di sekolah berdisiplin itu bukan karena takut dihukum atau ingin mendapat hadiah tetapi karena keyakinan atau nilai-nilai yang dianutnya (motivasi instrinsik), disipilin seperti inilah yang disebut disiplin positif. Oleh karena itu saya bertekad untuk menerapkan disiplin positif ini di sekolah.

2.     Teori motivasi, hukuman dan penghargaan, dan restitusi

Ternyata setiap perilaku dilakukan karena ada motivasi di dalamnya walaupun perilaku tersebut tidak disukai. Hukuman dan penghargaan hanya membuat orang atau murid menaati peraturan hanya sesaat saja seiring berjalan waktu murid bisa kembali melakukan pelanggaran. Restitusi adala istilah baru yang saya kenal, ternyata restitusi adalah usaha guru untuk mengembalikan siswa kepada kelompoknya, menyadari kesalahannya, mengetahui cara memperbaiki kesalahan, memiliki tekad untuk memperbaiki kesalahan, melaksanakan perbaikan kesalahan sehingga diterima kembali oleh teman-temannya. Yang akan saya lakukan ke depan adalah melakukan restitusi agar murid memiliki motivasi instrinsik dalam menaati peraturan sekolah.

3.     Keyakinan kelas

Ini adalah istilah baru yang saya kenal. Ternya ada hierarki peraturan untuk membuat siswa menaati peraturan yaitu (1) peraturan sekolah/kelas; (2) kesepakatan sekolah/kelas; dan (3) keyakinan sekolah/kelas. Keyakinan kelas merupakan level tertinggi dalam penanaman disiplin positif karena keyakinan kelas berasal dari nilai-nilai kebajikan universal yang diyakini oleh semua orang dan telah disepakati oleh semua anggota kelas. Setiap pelanggaran terhadap peraturan sekolah harus dikembalikan kepada keyakinan kelas ini. Ke depan saya akan membuat keyakinan kelas ini bersama-sama dengan murid, dan keyakinan yang telah disepakati ditandatangani dan dipajang di dinding kelas.

4.     Kebutuhan dasar manusia

Ternyata semua perilaku manusia diperuntukan agar kebutuhan dasar mereka bisa terpenuhi. Dunia berkualitas adalah bayangan keadaan diri dan lingkungan yang sesuai dengan keinginan diri sebagai akibat berbagai peristiwa yang telah dialami. Sebagai guru saya akan berusaha memenuhi semua kebutuhan dasar murid agar mereka dapat belajar dengan nyaman sehingga kodrat dirinya bisa berkembang optimal dan agar dunia berkualitas mereka terwujud.

5.     Lima posisi control guru

Saya baru mengetahui ternyata ada 5 posisi control guru terhadap murid. Sebelum belajar modul ini saya menyangka bahwa posisi control guru itu hanya sebagai penghukum dan pemberi penghargaan. Ternyata posisi kontrol guru terhadap siswa yang melanggar peraturan itu ada 5 yaitu sebagai penghukum, teman, pembuat rasa bersalah, pemantau, dan manajer. Dan posisi kontrol guru yang terbaik adalah sebagai manajer, dimana ketika sebagai manager, guru mengelola perilaku siswa agar mau mengubah perilaku yang melanggar peraturan menjadi menaati peraturan di sekolah. Selama ini saya sering berposisi sebagai pemberi hukuman dan teman bagi siswa, setelah mempelajari modul ini saya akan berubah memosisikan diri sebagai manajer terhadap murid yang melanggar peraturan agar mereka menaati peraturan atas kesadaran terhadap keyakinan kelas yang telah disepakati.

6.     Segitiga restitusi

Ini merupakan istilah yang baru saya ketahui. Dalam segitiga restitusi kita melakukan proses restitusi menggunakan 3 langkah yaitu menstabilkan identitas, validasi kesalahan, menanyakan keyakinan. Selama ini kalau ada siswa yang melanggar saya biasanya menasehati dengan cara: (1) menanyakan penyebab melakukan kesalahan; (2) menanyakan kesesuaian perbuatan siswa dengan peraturan; dan (3) meminta siswa untuk menaati peraturan untuk ke depannya. Oleh karena itu saya akan menerapkan segitiga restitusi ini kepada siswa yang melanggar aturan agar mereka menjadi taat peraturan karena kesadaran diri terhadap nilai-nilai, dalam hal ini keyakinan kelas yang telah disepakati.

