Kamis, 03 November 2022

Digitalisasi Gerakan Literasi Sekolah

 


Materi ke-30 Pelatihan Belajar Menulis dimoderatori oleh Bu Lely Suryani, S.Pd.SD seorang guru dari Banjarnegara Jawa Tengah, dengan Narasumber adalah Pak Bambang Purwanto, S.Pd., Gr., seorang guru SMP dari Kota Bandung Jawa Barat. Pak Bambang Purwanto ini lebih dikenal dengan sebutan Mr. Bams; seorang guru dari sekolah yang telah menerapkan digitalisasi gerakan literasi di sekolahnya. Oleh karena itu pemaparan narasumber lebih didominasi oleh pengalaman beliau dalam menerapkan digitalisasi gerakan literasi di sekolahnya.

Dalam pemaparannya Mr. Bams menjelaskan bahwa Gerakan literasi ini direvitalisasi melalui regulasi yang dikeluarkan oleh Mendikbud berupa Permendikbud No. 23 tentang Penanaman Budi Pekerti di sekolah melalui gerakan literasi di sekolah pada tahun 2015. Dalam Permendikbud tersebut sekolah harus menumbuhkan kemampuan literasi siswa dengan melakukkan kegiatan membaca buku non pelajaran selama 15 menit sebelum pembelajaran dimulai setiap hari. Selain melakukan pembiasaan literasi seperti itu, satuan pendidikan atau sekolah dipersilakan untuk berkreasi/berinovasi dalam peningkatan kemampuan literasi siswa. SMP Taruna Bakti, yaitu sekolah Mr. Bams melakukan inovasi Gerakan literasi ini dengan melakukan kegiatan literasi yang berbeda-beda dalam setiap harinya dan kegiatan literasi siswa yang berupa menulis menggunakan media digital atau internet. Siswa menulis menggunakan platform google form yang tautannya dibagikan oleh guru, kemudian guru merekap hasil tulisan siswa di google form tersebut, hasil rekapannya diunggah  dilaman yang dimiliki oleh sekolah.

Adapun inovasi gerakan literasi yang dilakukan di sekolah Mr. Bams adalah siswa berliterasi selama 25 menit sebelum pembelajaran dimulai dari pukul 07.10-07.35 setiap hari. Berikut adalah rinciannya.

1.      Hari Senin

Siswa membaca kitab suci dan terjemahannya sesuai dengan agama yang dianutnya. Kegiatan membaca ini dilakukan di ruang kelas masing masing siswa. Bagi yang beragama islam sebelum membaca kitab suci (Al-Quran) dipersilahkan untuk wudlu dulu di tempat yang telah disediakan. Kitab suci dan terjemahannya di sediakan oleh sekolah sehingga siswa tidak perlu membawanya dari rumah masing-masing. Kegiatan membaca kitab suci dan terjemahannya ini disamping meningkatkan kemampuan literasi juga dapat meningkatkan sikap relijius pada diri siswa. Setelah 15 menit kegiatan membaca kitab suci dan terjemahannya selesai, dan siswa menuliskan laporan tentang apa yang dibaca dan kesan terhadap apa yang dibaca pada kitab suci dan terjemahannya di Google Form melalui gawai yang dimiliki oleh setiap siswa. Tautan Google Form ini telah diberikan sebelumnya di grup WhatsApp kelas masing-masing. Siswa diberikan waktu untuk menuliskan laporan ini selama 10 menit.

2.      Hari Selasa

Pada hari Selasa kegiatan literasi yang dilakukan adalah siswa Bersama-sama menonton video cerita dari Youtube. Video yang ditonton adalah video yang berkonten cerita fiksi atau nonfiksi yang dapat menambah khazanah pengetahuan siswa. Kegiatan menonton video di Youtube ini dilakukan bukan dengan menggunakan gawai yang dimiliki siswa tetapi menggunakan layar televisi besar yang disediakan di setiap kelas. Jadi dalam menonton video di Youtube ini siswa tidak bisa memilih video sesuka hati tetapi telah ditetapkan dan ditayangkan oleh sekolah melalui layar televisi besar tersebut. Setelah menonton video siswa dipersilahkan untuk menuliskan laporannya berupa ringkasan konten video ditonton, kesan terhadap konten video, pesan atau amanat yang ditemukan dalam video. Laporan ini ditulis sama seperti pada hari Senin yaitu pada Google Form yang tautannya telah dibagikan sebelumnya.

3.      Hari Rabu

Pada hari Rabu ini siswa dipersilahkan membaca buku sesuai keinginan mereka sendiri. Siswa bisa memperoleh buku yang diinginkan dengan meminjam ke perpustakaan atau membawa sendiri buku. Karena waktu membaca hanya 15 menit maka satu buku bisa dibaca untuk berhari-hari. Oleh karena itu jika setelah membaca buku selama 15 menit belum tamat maka bisa dilanjutkan membacanya untuk hari rabu depan. Untuk yang mau membaca buku dari perpustakan maka siswa tersebut harus meminjam buku minimal sehari sebelumnya karena tidak akan cukup waktu 15 menit untuk mencari-cari buku yang diinginkan kemudian membacanya. Setelah 15 menit membaca siswa dipersilahkan untuk menulis ringkasan konten yang baca, kesan terhadap konten bacaan, dan pesan atau kesan setelah membaca buku melalui Google Form.

4.      Hari Kamis

Siswa diajak oleh guru untuk menyimak cerita dalam Bahasa Sunda atau Bahasa Inggris di kelas masing-masing yang dibacakan oleh guru. Cerita dalam Bahasa Sunda dan Inggris diberikan secara selang-seling. Jika Kamis ini cerita dalam Bahasa Sunda maka kamis depan dalam Bahasa Inggris. Kegiatan ini selain untuk meningkatan kemapuan literasi siswa juga bertujuan untuk menanamkan kecintaan kepada budaya local dan untuk meningkatkan keterampilan berbahasa Sunda dan Bahasa Inggris. Setelah menyimak cerita siswa dipersilahkan menuliskan laporan kegiatan menyimaknya.

5.      Hari Jumat

SMP Taruna Bakti merupakan sekolah yang menerapkan sistem waktu pembelajaran selama 5 hari dalam satu pekan; mulai dari hari senin sampai Jumat. Pada hari jumat kegiatan literasi yang dilakukan adalah siswa mencurahkan semua perasaannya setelah mengalami bersekolah selama 4 hari dari Senin sampai kamis. Siswa dipersilahkan untuk menceritakan pengalamannya baik di rumah, di perjalan pulang atau pergi ke sekolah, dan selama belajar di sekolah. Siswa bukan hanya menceritakan pengalaman tetapi juga menceritakan perasaannya tentang hal-hal yang dialami tadi secara jujur. Menceritakan pengalaman dan perasaan tentang hal yang dialami ini tulis dalam Google Form melalui gawai masing masing siswa. Semua laporan kegiatan literasi siswa dari hari senin sampai Jumat ditulis dalam Google Form di gawai masing-masing siswa untuk kemudian direkap dan hasil rekapnya diunggah di laman sekolah oleh guru yang ditugaskan mengelola laman sekolah tersebut.

Selain melakukan aktivitas literasi harian seperti disebutkan di atas, siswa pun melakukan kegiatan literasi secara khusus dengan guru wali kelas atau mata pelajarannya. Mr. Bams sebagai guru di sekolah tersebut pun tak ketinggalan untuk melakukan inovasi Gerakan literasi kepada para anak didiknya.  

Inovasi yang dilakukan oleh Mr. Bams adalah meminta siswa melakukan refleksi setelah pembelajaran Bersama dengan Mr. Bams. Refleksi ini untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan diri siswa dan guru sendiri yaitu Mr. Bams. Dimana setelah siswa mengetahui kelebihan dirinya dalam belajar akan berusaha mempertahankan kelebihan yang telah dimiliki bahkan berusaha untuk meningkatkannya. Jika siswa mengetahui kekurangan diri dalam belajar, siswa akan berusaha untuk meningkatkannya dalam pembelajaran berikutnya.

Begitu juga dengan guru, jika menurut siswa guru memiliki kelebihan dalam mengajar maka guru akan berusaha untuk mempertahankan bahkan meningkatkannya. Jika dalam mengajar guru memiliki kekurangan maka guru akan berusaha maksimal untuk meningkatkan kualitas pengajarannya.

Refleksi siswa ditulis setiap selesai pembelajaran Bersama Mr. Bams pada google form menggunakan gawai yang dimiliki siswa. Waktu menulis refleksi adalah di luar jam pembelajaran; bisa waktu sebelum masuk sekolah, waktu istirahan, atau waktu setelah jam sekolah yaitu di rumah masing-masing. Refleksi siswa yang sudah terkumpul kemudian oleh Mr. Bams direkap dan rekapannya diunggah di blog pribadi yang dimiliki oleh Mr. Bams. Siswa bisa berkunjung kapan pun ke blog Mr. Bams untuk melihat hasil refleksi yang telah ditulis.

Mr. Bams memberikan poin 10 bagi siswa yang telah menulis satu refleksi. Banyaknya poin yang diperoleh siswa menjadi salah satu pertimbangan keberhasilan diri siswa dalam peningkatan kemampuan literasi dan keberhasilan guru dalam meningkatkan kemampuan literasi siswa.

Gerakan literasi di sekolah Mr. Bams ini perlu kita tiru agar siswa memiliki kemampuan literasi yang tinggi sebagai salah satu syarat pencapaian sumber daya manusia yang unggul. Tentu saja kita jangan meniru secara utuh tapi dimodifikasi atau diadaptasi agar sesuai dengan kondisi sekolah kita masing-masing. Kunci dari keberhasilan suatu program adalah bagaimana menyinergikan antara semua sumber daya yang dimiliki untuk mencapai tujuan program melalui kepemimpinan yang baik. Gerakan literasi akan berhasil jika kepala sekolah mampu menyinergikan semua sumber daya yang dimiliki sekolah untuk mencapai tujuan Gerakan literasi yang telah ditetapkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ini Takdir

Disclaimer:  Tulisan ini bukan untuk menggurui tetapi hanya sekedar berbagi pengalaman dan pemahaman mengenai esesnsi dari takdir. Saya pun ...