 

Setelah mempelajari materi modul 1.4 ada beberapa pertanyan yang muncul di benak saya, pertanyaan tersebut yaitu sebagai berikut.

1.     Apakah hukuman tidak diperbolehkan sama sekali walaupun bersifat mendidik siswa.

Sebagai contoh siswa yang terlambat datang ke sekolah sehingga tidak mengikuti sebagian pembelajaran dihukum dengan mempelajari secara mandiri materi pelajaran di rumah dan dibuatkan ringkasan materi pelajarannya dan disetorkan kepada guru. Ternyata setelah mengikuti sesi Elaborasi Pemahaman bersama instruktur pertanyaan ini terjawab yaitu hukuman yang bersifat mendidik dan ada hubungannya dengan kesalahan murid bukan dinamakan hukuman tetapi dinamakan konsekuensi atas perbuatan salah yang dilakukan murid. Konsekuensi perbuatan yang salah sebagai akibat melanggar peraturan ini harus dikomunikasikan kepada murid agar mereka memahami konsekuansi perbuatannya dan ketika konsekuensi diberikan karena melanggar, mereka tidak merasa dizalimi tetapi akan memahaminya. Namun pemberian konsekuensi bisa dilakukan jika terlebih dahulu guru melakukan segitiga restitusi sehingga murid akan merasa dihargai, kebutuhan dasarnya terpenuhi dan menyadari nilai-nilai atau keyakinan kelas yang telah dilanggar.

2.     Apakah pemberian hadiah tidak boleh dilakukan sama sekali bagi murid yang paling berprestasi atau menaati peraturan?

Pertanyaan ini terjawab lagi dalam sesi Elaborasi pemahaman. Pemberian hadiah boleh dilakukan, hanya sebaiknya hadiah yang akan diberikan tidak diberitahukan sebelumnya kepada murid. Menurut instruktur yang paling tepat diberikan kepada siswa yang paling taat peraturan atau berprestasi adalah pemberiaan penghargaan. Pemberian penghargaan ini pun tidak mesti berupa barang bisa berupa ucapan selamat atau terima kasih, dan sejenisnya. Pemberian penghargaan pun sebaiknya jangan diberitahukan sebelumnya kepada murid.

3.     Apakah segitiga restitusi harus dilakukan terhadap semua kasus pelanggaran yang dilakukan murid?

Setelah berdiskusi dengan teman fasilitator dan mengikuti sesi Elaborasi Pemahaman dapat di temukan jawaban bahwa tidak semua kasus pelanggaran peraturan diselesaikan dengan segitiga restitusi. Kita boleh menggunakan sebagian dari 3 langkah segitiga restitusi jika dirasa cukup untuk menangani suatu pelanggaran. Biasanya kalau pelanggaran ringan dengan 2 langkah dari segitiga restitusi saja sudah cukup untuk membuat siswa memiliki kesadaran untuk tidak mengulangi lagi pelanggarannya. Untuk pelanggaran berat, memang segitiga restitusi perlu diterapkan dengan lengkap.

4.     Bagaimakan menerapkan budaya positif di sekolah saya?

Melalui refleksi dan penelaahan terhadap berbagai hal yang ada di sekolah, saya dapat menemukan jawaban yaitu sebagai berikut.

·    Lakukan dulu penciptaan budaya positif di kelas yang saya ampu dulu sampai terlihat hasilnya membudaya pada diri murid.

·    Lakukan penciptaan budaya positif kepada semua murid yang ada di sekolah dengan langkah pertama menghubungi kepala sekolah untuk memberitahukan, meminta izin dan dukungan terhadap rencana penciptaan budaya positif di sekolah. Langkah kedua adalah berbagi pengetahuan, pemahaman mengenai budaya positif sekaligus mengajak mereka menciptakan budaya positif kepada murid-murid di kelas yang mereka ampu. Dan langkah terakhir adalah melakukan gerakan penciptaan budaya positif bagi semua murid dengan melibatkan semua guru dan kepala sekolah.

 

Mempelajari materi budaya positif di modul 1.4 ini membuat saya kembali mengingat perjalanan saya selama menjadi guru. Harus saya akui bahwa selama ini saya kurang dalam penciptaan budaya positif di sekolah. Saya masih sering berposisi sebagai penghukum bagi murid yang melanggar peraturan sekolah. Posisi kontrol lain yang sering dilakukan adalah sebagi teman, pembuat rasa bersalah, dan pemantau. Untuk peran sebagai manajer hampir tidak pernah dilakukan karena memang belum ada keyakinan kelas.

 

Setelah mempelajari modul ini saya berjanji akan menerapkan pengetahuan yang diperoleh dari modul ini dengan menciptakan budaya positif di sekolah, dimana budaya positif memerlukan penerapan disiplin positif secara berkelanjutan di sekolah. Saya akan mengubah peran kontrol saya menjadi sebagai manajer, memenuhi kebutuhan dasar hidup peserta didik, membuat keyakinan kelas pada tahun ajaran baru, dan melakukan segitiga restitusi terhadap murid yang melanggar peraturan. Penciptaan budaya positif yang akan saya lakukan berdasarkan pada materi modul-modul sebelumnya yaitu: materi pada filosfi pendidikan Indonesia-Ki Hajar Dewantara, diawali dengan menentukan visi penciptaan budaya positif, dan dalam pelaksanaaanya mengoptimalkan nilai-nilai dan peran saya sebagai guru penggerak.

 

Materi modul 1.4 ini masih terkait dengan materi pada modul-modul sebelumnya yaitu filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara, nilai dan peran guru penggerak, dan visi guru penggerak. Keterkaitan materi modul 1.4 dengan materi modul-modul sebelumnya adalah sebagai berikut.

1.     Filosofi Pendidikan Indonesia-Ki Hajar dewantara menjadi pondasi bagi terciptanya budaya positif di sekolah. Penciptaan budaya positif di sekolah memerlukan guru yang memiliki nilai-nilai dan berperan sebagai guru penggerak. Untuk mewujudkan budaya positif perlu dibuatkan dulu visi terciptanya budaya positif di sekolah sebagai gambaran kondisi masa depan siswa, dimana visi ini akan berusaha diwujudkan dengan gerakan perubahan berupa penciptaan budaya positif di sekolah

2.     Keterkaitan materi 1,4 dengan materi pada modul sebelumnya dapat digambarkan sebagai berikut.



Seorang CGP (Calon Guru Penggerak) harus menerapkan semua ilmu yang diperoleh selama Pendidikan Guru Penggerak (PGP) kepada murid dan rekan sejawat di sekolahnya. Oleh karena itu saya bertekad untuk menerapkan pengetahuan budaya positif ini kepada murid dan rekan sejawat di sekolah. Penciptaan budaya positif pasti akan menemukan berbagai kesulitan, tetapi berdasarkan pengalaman teman-teman CGP angkatan-angkatan sebelumnya yang telah menerapkan budaya positif, mereka berpesan agar dalam penerapan budaya positif seorang guru penggerak harus tetap optimis, bersemangat, ulet, konsisten, kerja keras, dan pantang menyerah. Dengan memiliki karakter tersebut semua kesulitan akan dapat diatasi. Semoga saja ketika saya melakukan aksi nyata di sekolah yaitu penciptaan budaya positif di sekolah saya dapat melaksanakannya dengan baik, memiliki karakter yang disebutkan di atas sehingga semua kesulitan dapat diatasi, aamiin.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ini Takdir

Disclaimer:  Tulisan ini bukan untuk menggurui tetapi hanya sekedar berbagi pengalaman dan pemahaman mengenai esesnsi dari takdir. Saya pun ...